Sakura

Sakura
Tiap kali melihatmu, hati ini sakit, sebenarnya. Teringat akan hal-hal lalu yang perih penuh rasa takut menghadapi apa yang akan terjadi di depan nanti. Lalu, Tuhan datang memeluk hati yang rapuh dan galau ini. Dia mengingatkanku bahwa perjalanan ini harus dilalui sampai akhir menutup mati. Lalu, aku teringat kata-kata Ibuku kalau kita hanya menunggu waktu. Waktu sampai batas limit berakhir.

Sakura
Kau mekar tahun ini agak berbeda dari tahun kemarin. Tahun ini kau lebih lambat mekar dibanding setahun yang lalu di hari yang sama. Dingin cuaca ini juga mengingatkanku akan kenangan lama. Percayalah, Tuhan-lah yang akhirnya akan menemanimu sampai akhir nanti. Dia yang memberi luka sekaligus penawar yang mengobati luka itu. Tuhan memberikan cobaan sekaligus kejutan indah yang akan selalu ada di hidup ini. Kalau benar hidup ini hanya mampir minum, kenapa setiap dukanya begitu menyakitkan? Kenapa setiap sukanya membuat kita bisa melayang-layang? Bukankah kita hanya disuruh ‘minum’?

Sakura oh Sakura

image

Tahun ini cerah cuaca dengan langit birunya tapi kau malu-malu mekarnya. Setahun lalu, hujan dengan Sakura yang mekar dengan cantiknya. Kaulah saksi saat anak-suamiku menginjakkan kaki pertama kalinya di negeri ini. Sesak dada kalau ingat saat-saat itu. Hanya ingin lebih bersyukur. Terimakasih untuk Oonogumi-squad yang mau menampung kami kala itu. Di hari ini pula, 4 April, kami pertama kalinya pindah kos dan mencoba hidup merantau, jauh dari orang tua dan keluarga. Maka, rasa syukur inilah yang menjadi saksi atas keterbatasan kata dan tingkah ini.

Sakura
Tetaplah menjadi saksiku.
Saksi akan perjalanan ini.
Entah apa yang menghadang di depan nanti, semoga aku bisa melaluinya dengan baik, sebaik aku berusaha semampuku.
Semoga Tuhan masih mau merengkuhku dan mengingatkanku.

Nara, 4 April 2017
Hari yang cerah untuk jiwa yang redup

Advertisements

RumAnGsAmU PeNaK

RUMANGSAMU (ke)PENAK

Istilah ini dari bahasa Jawa, kalau dibahasa Indonesia-in, kira-kira artinya jadi: LU PIKIR ENAK?? Ada banyak hal yang bisa membuat kita berpikir dan bisa ngomong ‘rumangsamu kepenak’, tapi bisa disempitkan jadi satu, biasanya orang yang ngomong gitu yaaa… lagi galau… hihihi…saya contohnya…

  • Pertama, rumangsamu penak? Yo penak.
  • Kedua, rumangsamu penak? Yo dipenak-penakke.

19747614

RYUUGAKUSEI (mahasiswa asing)

Saya dulu sempat berpikir enak ya kayanya kalau bisa kuliah di luar negeri, terutama Jepang (karena jurusan saya Sastra Jepang), apalagi gratis dibayarin tinggal mikir belajarnya. Pasti enak ya. Pasti enak deh pokoknya.
Bisa menuntut ilmu jauh-jauh sampai ke negeri (deketnya) Cina, dibayarin lagi, syukur2 bisa nabung, bisa buat bantu orang tua, dan biaya modal…modal nikah maksudnya (waktu itu).

Anggapan itu tidak berubah sih sampai sekarang sampai akhirnya mimpi itu beneran dikabulkan Alloh SWT, meskipun tidak semua sudut itu ‘enak’. Dibikin enak-enak aja sih bisa-bisa saja. Tapi, kalau seperti itu, kesannya jadi terpaksa dan tidak ikhlas mensyukuri semua nikmat ini? Semua nikmat menjadi ‘ryuugakusei gratisan’ ini?
Kalau flashback ke ingatan masa lalu, betapa saya dulu pengennya (pake sangat amat sekali banget-banget) bisa pergi ke Jepang.
Bukan apa-apa sih, tapi sebagai mahasiswa jurusan Sastra Jepang , kalau pernah merasakan Jepang itu bisa dijadikan ‘nilai plus’. Alhamdulillah dulu berkesempatan 2 minggu mengikuti seminar di Fukuoka,  Jepang (tahun 2008). Tetep aja setelah itu, masih pengen ke Jepang lagi, merasakan ‘hidup di Jepang’ yang sebenarnya. Harapan dan doa itu terus dipanjatkan…
Dan 2004 – 2015 bukan waktu yang sebentar…

Menjadi mahasiswa yang diberi beasiswa memang bisa menjadi ‘berkah’. Perjuangan mendapatkannya pun tak hanya membutuhkan tenaga dan pikiran. Air mata peluh keringat mengejar ‘deadline’ pun jadi tambahan, bahkan kalau kurang punya keluarga orang tua juga bisa ditambahin. Kecewa sedih galau ketika kegagalan melanda, itu sudah biasa. Kalau ditulis jadi novel pun bisa 10 series (Lebay bgt sumpeh)…
Daaan…., setelah semua itu pun,  saya yakin masih ada perjuangan yang harus dilakukan selanjutnya dan seterusnya..
Termasuk teman-teman sains yang setiap hari ngelab, bahkan sampai tidur di lab, full seminggu demi eksperimen yang harus dilaporkan dan dipertanggungjawabkan. Anak sosial yang harus baca buku Jepang seminggu bisa nyampe 4 jilid beda-beda dan wajib ngumpulin laporan per minggunya. Itu baru satu mata kuliah. Di’marah’in ditegur profesor. Di’jutek’in printer, laptop, ma komputer lab???
Belum lagi, kalau harus ‘bermasalah’ dengan hal-hal non-akademis seperti kehidupan sosial (pergaulan dengan teman se-lab se-bimbingan dan warga), birokrasi dan tetek bengeknya, pokoknya seru lah. Lelah jiwa raga batin nurani… menangispun tak akan menyelesaikan masalah… dan saat itu lah merasakan bahwa kita beneran sendirian di dunia ini…i am alone with myself

Lha terus, Rumangsamu penak?
Ya enak lah. Ngapain gak enak.
Kapan lagi bisa kayak gini…. Kapan lagi bisa baca buku habis itu pusing melanda perut mual-mual dan hidung ingusan?? Hihihi ini mah emang lagi sakit… Kapan lagi menulis laporan pakai bahasa Jepang yang mau gak mau pakai kanji, buka kamus + gugel translate + aplikasi hp dipakai semua… Rempong? Ya gak lah, namanya juga belajar… Kapan lagi dianggep enak bisa kuliah gratis di Jepang? Semoga enak terus lah…

Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’mal nashir (Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung)

JISSHUUSEI

* Gajinya kecil karena ‘magang’. Pokoknya, tenaga diperas tapi upahnya dikit.
* Disuruh-suruh, dibentak-bentak, pokoknya jadi ‘terbawah’ di perusahaan
* Gak bisa leluasa beribadah seperti di Indonesia.
* Dapet di puncak gunung yang mau ke mana-mana susah, transport mahal.
* Harus bisa ngomong pakai bahasa Jepang dan bukan mereka yang mengalah pakai bahasa Indonesia???
* Gak bisa pulang selama kontrak kerja, apapun yang terjadi dengan keluarga di Indonesia, termasuk pacar yang ngambek dan minta putus kalau gak bisa jemput jam 10???

Resiko, bukan ya?
Kalau memang resiko, sudah tahu seharusnya sejak awal mengambil keputusan menjadi ‘jisshuusei‘. Bangun pagi berangkat kerja pulang malam capek tenaga dikuras habis. Lemas lelah letih lesu. Ngantuk. Begitu tiap hari. Bosen tauk. Capek tauk. Monoton.

Rumangsamu penak jadi jisshuusei?
Ya, enak. Kan?
Loh, emang gak enak?
Kok gitu sih, harusnya kan enak?
Sudahlaaaah, anggap saja enak…

Gimanaaaa…. tetep gak enak?
1. Gaji lebih besar, jika dibandingkan dengan diri sendiri sedang bekerja di Indonesia sekarang dengan predikat lulusan SMK dan newbie, iya gak sih? Kalau gak, yawdah. Wkwkwkwk.

2. Di Jepang.
Kapan lagi bisa ke luar negeri? Gratis tiket PP? Dibayar malah. Bisa naik shinkansen (kalau mau, bayar). Bisa internetan cepet. Bisa ke USJ Tokyo, Osaka, Kyoto, Nara (yg ini maksa bgt dimasukin). Bisa kaiwarenshuu langsung ma orang Jepang, kapan lagi coba??? Bisa apa lagi ya? Banyaklah pokoknya.

3. Bisa nabung
Entah demi apapun itu target nabungnya. Bisa jadi tabungan sekarang, kalau kerja di Indonesia butuh waktu bertahun-tahun, lho? ? ?  Serius. Mbok coba dibaperin biar tahu rasanya ‘bersyukur’…

4. Bisa bikin ortu bangga
Saya kurang tahu soal ini. Apapun yang kita lakukan, selama itu baik, insyaAlloh membanggakan mereka. Lihat anaknya rajin beribadah aja udah bahagia banget, didoain tiap hari. Kalau saya sekarang, udah jadi orang tua, lihat anak bisa nyanyi aja udah bangga. Hihihi.

5. Bisa jadi ‘pengalaman berharga’
Nah ini nih yang tak ternilai harganya. Masih muda, ber’pengalaman’ (semoga pengalaman yang baik). Bisa belajar banyak, dari siapapun dari manapun dari kapanpun…Menjadi diri yang kuat, tahan banting, dan tangguh. pengennyaaa….

6. Bisa beli-beli
Ya Alloh, kapan lagi bisa beli macbook kamera iphone ipad sony experia terbaru dengan uang keringat sendiri???
Saya aja gak kuat beli 😭😭😭😭

7. Bisa mbaper, mellow, geje
Kapan lagi coba bisa tetiba nangis gara2 kangen sambal tempe dan sayur asem bikinan simbok, mewek2 pas telpon denger suara bapak, atau tetiba nyetatus geje (saya sih sering nyetatus geje), tetiba nanyain anaknya Pak Tono gimana kabar ya mak padahal udah punya fb (***kode2 minta dijodohin hahaha), dll.
Pokoknya, Bisa merasakan nikmatnya ‘merantau’ yang benar-benar merantau di perantauan bersama perantau yang merantau… 😅😭

Rumangsamu penak hidup di Jepang sebagai ryuugakusei maupun jisshuusei?
Hush gak boleh ngomong gitu ah. Kesannya susah merasa paling menderita di dunia dan gak bersyukur. Padahal orang yang bersyukur akan ditambah nikmatnya lho. Nikmat apa? Nikmat tenang batin jiwa raga nurani… Lantas, kalau kita gak di posisi kita sekarang, ke mana kita memang sekarang? Ada banyak orang yang pengen menjadi kita di posisi kita...? Tenang saja, kalau kita tidak bisa melakukan peran kita, nanti akan digantikan sama yang lain. Alloh SWT sudah mengatur semuanya. Bersyukurlah bersyukurlah…

Rumangsamu penak? Enak gak enak itu relatif. Punya duit 1 juta kalau lagi ngambekan ma pacarnya juga gak enak. Punya duit seribu kalau lagi kasmaran ya enak rasanya. Enak itu bisa jadi pas kita sakit tangannya tapi karena doski perhatian jadinya terasa enak. Jatuh cinta itu bikin tahi kucing rasa cokelat, apalagi cuma tangan yang sakit. Habis dimarahin bos kalau habis curhat ma eneng, hati abang jadi damai. Isshh isshh ishh… Enak gak enak itu kita yang ‘bikin’ lah…

Rumangsamu penak? Setiap nyetalkingin gebetan, tapi gak direspon. Tetiba pacar ngambek. Niat banget belajar, udah buka buku, buka kamus, tapi line bunyi trus dibales dulu lah, trus buka instagram ee malah stalking lagi, buka newsfeed facebook nyecrol sana sini ngeklik tahu2 sudah jam 11 malam, ngantuk lah besok kuliah besok kerja, bobo aja. Buku udah dimasukin ditata rapi buat belajar besok malam. Eh udah berdoa udah nyetatus ada bunyi bbm, dibales dulu lah, eee malah ngobrol, tahu2 udah jam 1 malam. Ya Alloh, itu saya banget. hiks. Coba diinget2 dulu bisa jago bahasa Jepang dasar, gimana caranya?  Dipaksa sensei, hahaha, dihukum dimarah2in kalau gak ngerjain tugas diomelin kalau nakal dicakar digrawus, emang kucing. Gak usah muluk2 nanya gimana biar jago bahasa Jepangnya, saya yakin udah tahu lho caranya, cuman gak dilakuin. Rumangsamu penak, di Jepang tapi bahasa Jepangnya gak majuーmaju?

Rumangsamu penak? Sudah sampai Jepang, punya banyak duit tapi sedekah ma tetangga gak bisa. Pulang nanti belum tahu ngapain belum punya planning apapun. Lha emang kalau di Indonesia biasanya ngapain? Uang mah bisa habis tanpa kita habisin. notedformyself

Rumangsamu penak?
Elo pikir???!!!
Kenapa lagi sih??? Galau???
Gak, biasa aja, sok tau…!!!
Lah daripada sok galau???

Rumangsamu penak?
Alhamdulillah…dijalani aja…semoga menjadi berkah di sana-sini, bukan menjadi kesia-siaan, sudah jauh2 sampai Jepang tapi gak dapat apa-apa..

Dewi
Yang bisanya merumangsa penak dengan cara mbaper dan nangis