BerHijAb di JepAnG

Maafkan saya, Indonesia… Ada beberapa hal yang mengganggu ke-cuek-an, ke-taukdeh-an, dan ke-entahlah-an saya selama ini…

“Ada yang bertanya kenapa saya tidak mendesain dan membuat Busana Muslim dan Jilbab? Sebuah komoditi bisnis yang sangat menjanjikan di Indonesia!. Jauh saya berbicara pada nurani saya, apakah saya mau mengeruk harta dan uang dari hasil berjualan atribut Agama yang dimana dikaitkan dengan pentas dunia fashion yang dikaitkan dengan ayat suci , dan saya mengeruk uang dan bisnis di dalam nya?,” tulis Oscar, Selasa 17 Mei 2016.

Oscar Lawalata merasa sedih melihat munculnya desainer baru yang merancang koleksi busana muslimah hanya untuk meraup keuntungan.

“Saya punya hati nurani dalam berkarya saya ‘tidak’ akan mencampuri bagian duniawi dalam perputaran uang dan bisnis dalam Sucinya Agama. Sedih ku melihat kesucian Agama yang dicampur adukan dalam pentas duniawi fashion dan busana, berlomba lomba menjadi desainer mutakhir dalam pentas busana Muslim,” ujarnya.

Imej hijab di Indonesia sekarang sudah menjadi imej fashion dan bisnis, lebih ngerinya lagi, menurut saya lho ini, sekarang imej kalau hijab menjadi simbol kelas sosial masyarakat. Bisa jadi, semakin mahal dan cantik dilihat hijabnya maka kelasnya lebih tinggi, lebih kaya, atau pendidikannya lebih tinggi? Bahkan, dari hijab pun (biasanya dari lebar atau nggaknya) orang katanya bisa menilai tingkatan taqwanya seseorang, bisa jadi (saya gak tahu sih) semakin lebar hijab seseorang semakin taqwalah dia? Semakin syari lah dia? Na`uzubillahimindzalik, saya gak tahu soal ini. Mbok berhijablah dengan biasa aja? Lah standar biasa kita beda, neng… Kamu pikir mewah dan luar biasa, lha buat kami biasa aja. Kalau flashback ke masa lalu, betapa dulu susahnya berhijab bagi muslimah di negeri Indonesia Raya tercinta kitah. Sekarang sudah di mana-mana memang, makanya ada selentingan orang yang bilang arabisasi bla bla bla. Betapa susahnya ya berhijab di Indonesia. Karena harus memperhatikan penampilan, saya mengoleksi hijab banyak-banyak. Mungkin cuma saya aja sih yang lebay. Kita bisa dengan mudahnya menjudge orang yang belum memakai hijab atau yang lepas pakai hijab.. Ternyata begitu sempitnya pandangan beragama kita? Saya, maksudnya.  Entahlah… (entahlah saya sudah “keluar, berarti pembicaraan saya selesai mengenai tema ini)

WeLcomE to JaPan: Maafkan Saya, Jepang…

Siang tadi saat matahari teriknya, saya, anak, dan suami jalan-jalan ke sebuah tempat perbelanjaan terkemuka di kota kami. Kalau menjadi perhatian oleh orang sini mah sudah menjadi makanan sajian harian kami, sudah terbiasa. Tapi, alhamdulillah mereka ‘tidak takut’ dan menjauhi saya yang pake penutup kepala ini atau suami yang sekarang memelihara jenggot (lagi), bukan apa-apa sih tapi berjenggot di sini berimej buruk dan kotor, yakni sukebe (mesum)… Hahaha maka saya pun selalu mengingatkan untuk mencukurnya, demi menghormati budaya sini karena kami tinggal di sini. Saya mah suka-suka aja suami jenggotan…

Dan,
Saat mengantri di kasir tadi, ada dua anak perempuan di depan saya, salah satunya bilang ke ibunya sambil menunjuk saya, “Nee…samui kana…” (Eh, mungkin kedinginan ya…)
Saya pura-pura gak ngerti bahasa Jepang sambil senyum-senyum tengok kanan kiri.

Kasihan ibunya ya, kasihan mereka. Gimana si Ibu harus menjelaskan ke anaknya ya kalau anaknya masih bertanya soal ‘pakaian saya’? Apa dia akan gugling di Smartphone-nya atau menjawab sekenanya? Hahaha saya jadi kepikiran soal ini. Seneng sih, karena ada anak kecil yang ‘memperhatikan’ jilbab (hijab?) saya. Mungkin dari situ dia belajar tentang perbedaan? Ah saya juga gak ngerti. Mungkin besok dia akan bercerita sama temannya atau bertanya sama gurunya atau melupakannya seakan tak pernah terjadi pertemuan ini, hahaha. Mungkin, bisa jadi, sang Ibu bisa menjawabnya dengan “Gaikokujin da.” (Orang asing.) Kalau kata pamungkas ini sudah keluar, itu berarti memang adanya mereka yang memaklumi kita sebagai orang asing dan segala tingkahnya…budaya JEpang sangat menjunjung tinggi ini, hubungan antara luar dan dalam“… Apapun itulah…

Sebentar lagi musim panas woiii, ‘pasti’ mereka akan lebih terheran-heran lagi melihat kami yang berjilbab (berhijab?) ini. Apa gak kepanasan? Ya panaaaslah…saya juga bukan manusia super yang bisa dingin saat kepanasan atau panas saat kedinginan. Saat mereka mulai ‘kepanasan’ dan sedikit demi sedikit membuka bajunya, di situlah kadang kami merasa mbaper sebaper-bapernya ‘ini pilihan kami’. Tidak ada yang memaksa. Musim panas pun akan membuat para perempuan beradaptasi dengan berpakaian mini.  Jadi, saya juga akan berusaha biasa aja juga dengan penampilan mereka juga. Meskipun Jepang termasuk negara Timur yang katanya menjunjung tinggi kesopanan (sopan itu beragam definisi tergantung di mana kita tinggal juga ya), negara ini merupakan negara moderen yang berpandangan Barat, jadi kalau ngomongin penampilan ke kampus berpakaian celana mini itu biasa, catet ya b.i.a.s.a, apalagi ini kampus khusus perempuan dengan sedikit laki-laki jadi semakin bebas berekspresi. Kalau melihatnya di kampus umum, yang ada mahasiswa dan mahasiswi, mungkin lain cerita. Mahasiswi di sana pun pasti akan melindungi diri mereka sendiri dan punya cara sendiri beradaptasi juga…

Saya masih ingat betul kata dosen saya, “Bisa jadi hijab muslimah di negeri asing menjadi jalan dakwah mereka.” Kita tak pernah tahu, jalan hidayah seseorang, kan?

Tapi gak perlu maksain juga sih ya takutnya jadi alay alias berlebihan…sebisanya aja lah… Semoga tidak mengganggu mereka, itu sudah cukup, sebenarnya… Bisa jadi pun penjelasan kami tentang hijab di Indonesia pun sebenarnya bukan hal yang menarik untuk dibahas bagi mereka. Mungkin-mungkin aja sih ada beberapa orang tertarik dan habis mendengarkan kami, dia gugling juga, lah?? Kalau mereka bertanya, barulah kita jawab, iya kan? Terkadang kalau kita merasa maksain ‘harus memberitahu kalau kita ini muslim lho’ wajib ini wajib itu, kesannya kok ya maksa yaa, semacam ‘memaksa’ mereka buat ngertiin kita. “Masuk” gak maksud saya? Lah elo siapa? Mau pakai apa kek terserah, emang gue pikirin, asal gak ganggu saya? Tapi, mereka juga kan nanya, “Memang kenapa elo gak makan babi? Enak lhooo… Sake juga bisa menghangatkan tubuh saat musik dingin… bla bla bla…”
Ya begitulah….kira-kira begitu…anggap saja begitu…ya?

Dakwah sih dakwah… Tetapi, TETAP SAJA hidayah itu hak mutlak Alloh SWT..

Puasa juga… Dulu ada teman JEpang yang nyeletuk ke saya Apa gak mati seharian gak makan? Saya jawab aja nggaklah, buktinya saya masih hidup. Setelah itu kami tertawa bersama. Saya juga bercerita kenapa kami harus berpuasa selama satu bulan, bla bla bla. Saya juga gak bilang, Mbok dicoba kamu kayak saya? Gak akan pernah bilang seperti itu. Kalau dia bilang sendiri dia mau mencoba, barulah saya kasih dukungan.

Jadi, intinya?

Berhijab di Jepang memang pengalaman baru bagi saya. Seru-seru sedih bercampur  jadi satu. Saat melihat muslimah lain yang berhijab, rasanya senang sekali. Rasanya terharu, untuk hanya mengucap Assalamu`alaikum dan mereka menjawabnya saat bertemu di tengah kerumunan.
Terimakasih, Jepang, sudah mengizinkan kami berhijab di negaramu, berinteraksi dengan wargamu tanpa mereka ‘melukai’ kami. Apapun yang ada dalam benak dan pikiran mereka, selama ini mereka masih menghormati kami, sebagai sesama manusia, mungkin. Mereka lebih memanusiakan kami, tanpa menjudge apapun tentang kami, tanpa memikirkan lebar hijab, rok atau celana (no offense ye), atau apapun itulah. Bisa jadi imej Islam dan hijab di internet dan media massa pun mereka tidak peduli-kan demi menghormati kami atau mereka sebenarnya juga tak peduli, entahlah. (entahlah saya sudah “keluar”, berarti pembicaraan saya selesai mengenai tema ini)

Alloh SWT yang memelihara kita, semoga menempatkan kita dalam orang-orang yang beriman..

Terimakasih, sekali lagi, Jepang…

Salam perdamaian…
Salam panas-dingin musim Semi…

無題

Dewi..

Sekali lagi, esensi itu lebih penting dibanding cover. Mari kita sama-sama belajar untuk tidak mudah menjudge baik buruknya seseorang dari penampilan–karena judge-menjudge itu urusan Alloh SWT — Semoga kita bisa menjadi manusia yang memanusiakan manusia lainnya. Maksudnya? Silakan cari sendiri hahahaha