三月

この日には
泣いたまま続けなきゃ
手を繋がって目を見合わせたら
諦めちゃった、かな

人生誰よりも知らん
信じることか涙か驚かせることか
自分で決めなきゃ
もし続けたら色々
感動させるか泣かせるか
心配だった、かな

君のそばには良いことじゃないか
俺のそばには悪いことじゃないか

まずい思い出でも
泣ける日々でも
笑える瞬間でも
ダメな機会でも
一緒にいてくれて
良かった、かな

もう終わりって言わないで
もういやだってそのままで黙って
いつかまた会える日々を
新しいチャンスするかも
会えるって会える、かな

黙ったまま良い
笑ったまま良い
泣いたまま良い
動いたまま良い
かな

濃いコーヒーには恋を入れた
まずいが美味しく入れちゃった
幸せさあ心も胸も速く走れ
こんな心配さなかった、かな

ドアのベールならすな
壁で話し合って顔を隠して
目を見なく風邪で触らないで
いつか痛み感じない時には
きっと来るよ
電話番号教えても
怖い気持ちなかなかちゃうかな

デウィ

Advertisements

Keniscayaan

Buih-buih mulut itu kembali terdengar
Di antara lelahnya malam dan dinginnya tembok
Sayup angin sepoi menguasai
Hanya saja,
Suara parau itu semakin jelas

Bukan nenek lampir
Maupun gendruwo ijo
Wanita cantik dengan rambut terurai
Yang kata orang itu disebut kawaii

Busa-busa itu mulai terkumpul
Entah berapa kali pintu itu terbuka
Mungkin,
Bisa diibaratkan seperti layar kapal
Yang membiarkan angin menggerakkannya

Bukan, bukan angin
Ada nahkoda yang membuatnya laju

Seperti keniscayaan yang sering kupercayai
Bahwa terkadang kita hanya butuh kesendirian
Menyadari kita datang sendiri
Dan pergi pun sendiri

Tak perlu risa-u apalagi gala-u
Menunggu kesempatan itu datang
Waktu yang akan memanggil
Angin yang akan mengabari
Detak ini yang akan menghitung
Berapa sisa kita

Mungkin,
Diam memanglah emas
Emas berkilau yang menyejukkan
Menyadari batas-batas kita dalam percaya
Kemampuan sendiri dalam menata
Hati
Pikiran
Perbuatan

Tidak ada kuasa atas
Nista dusta kita

Kembalikanlah kepada sejuk-sejuk itu
Atas apa yang memerihkan jiwa
Mungkin,
Kita bukan jodoh
Untuk saling menambatkan rasa yang terperi
Rasa yang teriris
Yang entah kesekian kalinya membuat hati terluka

Angin tetaplah angin
Tanpa sejuk meski kita tiup
Bukan pula kuasa angin membuatnya sejuk
Lalu,
Apa kau tetap tak memilih?
Antara dingin dan panas?
Atau tak ada keinginan itu?

Biarkan kujalani sendiri
Tanpa perihnya kaki
Merahnya telinga
Sakitnya luka

Hanya karena,
Busa-busa dari ujung pintu itu
Yang karenanya,
Tak ada obat yang menyembuhkannya

Hati-hati dengan busa itu
Bisa mencuci apa saja
Harapan dan keyakinan

Langkah ke depan
Semoga lebih ringan tanpa buih-buih putih itu
Oh tidak gampang tentu saja

Izin itu tetap yang kumau
Tanpa harus luka
Duka
Maupun lara nestapa

Bergerak mundur
Dari harapan bersama
Batasku tak bisa
Menjemput batasmu

Kasta itu menghalalkan kita
Tetaplah ada menumpahkan lara
Sadar akan ada air mata
Di setiap hembusan nafas
Aroma peluh yang membatasi kita

Iya, tahu

Bantul, 2017.3.12 20:40
Dewi

(Selesai)

Serba-Serbi Penulis (Part II)

Mau tanya dong, hal apa yang paling menyenangkan dari menjadi penulis?
Selain ‘dapet duit’ yang bisa buat beli macem-macem sih, dapat juga pengalaman lahir batiniah sewaktu buku kita dibeli.

Maksudnya? 
Ya gitu deh. Ada juga testimoni/email pembaca, dan itu seru juga bacanya, meskipun kadang respon balas gue lamaaa.

Duit?
Iya, pas awal-awal gue nulis tuh ngetiknya pake komputer jadul yang dulu memang difungsikan untuk menulis skripsi. Alhamdulillah banget waktu itu Ibuk beliin komputer. Sekarang, komputernya dipakai kakak, atau di-tukar-tambah ya, karena saking jadulnya. Dan dulu sewaktu hamil Kenta, bisa betah ngetik di depan komputer demi dikejar deadline. Selang beberapa bulan setelah Kenta lahir, gue beli laptop Fujitsu hasil royalti gue. Perjuangan banget dah waktu itu. Oh iya, printer juga, mpe jebol-jebol setelah dipakai buat nyekripsi. Bener kata orang-orang, ngerjain skripsi itu adaaaa aja yang ngadat. Komputer lah, flashdisk lah, printer lah. Kalau udah begitu, tinggal berdoa deh.

Ada pengalaman lucu gak selama jadi penulis?
Ada banyak pengalaman sih sebenarnya, tapi gak lucu. Hahahha. Gue pernah liat dengan mata kepala sendiri, orang yang bawa fotokopian buku gue. Lha gile aje. Waktu itu gue cuma ketawa, nyengir, dan berdoa ‘Semoga ilmunya bermanfaat.’ dan kebetulan dia tidak tahu kalau penulis buku fotokopian yang dia pegang itu adalah gue. Tapi waktu itu mikirnya juga masa bodo deh dengan royalti dll, karena bisa jadi orang itu gak bisa membeli versi aselinya. Yak iyalah ya makanya fotokopi. Bisa jadi karena stok yang gak ada di manapun (baik toko buku offline maupun online), bisa jadi juga karena ‘belum’ ada duit. Nyesek sih ya waktu tahu buku itu difotokopi. Hehehe.

Rugi gak?
Waduh soal rugi, kurang tahu ya. Ya itu tadi, kalau semua orang bisa fotokopi, ngapain ada ‘buku’ dan ‘penerbit’? Ye kan? Menghargai kreativitas orang lah, karena sebagian dari uang penjualan buku itu royalti yang kan jadi hak penulis. Hehehe.

Oh gtu. Lainnya?
Pernah ada yang minta tanda tangan dan gue bilang ‘Udah kamu aja yang tandatangan, saya saksinya.’ Trus dia cuma bengong trus nyengenges. Hahahaha. Gue tanya, ‘Bukunya bermanfaat gak?’ “Lumayan, saya belajar otodidak pakai buku ini.”

Royalti itu begimane sih?
Royalti itu ‘bayaran’ buku kita. Hehe. Ribet sih kalau dijelasin tapi intinya di setiap harga buku yang tertulis ada ‘bagian’nya penulis. Hehehe. Jadi, kalau kita beli suatu buku itu sebenarnya kita membantu penulis tersebut mendapatkan ‘uang’. Soal berapa besarnya, masing-masing penerbit punya kebijakan dan ketentuan royalti masing-masing. Coba dicek di web-web penerbit deh, pasti ada. 
Ada juga ‘beli putus’, itu semacam ‘beli naskah’ gitu, jadinya gak dapat royalti setiap kali buku kita terjual. Enaknya yaa sekali nerima gedhe jumlahnya, gak enaknya buku kita terjual berapa juta eksemplar pun duit yang kita terima juga segitu. Kalau royalti, biasanya diterima per bulan, eh ini juga mungkin beda penerbit beda kebijakan. Itupun jumlahnya gak menentu karena tergantung buku kita yang terjual. Jangan lupa juga, bayar pajak! Kebetulan gue punya npwp juga, jadinya pajak dibayarin ke situ. Lumayan lah jadi warga negara yang baik. Semoga pajaknya tidak dikorupsi dan bermanfaat buat ‘kemajuan’ bangsa. 15% lho pajaknya, lumayan kan. Saya bangga bayar pajak! Tapi sayang juga kalau dikorupsi, hiks.

Bagaimana proses sampai nerbitin buku?
Beda-beda sih penerbit satu ma lainnya. Biasanya kita ngajuin tema/judul buku yang mau kita tulis trus nunggu di-acc gak. Nunggu ya nunggu. Bisa berbulan-bulan. Ada penerbit yang bilang akan memberi jawaban atas naskah yang kita kirim setelah 90 hari alias 3 bulan. Maklum, yang nulis naskah itu kan ya gak cuma ‘kita’. Ada banyak, mungkin ribuan (?). Dan butuh banyak waktu untuk membaca dan menyaring mana yang bagus/layak diterbitkan. Kalau di-acc ya lanjut nulisnya. 
Ada juga yang penerbitnya sendiri punya rencana mau nulis tentang suatu tema/judul, nah itu biasanya bisa juga langsung ditawarin ke penulisnya.
Oh iya, kalau masukin/ngirim naskah, jangan lupa lihat penerbit yang dituju itu fokus tema besar bukunya apa, semacam ‘jurusan’ bukunya apa aja. Jangan sampai masukin naskah bahasa Jepang ke penerbit yang dia memang fokusnya di buku masakan, dst.

Tertarik gak untuk nulis buku tentang Jepang, selain bahasa Jepang?
Tadinya tertarik, tapi kemarin sewaktu maen ke toko buku lihat beberapa buku yang isinya tentang ‘itu’. Jadinya, udahlah, belum rezeki. (*siap grak, mundur teratur)

Kan nulis di blog bisa?
Bisa sih, tapi takut ke-copypaste. Hahaha sok banget ya.

Suka novel gak?
Gak terlalu. Gue baperan orangnya mah. Gue punya perpus kecil kok, kalau 100 judul buku dan novel kayanya ada deh, tapi belum gue baca. Heeh.

Pernah bertemu penulis lain?
Pernah, Dr Purwadi, lulusan doctoral S3 Filsafat UGM yang secara gak sengaja ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon di bonbin minggu lalu. Gue punya ‘mantan’ murid juga yang jadi penulis fiksi best seller di Grasindo (?). Gue pengen nyebutin nama penanya tapi takutnya dikira sok kenal sok dekat hehehe. (Emang gue siapa, hiks)

Pernah nulis artikel di surat kabar/ majalah?
Dulu, surat kabar pernah tauk. Hehehe. Malu. Masih kesimpen kayanya artikel potongannya itu. Dan itu pendek kok, cuma semacam pendapat. Selain itu, gak ada. Hahaha.

Pernah punya pengalaman memalukan gak selama jadi penulis?
Apa ya…malu-nya itu karena menyadari kemampuan bahasa Jepang gue gak maju-maju padahal uda belajar sejak tahun 2004 sampai sekarang, uda nulis buku aja mpe 10 judul, dan diizinkan Gusti Alloh studi di Jepang hampir 1,5 tahun ini tapi NOL besar kemajuannya. Malu banget itu! Serius!

Emang seberapa besar sih target kamu bisa berbahasa Jepang?
Ya minimal N1, sisanya bisa nulis artikel dan jurnal berbahasa Jepang yang bagus.

N1?
Iya, level tertinggi kemampuan berbahasa Jepang. Konon katanya kalau kerja di perusahaan Jepang, gajinya bisa gedhe banget.

Ada hikmah gak dari jadi penulis ini?
Hikmah selain materi maksudnya? Uhmm… ya ada sih. Karena niat awalnya berbagi ‘ilmu’ dalam bentuk tulisan yang siapa tahu bisa membantu orang yang sedang belajar bahasa Jepang dan akhirnya terwujud itu rasanya ‘sesuatu’ banget. Tahu tiga perkara yang tidak akan putus meskipun kita mati kan: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak kepada orang tua? Nah itu, motivasi utama gue untuk menulis: BERBAGI (ilmu ?).

Perjalanan menuju ‘jadi penulis buku’?
Gue dulu suka bikin cerpen dan almarhumah adik gue suka. Semenjak dia tidak ada, gue males bikin begituan. Tetep sih lanjut nulis diary dan diary pas zaman SMA masih ada mpe sekarang. Gak pengen baca ulang sih karena takut baper dan kebawa kenangan lama yang ‘sebaiknya’ dilupain aja hahaha. Masa lalu biarlah masa lalu, bukak sithik joss…

Ee kok malah dangdutan?!
Hahaha. Itulah kenapa gue baperan ma cerita fiksi. Sukak kok tapi ya. Nyatanya tontonan gue drakor yang super duper imajinasinya mpe bikin baper berminggu-minggu. Hahaha. Kalau nulis non-fiksi kan gak bakal baper tuh. Bapernya tuh kalau tahu itu buku gue ada bagian yang ‘salah’ dan ternyata udah ‘terbit’. Jadi, kurang teliti pas editing akhir. Rasanya sedih banget dan baper, hiks. Eh tapi itu proses juga sih ya. Gue dulu pernah bikin tulisan pertama gue dan dikritik habis-habisan, abis itu gue nyadar kalau tulisan gue emang acakadut dan gak bermutu. Sedari itu gue belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD. Ya itu kan jadi aset kita ya sebagai warga negara Indonesia. Bahasa Indonesia itu keren, gue suka. Gampang sekaligus ribet. Hehehe. Malu bener kalau ejaan gue salah. Jadi kangen belajar bahasa Indonesia zaman SMP, gurunya galak tapi kegalakan itu yang buat gue nyadar kalau ‘bahasa itu penting’.
Bahasa juga mencerminkan kepribadian seseorang. Kalau hal kecil aja, macam awalan di- itu disambung atau dipisah aja ‘ngeuh’ dan paham berarti orang itu teliti dan menghargai sesuatu. Intinya gitu sih kalau menurut gue. Sebelum menulis, perbaiki dulu EYDnya. Kalau perkara menulis ‘tulisan dengan gaya gaul’ sih sebenarnya EYD gak saklek harus banget sih ya, tapi tetep kaidah-kaidah teknis itu harus diperhatikan. Nunjukin banget ceroboh dan gue gak suka baca tulisan yang belepotan salah teknisnya.
Macam gini nih: Kemarin saya pergi kepasar dengan orangtua. Disana saya di suruh membeli rambutan.
Ih gemesss lihat tulisan begitu. Sumpah. Serius.
Kalau bahasa sendiri paham dan ‘nurut’ alias manut sesuai kaidah ketata bahasaannya, bahasa lain Insyaallah juga akan menyusul. (Ngomong ma tembok)

Woi, ngomong ma aku?!
Hahahaha, makasih udah dengerin celotehan gue yang gak mutu dan sok tahu.

Ada benernya sih. Anak muda zaman sekarang kan luar biasa.
Gak usah ngomongin anak zaman sekarang deh. Lu sendiri ngerti gak yang bener zaman apa jaman? Gak ada jaman, menurut KBBI. Sama halnya rezeki. Gue aja kadang salah nulisnya rejeki. Malu tauk tapi gue harus belajar dari kesalahan. Jangan cuma ‘belagu dan gengsi’ yang digedhein. Hahaha. Catatan pribadi. Donlot itu aplikasi KBBI di playstore. Ee malah promosi.

Hahahahaha.
Gue juga nyadar gue masih sering bikin kesalahan dan tidak sempurna tapi mau kok belajar. Emak-emak yang masih suka dan mau banget belajar, apapun itu. Makanya, gue berterimakasih banget buat yang mau mengkritik gue. Itu tandanya dia sayang gue dan mau gue maju. Love you, my admirer. Lah?! Hahaha tapi jangan galak-galak yang kritiknya…apalagi pedesss..cabe mahal sekarang mah…

Menulis itu menyenangkan kah?
Menulis itu menyampaikan pendapat kita. Jadi, sebenarnya kita ‘berpolitik’ juga. Kalau ada yang bilang ‘gak suka politik’ itu sebenarnya yaa….gimana ya..gue sendiri sebenarnya gak suka politik macam di TV-TV itu…tapi ya gue nulis begini aje gue sebenarnya berpolitik kok…hahaha…memasukkan ide kita agar orang lain terpengaruh hehehe…

Rencana pengen nulis buku sampai berapa judul?
Pengennya sih setahun minimal satu judul. Tahun 2016 sudah nulis satu judul sih, dan target tahun 2017 ini pengen nulis satu judul aja juga. Ide sih ada tapi ‘belum mood’ untuk menuangkannya ke dalam kertas cinta kita dengan tinta rindu yang sangat menyayat ini. Aiiish dung-dung preeeet. Teot teblung. Tralalala trililili…

image

To be continued.
つづく

Serba-Serbi Penulis (Part I)

Denger-denger jadi penulis?
Iya, katanya penulis.

Emang penulis buku apa?
Buku penunjang pelajaran, khusus bahasa Jepang. Kamus.

Udah nulis berapa buku?
Ada 10. Yang di foto baru 9 sih, yang 1-nya ada di foto bawah.

image

image

Enak gak jadi penulis?
Enak.

Kenapa jadi penulis?
Sebenarnya sejak awal bukan cita-cita gue jadi penulis, setelah menerbitkan buku pertama jadi ketagihan untuk ‘berbagi ilmu’. Yaa meskipun hampir setiap kali nulis buku datang perasaan ‘gak percaya diri’ karena di luar sana banyak banget yang lebih jago bahasa Jepangnya. Cumaa, namanya ‘berbagi’ ya niatnya seberapapun milik kita dibagi dengan harapan semoga bisa bermanfaat buat orang lain. Khususnya, pembelajar bahasa Jepang yang jadi pembeli buku gue.

Saat ini sedang nulis buku gak?
Gak sih, sedang selo. Hehehe.

Berarti udah gak ada niatan bikin buku baru lagi?
Ada lah, ada aja ide yang berlalu-lalang, alhamdulillah masih diberi ide untuk nulis buku. Tapiiii ya itu, belum rezeki untuk berbagi, lagi. Lagipula setelah ditinggal studi di Jepang, hampir 1,5 tahun ini, gue gak ngerti soal dunia penerbitan & buku di Indonesia lagi. Mungkin lesu karena dunia digital yang semakin maju dan berkembang. Gue sih nyante aja, karena itu masalah rezeki aja. Rezeki berbagi, maksudnya.

Rezeki? Berarti soal duit?
Gak juga sih, karena rezeki itu bukan melulu soal duit. Hehehe.

Emang ada yang didapat selain duit?
Ada ya.

Apa aja misal?
Semisal ‘kepuasan dan kebahagiaan’ yang sebenarnya tidak bisa terukur dengan duit. Testimoni pembaca dan buku gue jadi salah satu sumber pustaka saat orang lain menulis karya ilmiah mereka. Uwaaa bahagia sangat itu. Apalagi mereka minta tandatangan saat ketemu penulis buku yang sedang mereka baca itu. Agak malu sih, kadang respon gue, “Ih kenapa kamu beli buku ini?” Hehehe. Penulis yang aneh ya.

Hahaha oh gitu.
Iya.

Merasa tersaingi gak ma penulis lain?
Alhamdulillah gak sama sekali. Sedih sih kadang, kalau sesama buku bahasa Jepang, hehe, tapi rezeki mah sudah ada Yang Mengatur. Yang namanya berbagi, orang lain kan juga boleh-boleh dan sah-sah aja berbagi ‘ilmu’. Jadinya, alhamdulillah gue santai dan enjoy-enjoy aja. Mungkin orang lain berbaginya lebih ‘afdol’, nah itu malah jadi penyemangat gue untuk lebih baik dalam berbagi.

Ada tips gak buat orang yang pengen jadi penulis?
Ada. Menulislah, untuk berbagi dan menunjukkan eksistensimu.

Kapan nih nulis lagi?
Lha ini nulis blog. Sedang males monolog, jadinya dialog mulu. Maklum gue kan AB, setengah diri jadi A setengah diri jadi B. Klop kan?

Hahaha. Bukunya kan non-fiksi, ada keinginan buat nulis buku fiksi gak?
Gue ini baperan kalau baca buku fiksi, novel, dll. Jadinya, kalau gue nulis fiksi takutnya malah baper sendiri. Gue udah punya JOKO-NAOMI, hanya saja belum sempet diupload2, malu benerrr karena saking alaynya. Ntar deh kapan2 gue upload di wattpad. Betewe, gue sekarang kalau baca cerita di wattpad, aplikasi ngehits yang kita bisa tahu pembaca karya kita ada berapa orang. Hehehe. Newbie sih jadinya yaaa…belum tahu juga…

Emang wattpad apaan?
Gugling aja sendiri. Yang jelas, lumayan dapat bacaan gratis.

Fiksi doang?
Kok kayanya iya ya. Kalau tumblr ma wordpress kan bebas ya mau nulis apaan, kalau wattpad lebih ke ‘cerita’ kali ya, sori, miskin info, maklum newbie. Hehehe.

Wuih, emak gaul nih?
Hahahaha sayang gue belum punya aja web pribadi masaridewichan.com hahaha. Emang mau buat apa? Toh masih kuper ilmu ‘begituan’.

Kapan balik Jepun?
Minggu depan. Hayai nee. Omiyage mou katta kara, anshindakedo. Chousa? Maa ne, buji ni ikeruyou. Iro-iro hanashi o kikasete kurete, yokatta. Omoshirokatta.

Udah maen ke mana aja?
Ada deh. Kepo ih.

Udah ke Gram*dia?
Udah dong, hari pertama malah. Buku gue ada di Sudirman. Di mall Malioboro gak ada satupun. Mungkin stock habis atau begimane gak ngerti.

Royalti masih dapat kah?
Alhamdulillah masih kok.

Pengen nulis lagi?
Insyaallah masih pengen. Moga 2017 bisa ngeluarin buku lagi. Siapa tahu bisa jadi masterpiece karya sendiri, hehehe.

Emang belum punya masterpiece?
Ada sih, dua buku ini kesayangan gue.

image

Yang lain gak disayang?
Bukan gitu, karena dua buku ini titik tolak gue menuju gue yang sekarang ini.

Ceileh. Bersejarah ye?
Lumayan.

Boleh cerita?
Uhmm…dikit aja ya tapi…itu buku putih itu pertama kali nulis buku. Sebelumnya kan bikin kamus. Bener-bener baru dengan ide dan gagasan baru. Trus sampingnya itu versi reborn dan lengkapnya. Hehehehe. Jadi, itu buku ungu itu yang versi lengkap. Lengkap dengan bunpou, kanji kana, kaiwa, dan soal latihan. Asyeek.

Kalau mau nulis buku lagi, mau nulis tentang apa?
Eits ra-ha-si-a ye. Tapiii kasih bocoran sikit ye, mungkin masih berhubungan ma bahasa Jepang.

Yaaa semua orang juga tahu.
Ya kali aja ada yang ngira gue mau nulis tentang Babad Tanah Jepang gitoh. Sejarah gitu. Atau nyastro? Gak deh.

Penerbitnya?
Sepuluh buku gue terbitan satu Penerbit sih, IndonesiaTera.

Di Jepang, buku banyak ye?
Iya lah.

Pernah ke toko bukunya?
Pernah.

Bedanya apa ma toko buku di Indonesia?
Toko buku yang mana dulu nih? Ada dua jenis toko buku di Jepang, toko buku baru ma toko buku bekas. Yang baru bukunya baru-baru, yang bekas bukunya bekas-bekas. Yak iyalah ya. Yang baru harganya sesuai yang tertera di cover bukunya. Kalau yang seken biasanya dijual di BookOff atau toko lain yang bekas, harganya biasanya gak sesuai covernya, lebih murah maksudnya.

Any comment?
Di Jepang gue masih ngeliat ada aja yang baca buku/novel di kereta sisanya sih maenan hape/gadget. Kalau Indonesia, jarang gue liat yang baca buku. Bukan berarti minat baca Orang Indonesia turun lho ya. Bisa jadi mereka baca di gadget mereka. Ya wallohu’alam.

To be continued…
つづく

(Dedew 2017.3.7)

Jawab A.L.A.Y

Gi apa?
Maenan hape.

Gi mikirin apa?
Mikirin ‘calon’ tesis.

Gi di mana?
Di ruang mahasiswa S2. Kampus.

Singkat-singkat banget jawabnya?
Iya nih.

Ada masalah kah?
Gak ada sih, saya sih yang lebay.

Masalah apa?
Biasa. PMS. Eh tapi kok PMS tiap hari. Hahaha. Lagi sensi.

Sensi soal apa?
Soal pribadi sih ya. Biasaaaa….cewek…lebay…

Soal sosmed?
Ah gak juga. Eh tapi terakhir salah menonaktifkan path, dasar kuper. Hiks. Jadinya kalau mau ngepath harus daftar baru dan verifikasi nomor hape segala. Males.

Yakin gak ada masalah?
Ada sih ada, tapi udah kelar. Sekelar hidup guweh. Biasa biasa urusan duit. Hahaha. Duit vs gadget vs provider. Provider di sini ribet coy. Kalau gak punya nomor hape, semacam gak diakui, makanya harus punya.

Emang kenapa masalahnya?
Biasa, orang bego yang pengen keren-kerenan tanpa melihat nanti bagaimana.

Kenapa nanti?
Ya biasa, penyesalan selalu di belakang.
Ngantuk oy.

Ngantuk? Semalam ngapain ?
Nonton Gong Yoo
Continue reading

YO.U.CHI.eN: HiduP BaRu DimuLai

Keren katanya Kenta bisa sekolah di Jepang ya…

Iya, alhamdulillah diberi kesempatan. Kalau dibilang keren sih……. ya keren sih ya, dulu aja baper lihat uploadan foto anak teman yang masuk yochien yang unyuuuu banget dengan seragamnya, pengen, berharap Kenta juga bisa begitu. Alhamdulillah dikabulkan. Mencoba pengalaman baru dengan tantangan ‘perbedaan bahasa’. Tapi sebenarnya bukan soal ‘keren’nya itu yang menjadi cerita utamanya. Tenang saja, bukan cuma kami yang merasakan ini, banyak ribuan keluarga lainnya yang berkesempatan mengalaminya. Dan cerita kami hanya sederhana….

Sebenarnya sudah tiga minggu-an yang lalu, kami mulai melihat-lihat TK. Ada dua rekomendasi yang diberikan, satu TK yang dekat kontrakan (15 menit jalan kaki), dan satu lagi TK yang jaraknya di antara kontrakan dan kampus (15 menit juga jalan kaki). Setelah berkonsultasi dengan suami, akhirnya hari itu kami berangkat ke TK ke-2. Nah TK yang sekarang ini ya TK ke-2 ini, dekat dari kampus dan kontrakan. Saat awal lihat sekolah, kengaku ceritanya, kami dijelaskan tentang kegiatan sekolah. Mereka ramah, nanya2 soal asal muasal kami dan langsung ke ‘kemungkinan’ bakal di TK selama berapa tahun, minimal setahun maksimal 2,5 tahun. Alhamdulillah langsung ‘ketrima’ ceritanya, dilanjut dengan mengurus prosedur yang mengurai keringat dan air mata selama beberapa hari, ceileh lebay. Gurunya juga malah sama sekali gak nanya, ‘Anaknya bisa bahasa Jepang kan?’. Sama sekali gak ada kata2 seperti itu. Justru kekhawatiran itu yang saya utarakan ke gurunya. Tapi mereka membesarkan hati kami. Saya juga bilang kalau Kenta belum punya teman makanya pengen punya teman. Kebetulan di dekat kontrakan, jarang ada anak kecil. Tetangga sebelah kanan kiri aja para lansia.

Trus, Kenta bisa bahasa Jepang?
Saya itu ngajarin Kenta mpe gempor (gak gempor2 amat ding ya), tapi Kentanya tetep belum mau ngomong pakai bahasa Jepang. Paling cuman konnichiwak, doumo aja males, onegai/yoroshiku apalagi.
Pengen sih Kenta bisa bahasa Jepang biar bisa ngobrol ma temen2nya. Kalau Kenta nanti bilang pengen bisa ngomong pake bahasa Jepang, baru saya gembleng. Sekarang mah, tetep ngajarin tapi pelan-pelan aja. Tetep diajarin tapi gak maksa. Nih anak butuh ‘hidayah’ dulu biar mau belajar, kalau kepepet mungkin mau, hahaha. Lha pas temen2nya nyanyi dan Gurunya main piano, saya gak bisa bayangin Kentanya ngapain. Paling ikutan geleng kanan geleng kiri. Itupun kalau mau. Hahaha. Kemarin waktu menjemput Kenta sekolah dan menemaninya bermain selama kira-kira satu jam, saya hampir ngekek lihat Kenta maen ma temennya. Kenta nanya, “Kowe ki gek ngopo?” (Kamu lagi ngapain?) ke temennya dan temennya cuman nyengir. Dan mereka tetep maen air dan masak-masak-an lagi bareng. Jadi, Kenta sudah bisa nulis Hiragana, Katakana, Kanji? Udah doooong, hahahaha, percaya gak?

Saya sebenarnya gak mau mbandingin TK Jepang ma Indonesia. Secara saya belum pernah me-NeKa-kan Kenta juga di Indonesia. Tapi tau gak sih, TKnya sini tuh isinya cuman ‘maeeen’ mulu. Hahahaha. Iya, katanya basis pendidikan anak pra sekolah di Jepang ya bermain ini. Inilah yang bikin saya tenang memasukkan Kenta ke TK sini. Gak perlu harus bisa nulis atau baca huruf Kana, di Indonesia pun gitu ya gak wajib bisa nulis, mbaca, dan berhitung. Waktu Kenta paud dulu, Kenta termasuk anak yang jarang banget ndengerin gurunya. Senam gak mau, menggambar juga gak suka, mewarnai juga belum bisa. Kadang ngiri gtu sama anak temen. Tapi, begitu di sini, saya tenang-tenang, sante aja, yang penting Kenta ‘baik’ aja, udah cukup.

image
image

Jadi, kalau di TKnya Kenta sekarang, jam 8:40 – 9:00 orang tua nganter anaknya, setelah itu pintu gerbang ditutup. Gak bisa ortu nungguin di sekolah, alasan apapun. Kenta pun langsung kami tinggal, di hari pertamanya saat gak ada satupun yang paham dengan apa yang dia omongin. Tega ya, biarin aja. Hape saya hidupkan dengan ringtone kenceng, hahaha, biar kalau ada apa-apa bisa langsung disamperin. Suami yang nanyain mulu, Kenta gimana ya, nangis gak ya, mukul temennya gak ya, saya mah nyante aja.

Masuk genkan, kemudian ganti sepatu. Masuk kelas, topi dan tas dicantelin di tempatnya masing-masing. Jam 9 persiapan belajar, semacam kumpul bentar briefing ma Gurunya, dilanjutkan maen mandiri sampe kurang lebih jam 11:30, ini pun dengan catatan semua maenan harus dikembalikan ke tempat semula. Maennya bener2 bebas di halaman dan diawasi ma guru, pasti ya. Ada sepeda, bola, perosotan, jungkat jungkit, ayunan, bisa maenan pasir, air, pasir disiram, nyiram tanaman, masak2an, rumah2an, bahkan nanti ada renang juga di musim panas yeyy, pokoknya bebas. Boleh berkelompok, sendirian, bertema, gak bertema, bebas lah. Ada juga yang bikin proyek ma gurunya. Kalau kotor gimana? Gapapa, tinggal ganti baju aja. Hahaha. Biasanya sebelum beres-beres bareng, mereka kumpul bentar ma Wali kelasnya, ditanyain tadi maenan apa aja dan siapa yang mau cerita. Ada anak yang bikin puding dan dia cerita. Pasir basah dimasukin ke mangkok2an. Hahahaha itulah puding.

image

image

Biasanya sebelum makan siang, kalau ada yang baju seragamnya kotor harus ganti. Karena itu, minimal ada satu set baju ganti (celana, atasan, daleman, dan kaos kaki) yang harus ada di sekolahan. Dan Kenta pun melakukannya, wajib semua anak ding.

image

Oh iya ngomong-ngomong soal persiapan TKnya Kenta. Memang agak ribet dengan urusan seragam, kantong-mengantong, dan kira2 habis sekitar 30.000 yen (tiga juta rupiah-an) untuk mempersiapkannya. Busyet habis untuk apa aja? Sebenarnya standar sih ya, sama kayak di Indonesia: seragam (celana dan atasan putih panjang, pendek, atasan semacam rompi, sweeter musim dingin), topi ada tiga jenis: topi musim dingin, musim panas, dan topi main sebagai identitas kelas), tas, peralatan sekolah (crayon, lem, gunting, kotak alat tulis, nametag), baju biar gak kotor ‘sumokku‘ (biasanya dipakai saat mewarnai, menggambar, dan bermain di luar biar seragam putihnya gak kotor2 amat), beli sepatu ruangan, kantong-kantong (kantong baju ganti, kantong sikat gigi dan gelas, kantong bento, kantong buku gambar, kantong sepatu), kotak bento, botol minum, sepatu boots klo hujan, jas hujan, payung, handuk kecil ditaruh di celana, dompet tisu, handuk buat cuci tangan, dll. Juga, stiker tempel baik kertas maupun kain untuk menamai semua barang2 pribadi itu. Wajib bernama semua ya. Hahaha, iya, Sensei. Ribet? Gak sih gak ribet, tapi bikin ‘nangis’ hahaha dasar cengeng…bikin lembur…bikin deg-degan…bener gak ya…ternyata TKnya Kenta gak yang ‘detil’ banget untuk alat-alatnya, denger2 ada TK yang begitu. Oh iya, kebetulan TKnya Kenta TK negeri…kalau swasta, gak sanggup saya mah, pasti mahalnya, dijamin….

image

Setelah bermain selesai dan beres-beres, dilanjut makan siang. Makan siang ini wajib dibawa sendiri. Dan bikinan ortunya, kalau bisa sih ya, tapi yang penting wajib bawa. Ada memang TK yang bentonya disiapin sekolah (tentu saja ada tambahan biaya), ada juga yang bisa milih bawa sendiri atau disiapin sekolah. Kebetulan kalau TKnya Kenta wajib bawa sendiri. Nah, ini menurut saya yang paling seru dari ritual perTKan ini. Karena sepulang sekolah yang pengen dilihat pertama begitu buka tasnya adalah isi kotak bentonya. Habis gak ya habis gak ya. Alhamdulillah hari pertama habis, kedua juga habis. Ketiga, cuma telornya yang dimakan, nasi ma sayurnya gak disentuh. Sedihnyo sedihnyo…berasa gagal, ceileh lebay lagi…

Trus, kasih aja uang saku buat jajan? Pertama, gak ada duit buat uang saku-uang sakuan. Kedua, gak ada yang jualan. Ketiga, emang Kenta bisa bayar kalaupun ada? Hahahaha. Gak ada ya budaya uang saku buat jajan di sekitar TK, karena gak ada yang jualan sih, mungkin dilarang juga ma pemerintah sini.

Yang jelas, TK di sini gak muluk2 targetnya. Kurikulum pasti ada, semacam bermain sambil belajar tapi gak muluk2. Saya juga kebetulan sante soal ini, asal Kenta mandiri dan berbudi pekerti baik aja itu sudah cukup. Sehat tentu saja.

Tunggu kisah selanjutnya ya. Saya penasaran, soalnya Kenta gak menerima satu pun buku pelajaran kaya waktu PAUD dulu, penasaran ada origami-origamian gtu gak, ada kali yak. Kita lihat aja….

Dewi
Ibu ndeso yang ingin menjadi ‘KenChan no Mama’.

image

Me vs I (SuSaH diHubuNGi)

Akhir-akhir ini saya kerasa banget bapernya untuk urusan komunikasi.

Kok saya merasa kayaknya saya susah banget untuk dihubungi ya? Lah begimane. Dari dulu sih memang gak cepet responnya, tapi ini sudah parah, ya gak ya…???
Balesnya lama, apapun itu. Ya fb messenger lah, line, bbm, wa, bahkan nomer hape sekalipun. Busyet parah banget guwah…! Ini serius gak lucu.

Bikin kesel pokoknya…bikin kesel orang yang hubungi saya juga…

Di Jepang ini, saya masih pakai hape Indonesia andromax bekas yang dipakai suami dulu.

image

Hapenya sering nge-hank tetiba dan memutih layarnya seperti itu. Kalau udah begitu, gak bisa dipake ngapa-ngapain. Kadang perlu ditepok ke dengkul dulu biar beres lagi atau dipijet2 layarnya. Saya gak tahu ini ngefek ke koneksi internet gak, cuman terkadang apapun itu (fb/ line/ bbm/ wa) datangnya terlambat. Padahal sinyal wifi internet penuh, full. Misal line jam 19:30 kebaca masuknya jam 20:00-an, itupun karena buka line. Kalau bukanya jam 21:00 bisa kebacanya jam segitu juga. Padahal notif udah dibunyiin digetarin tapi pas jam 19:30 itu gak ada bunyi apapun. Fb messenger pun demikian. Sebel rasanya.

Memang sih, kalau di kampus biasanya cuma digetar, manner mode lah ceritanya. Meskipun terkadang menganggu juga sih, makanya dibikin silent off sekalian, tanpa getar tanpa bunyi. Ini tambah lama balesnya hahaha tapi biasanya mode ini dipakai pas kuliah biar konsen ceritanya.

Hape Juga, susah dihubungi. Saya punya hape ini.

image

Pakai nomor Jepang dengan provider docomo, sebulan 3000-an yen, bisa lebih tergantung pemakaian, bahkan pernah sampai 5.000 yen hiks. Murah? Gak juga, karena ini tanpa koneksi internet, cuma pakai i-moodo. Tapi bisa buat telepon dan sms. Hape ini kalau di kampus, jelas wajib manner mode. Naaaah, kemarin Jum’at ada satu miscall dan ternyata itu dari TK-nya Kenta. Jelas ini urusan penting. Tapi karena saya tahunya jam 18:00-an dan kemungkinan sudah tutup sekolahnya, gak saya telepon balik lah. Kesel gak sih, rasanya sebel banget. Bukan gimana-gimana, cuma sedih banget bikin orang lain kecewa. Udah gitu Sensei-nya Kenta pasti bilang ‘Oisogashii tokoro o sumimasen‘. Yak ampun, sedih banget rasanya. Mereka tahu posisi saya sebagai mahasiswa makanya mereka juga khawatir kalau menganggu kuliah. Padahal gak juga sih, Sensei. Kalau pas gak kuliah dan saya tahu ada telepon, insya Allah saya angkat. Nah, masalahnya kalau ‘tahu’ itu lho…

Saya belum tahu mau ambil solusinya gimana.
Secaraaaaa ya, di kontrakan sudah ada pocket wifi dari au-kddi, dulu belinya hampir 30.000 yen (Sekitar 3 juta rupiah, bayar sekali aja mah. Sebenarnya mau dicicil cuma waktu itu butuh kartu kredit kalau mau dikredit. Dan saat itu saya belum punya.) dengan biaya bulanannya 4.000-an yen. Bulan pertama bisa sampai 7.500 yen, buat administrasi katanya. Pocket wifi ini bisa dibawa ke mana-mana dan unlimited bisa sampai 8 gadget bisa terkoneksi internetnya. Cumaaan, dulu kepikiran beli ini untuk suami yang di kontrakan. Saya pas di kampus pakai wifi kampus, jadi bisa komunikasi ma suami. Cumaaan, ya itu, kalau saya lagi di luar, selain kontrakan dan kampus, ini lah saya dengan kelabakan saya. Bingung nyari koneksi internetnya, nyari wifi gratisan di konbini (itupun kalau ada). Sedih banget ya.
Sebulan sudah hampir 8.000-an yen lebih untuk biaya internet + telepon.

Soal hape suami lebih parah lagi. Nyampe Jepang hape 4G andromaxnya hamil. Batrenya menggendut berlanjut tak sadarkan diri. Dan tewas tanpa nama. Sedih banget. Tapi, alhamdulillah ada murid baik hati yang menawarkan hapenya yang dia pakai dulu. Akhirnya saya beli dengan harga miring semiring-miringnya. Sangat terbantu dengan keberadaan hape iphone 4 ini. Ngomong2 hape iphone 4, saya sebenarnya punya satu. Dikasih teman yang dia pungut di tempat sampah. Saya coba cas, bisa nyala. Rejeki lah saya pikir waktu itu. Tapi sayangnya, masih ada koneksi internet lengkap dengan provider softbank di situ. Karena takut kenapa2, kelacak karena katanya iphone bisa dilacak bin takut dituduh macem2 ya sudah hape itu sudah di-byebye. Haha bahasane.

Trus, bagaimana saya dan masa depan komunikasi saya???
Rasanya pengen beli hape baru sekalian koneksi internetnya tapi belum ada anggaran untuk itu. Sedihnya sedihnya… Coba di Indonesia ya, beli smartphone terbaru 3 juta-an dengan bulanannya 100 ribu aja beres, kayaknya ya. Udah plus telepon dan sms. Tapi sinyalnya, Gusti Alloh paringana sabar, saya mau videocall ma simbok aja gak pernah bisa, di rumah saya sinyal XL jelek banget. Kalau di sini memang internetnya lancar jaya, selancar koneksi diriku dan dirimu saat jatuh cinta, tapi orang Jepang pun juga pernah mengeluhkan provider-provider (DOCOMO, AU-KDDI, SOFTBANK, YMOBILE, dll) gegara tagihannya. Kalau ditanya paling murah mana, sama aja kayaknya. Teman saya orang Jepang sebulan bahkan sampai 13.000 yen karena dia pakai android AU-KDDI (singkat cerita aja begitu, mungkin plan yang murah juga ada sih). Mahal banget memang, apalagi kalau dibandingkan ke rupiah, bisa nggak pake hape sekalian kayanya kalau gak kuat, gak kuat bayanginnya. Tapi uang segitu, buat orang Jepang mah murah, secara gaji mereka 250.000 yen paling sedikit. Aman lah, segitu. Bisa terhubung dengan kantor dan gaul dengan teman, pokoknya. Sudah-sudah jangan membandingkanlah, Indonesia dan Jepang dua dunia berbeda. Dunia yang bisa dinikmati saat kita berada di masing-masing tempat itu. Love both of them.

Ada dua sebenarnya yang menjadi opsi atas semua masalah ini, sementara masih dalam tahap pengajuan anggaran, ke siapa, ke Yang Maha Menganggarkan Rejeki.

1. Hape baru dengan koneksi internet baru. Hape di sini tak masalah kalau harus bekas, second, dll. Nah yang jadi masalah koneksi internetnya. Ada T-SIM sih yang katanya sebulan 2.000 yen untuk internetnya. Ini masih dalam tahap gagasan dan pemikiran yang melandasi setiap pergerakan saya. Ngemeng epee

2. Menjadikan satu antara hape Jepang (nomor Jepang) saya dan smartphone. Opsi ini adalah dengan mendatangi kantor DOCOMO (provider hape Jepang saya) dan bilang kalau mau ganti hape dan plan-nya. Pasti tambah mahal sih karena hape saya aja yang lama belum lunas hahahaha. Ditambahkan kayanya ya ke tagihan baru. Pertama, bayangan saya kalau ganti ke iphone6 ya sekitar 8.000-an yen sebulan (sudah dengan internet yang cukup untuk menghidupi koneksi sosmed). Saya sebenarnya belum terlalu tertarik dengan iphone sih. Tapi, DOCOMO sedang promo iphone6 ini. Kedua, kalau android pasti mahal. Hahaha. Pakai plan semurah-murahnya pun pasti jatuhnya mahal. Lagipula, kenapa gak dari dulu ya begini? Hahahaha. Yaa namanya proses, saya juga sedang berproses. Ngomong-ngomong iphone6, hape ini bagus bingit dah. Recommended buat yang gaul. Kalau di Jepang bisa didapatkan dengan cicilan, selama kurang lebih 2 tahun meskipun kalau dihitung-hitung mahaaalnya. Tapi gak terasa lah pokoknya karena tahu-tahu lunas. Yang penting, komunikasi lancar jaya, itu jauh lebih penting.

Bismillah aja lah…rejeki tak ke mana…jodoh pun tak ke mana… Jodohnya rejeki juga tak akan ke mana-mana… Pun rejekinya jodoh tak akan ke mana-mana juga…

Dewi
Komunikasi itu penting. Tapi jauh lebih penting mengomunikasikan hati dan pikiran-ku dengan-mu biar kita selalu terhubung. ***tsaah ngomong opoo… Pun dengan begitu, Sang Maha Penghubung akan selalu menghubungkan kita, di manapun kita berada… Aamiin

CeRita HoRoR: TRaGedi TiSu ToiLeT di JepanG

Jangan bayangin saya bakalan cerita tentang Hanako si penunggu toilet perempuan yang mukanya gak kelihatan karena tertutupi rambutnya ya. Atau zombie yang menggulung dirinya dengan tisu toilet kaya mumi gitu…
Ini bahkan jauh lebih horor, karena berurusan dengan pertahanan hidup. Seriously? Ah, gak juga sih hahaha…

image

Buat kalian yang tinggal di Jepang, apakah kalian pernah sekali membayangkan Jepang tanpa tisu toilet? Menurut kalian, mereka bisa ‘bertahan hidup’ kah?

Sebenarnya langkanya tisu toilet di Jepang, pernah terjadi pada tahun 1973 saat krisis Minyak terjadi. Di supermarket manapun di Jepang tak ada tisu toilet kala itu. Trus gimana? Wah saya gak tahu cerita selanjutnya secara detail, tahu-tahu aja sudah teratasi. Hehehe.

LAngsung lanjut aja ke masa sekarang ya.
Berangkat dari pahitnya masa lalu di mana mereka pernah merasakan langkanya tisu toilet, mereka melakukan terobosan teknologi yang sangat super duper canggih untuk mengantisipasi kejadian serupa terjadi lagi. Mulai dari daur ulang, dan lain sebagainya. Anggep saja mereka punya sumber terus menerus yang akan menyediakan bahan kertas untuk membuat tisu toilet itu, entah dari impor atau produksi sendiri (nanam pohon instan, bikin hutan buatan misal).
Postingan ini cuma mau ngajak berandai-andai aja..

Seandainya tidak ada tisu toilet apakah mereka bisa ‘bertahan’?
Secara yaaaa, mereka tidak akan pernah membiarkan toilet itu tanpa punya cadangan tisu. Yak iyalah masa iya begitu “selesai” dan ternyata tisunya habis? Hahaha, gak lucu.
Di kampus saya malah cadangannya ada lebih dari lima kayanya. Ada sepuluh juga kayanya. Kalau mahasiswa iseng, ada yang bawa pulang kali ya.
***Ups pemikiran ini kayanya cuma saya yang punya, hahahaha***
Saya jarang pakai tisu toilet sih ya, jadi saya sama sekali gak akan pernah melakukannya hahahaha. Bayangkan, satu gulung tisu toilet gratis (awal masuk asrama kampus dikasih satu sambil dipeseni yang selanjutnya beli sendiri ya) sampai saya keluar dari asrama itu belum juga habis. Enam bulan saya tinggal di sana.
Pertama, saya jarang pakai. Kedua, ngirit. Ketiga, sayang bumi. Keempat, ribet. Kelima, saya punya handuk kecil. Keenam, saya ndeso. Ketujuh, selesai.

Kembali ke topik.
Saya belum pernah tanya serius soal toilet-menoilet dan tisu-menisu toilet ini ke orang Jepang, what should they do kalau misal tak ada tisu toilet. Alasannya: pertama, jorok karena ngomongin toilet dan pasti membahas soal membersihkan dll. Kedua, belum ada waktu. Ketiga, belum sempet. Keempat, belum saja.

Tapi, saya pernah ber’diskusi hangat’ soal toilet dengan teman-teman Jepang, secara mereka akan pergi ke negara di mana toiletnya lebih jelek dari toilet jongkok kita, tanpa tisu toilet tentu saja, air mah ada pa kagak saya gak tahu.
Saya yang mulai pembicaraan waktu itu, “Kalian gapapa gak ada tisu toilet di sana?”
Satu yang bilang, “Gapapa… mungkin… sih….”
Karena ada ‘mungkin’ saya kejarlah.
“Yakin gapapa?” ***minta dihajar nanya ini****
Dia mulai berpikir…. trus senyam-senyum sambil menjawab, “Gapapa pasti…kan ya….”
(Yakin gapapa? Ini masalahnya orang Jepang yang sejak kecil udah dikenalin tisu toilet sebagai “satu-satunya” alat untuk membersihkan “diri”… kan??? Tapi zaman sekarang kebanyakan toilet bidet sih toilet yang lengkap tombol-tombolnya, pasti ada air yang bisa disemprotkan. Jadi, gak satu-satunya juga sih cuma pake ’tisu toilet’ saja, bisa juga ‘air + tisu toilet’).
Akhirnya, saya bilang “Gapapa lah, pasti gapapa, paling cuma butuh adaptasi aja.”
Saya ceritain lah, di Indonesia juga jarang banget ada dan pakai tisu toilet (kecuali yang ada).
Kami lebih sering pakai air untuk membersihkannya. (Saya gak mendebatkan soal tisu toilet vs air ya, no offense apalagi sampai nyangkutin ke agama, ini ngomongin orang kebanyakan).
Saat awal di Jepang memang kaget karena gak ada ‘air’ (kecuali toilet bidet ya). Tahun 2008 jarang ada toilet bidet, sekarang mah hampir banyak.
Pembicaraan itu berhenti sampai di situ karena sesinya sudah berakhir.

Kita mah orang Indonesia, eh saya ding (saya yakin banyak orang Indonesia moderen gak seperti saya yang ndeso hehehehe), sekali lagi saya, adaptasi di Jepangnya bukan trus pakai tisu toilet ya, tetep gak bisa, zettai muri, kanaaa. Tisu basah pun gak mempan.
Satu yang sering saya lakukan kalau nemu toilet ya gak ada bidetnya adalah membawa botol minuman aqua kosong ***cieh sebut merek, sini gak ada aqua adanya aquarius hahaha***.
Bayangkan (buat yang belum tahu toilet Jepang kaya apa, ada banyak jenis sebenarnya), di dalam toilet cuma ada kloset + tisu toilet + tombol/ sensor tangan buat mengguyur. Gak ada semprotan air, tentu saja. Krik kriik krikimage

lah rasanya.

Secara umum, ada dua jenis toilet di Jepang, yakni toilet ala Jepang (mirip ma kloset Jongkok kita, tanpa ember berisi air tapi ya) dan toilet ala Barat (mirip kloset duduk kita). Nah toilet ala Barat ini ada dua jenis: pertama kloset duduk biasa (kloset + tuas buat guyur) dan kloset duduk spesial dengan bidet yang air+dudukannya bisa hangat saat musim dingin (kloset dengan tombol lengkap dengan air buat guyur pantat/bagian depan perempuan + tuas/ tombol buat guyur). Semua toilet itu pasti punya tisu toilet, tenang saja. Tapi gak janji kalau soal air ya….

image

Bawalah saya aqua yang ukuran mini, biasanya. Kalau ke toilet tersebut ya diisi di wastafel dulu baru dah dipakai. Paling gak di situ merasa nyaman aja.
Nah, tisu toilet biasanya mah saya pakai untuk mengeringkan toiletnya aja secara toilet sini toilet kering yang menjunjung tinggi kekeringan. Hahaha apa sih. Sumpah tips gak mutu.
Cewek mah ‘wajib’ juga bawa handuk kecil.

Balik lagi ke tisu toilet.
Saya baru sekali beli tisu toilet di Jepang, itupun karena ada tamu yang mau datang. Malu lah punya tempat tisu di toilet tapi gak ada tisunya.
Akhirnya saya cari di supermarket dekat stasiun. Busyet dah jualnya satu plastik isi 8 ***baru tahu saya, kaget karena gak pernah kepikiran bakal beli soalnya***.
Saya sampai tanya, dijual satuan gak? Dia bilang maaf gak ada.
Akhirnya saya pindah ke konbini (toko 24 jam), ada di sana juga tapi isinya 4, harganya 300-an yen, mihil ternyata. Klo dirupiahin sama aja kayanya ya…

Jadi, intinya…..apa?
Uhmm apa ya?
Pakailah toilet sesuai kebutuhan dan kenyamananmu. Mau pakai air kek tisu toilet satu gulung kek, terserah aja. Hahaha.
Kalau ‘terpaksa’, endingnya gak enak soalnya kan kita sendiri juga yang merasakan, bukan orang lain. Jiaaah ngomongin apa to ini???
Jangan pernah tanya ini ke orang Jepang beneran ya… karena mungkin mereka memang gak akan pernah kekurangan tisu toilet lagi…kayanya…anggep aja gitu…ya…?
Jadi, mereka bisa ‘bertahan hidup’ kah tanpa tisu toilet? Bisa-bisa aja kayanya…kan…

image

DEWI
Toilet-menoilet itu urusan pribadi, jadi bertoiletlah dengan bijak dan santun, serta berperilaku sopan. Jangan sampai merokok atau telpon di toilet apalagi malam-malam yang sepi ***horor tauk***
Pikirkan orang lain setelah pakai toilet. Kalau kamu nyaman, bikinlah orang lain nyaman juga. Oke? Salam toilet….
(Oh iya toilet2 dlm cerita ini adalah toilet perempuan, saya belum pernah ke toilet cowok lho yaa. Mungkin sama aja sih. Hahaha)

RumAnGsAmU PeNaK

RUMANGSAMU (ke)PENAK

Istilah ini dari bahasa Jawa, kalau dibahasa Indonesia-in, kira-kira artinya jadi: LU PIKIR ENAK?? Ada banyak hal yang bisa membuat kita berpikir dan bisa ngomong ‘rumangsamu kepenak’, tapi bisa disempitkan jadi satu, biasanya orang yang ngomong gitu yaaa… lagi galau… hihihi…saya contohnya…

  • Pertama, rumangsamu penak? Yo penak.
  • Kedua, rumangsamu penak? Yo dipenak-penakke.

19747614

RYUUGAKUSEI (mahasiswa asing)

Saya dulu sempat berpikir enak ya kayanya kalau bisa kuliah di luar negeri, terutama Jepang (karena jurusan saya Sastra Jepang), apalagi gratis dibayarin tinggal mikir belajarnya. Pasti enak ya. Pasti enak deh pokoknya.
Bisa menuntut ilmu jauh-jauh sampai ke negeri (deketnya) Cina, dibayarin lagi, syukur2 bisa nabung, bisa buat bantu orang tua, dan biaya modal…modal nikah maksudnya (waktu itu).

Anggapan itu tidak berubah sih sampai sekarang sampai akhirnya mimpi itu beneran dikabulkan Alloh SWT, meskipun tidak semua sudut itu ‘enak’. Dibikin enak-enak aja sih bisa-bisa saja. Tapi, kalau seperti itu, kesannya jadi terpaksa dan tidak ikhlas mensyukuri semua nikmat ini? Semua nikmat menjadi ‘ryuugakusei gratisan’ ini?
Kalau flashback ke ingatan masa lalu, betapa saya dulu pengennya (pake sangat amat sekali banget-banget) bisa pergi ke Jepang.
Bukan apa-apa sih, tapi sebagai mahasiswa jurusan Sastra Jepang , kalau pernah merasakan Jepang itu bisa dijadikan ‘nilai plus’. Alhamdulillah dulu berkesempatan 2 minggu mengikuti seminar di Fukuoka,  Jepang (tahun 2008). Tetep aja setelah itu, masih pengen ke Jepang lagi, merasakan ‘hidup di Jepang’ yang sebenarnya. Harapan dan doa itu terus dipanjatkan…
Dan 2004 – 2015 bukan waktu yang sebentar…

Menjadi mahasiswa yang diberi beasiswa memang bisa menjadi ‘berkah’. Perjuangan mendapatkannya pun tak hanya membutuhkan tenaga dan pikiran. Air mata peluh keringat mengejar ‘deadline’ pun jadi tambahan, bahkan kalau kurang punya keluarga orang tua juga bisa ditambahin. Kecewa sedih galau ketika kegagalan melanda, itu sudah biasa. Kalau ditulis jadi novel pun bisa 10 series (Lebay bgt sumpeh)…
Daaan…., setelah semua itu pun,  saya yakin masih ada perjuangan yang harus dilakukan selanjutnya dan seterusnya..
Termasuk teman-teman sains yang setiap hari ngelab, bahkan sampai tidur di lab, full seminggu demi eksperimen yang harus dilaporkan dan dipertanggungjawabkan. Anak sosial yang harus baca buku Jepang seminggu bisa nyampe 4 jilid beda-beda dan wajib ngumpulin laporan per minggunya. Itu baru satu mata kuliah. Di’marah’in ditegur profesor. Di’jutek’in printer, laptop, ma komputer lab???
Belum lagi, kalau harus ‘bermasalah’ dengan hal-hal non-akademis seperti kehidupan sosial (pergaulan dengan teman se-lab se-bimbingan dan warga), birokrasi dan tetek bengeknya, pokoknya seru lah. Lelah jiwa raga batin nurani… menangispun tak akan menyelesaikan masalah… dan saat itu lah merasakan bahwa kita beneran sendirian di dunia ini…i am alone with myself

Lha terus, Rumangsamu penak?
Ya enak lah. Ngapain gak enak.
Kapan lagi bisa kayak gini…. Kapan lagi bisa baca buku habis itu pusing melanda perut mual-mual dan hidung ingusan?? Hihihi ini mah emang lagi sakit… Kapan lagi menulis laporan pakai bahasa Jepang yang mau gak mau pakai kanji, buka kamus + gugel translate + aplikasi hp dipakai semua… Rempong? Ya gak lah, namanya juga belajar… Kapan lagi dianggep enak bisa kuliah gratis di Jepang? Semoga enak terus lah…

Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’mal nashir (Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung)

JISSHUUSEI

* Gajinya kecil karena ‘magang’. Pokoknya, tenaga diperas tapi upahnya dikit.
* Disuruh-suruh, dibentak-bentak, pokoknya jadi ‘terbawah’ di perusahaan
* Gak bisa leluasa beribadah seperti di Indonesia.
* Dapet di puncak gunung yang mau ke mana-mana susah, transport mahal.
* Harus bisa ngomong pakai bahasa Jepang dan bukan mereka yang mengalah pakai bahasa Indonesia???
* Gak bisa pulang selama kontrak kerja, apapun yang terjadi dengan keluarga di Indonesia, termasuk pacar yang ngambek dan minta putus kalau gak bisa jemput jam 10???

Resiko, bukan ya?
Kalau memang resiko, sudah tahu seharusnya sejak awal mengambil keputusan menjadi ‘jisshuusei‘. Bangun pagi berangkat kerja pulang malam capek tenaga dikuras habis. Lemas lelah letih lesu. Ngantuk. Begitu tiap hari. Bosen tauk. Capek tauk. Monoton.

Rumangsamu penak jadi jisshuusei?
Ya, enak. Kan?
Loh, emang gak enak?
Kok gitu sih, harusnya kan enak?
Sudahlaaaah, anggap saja enak…

Gimanaaaa…. tetep gak enak?
1. Gaji lebih besar, jika dibandingkan dengan diri sendiri sedang bekerja di Indonesia sekarang dengan predikat lulusan SMK dan newbie, iya gak sih? Kalau gak, yawdah. Wkwkwkwk.

2. Di Jepang.
Kapan lagi bisa ke luar negeri? Gratis tiket PP? Dibayar malah. Bisa naik shinkansen (kalau mau, bayar). Bisa internetan cepet. Bisa ke USJ Tokyo, Osaka, Kyoto, Nara (yg ini maksa bgt dimasukin). Bisa kaiwarenshuu langsung ma orang Jepang, kapan lagi coba??? Bisa apa lagi ya? Banyaklah pokoknya.

3. Bisa nabung
Entah demi apapun itu target nabungnya. Bisa jadi tabungan sekarang, kalau kerja di Indonesia butuh waktu bertahun-tahun, lho? ? ?  Serius. Mbok coba dibaperin biar tahu rasanya ‘bersyukur’…

4. Bisa bikin ortu bangga
Saya kurang tahu soal ini. Apapun yang kita lakukan, selama itu baik, insyaAlloh membanggakan mereka. Lihat anaknya rajin beribadah aja udah bahagia banget, didoain tiap hari. Kalau saya sekarang, udah jadi orang tua, lihat anak bisa nyanyi aja udah bangga. Hihihi.

5. Bisa jadi ‘pengalaman berharga’
Nah ini nih yang tak ternilai harganya. Masih muda, ber’pengalaman’ (semoga pengalaman yang baik). Bisa belajar banyak, dari siapapun dari manapun dari kapanpun…Menjadi diri yang kuat, tahan banting, dan tangguh. pengennyaaa….

6. Bisa beli-beli
Ya Alloh, kapan lagi bisa beli macbook kamera iphone ipad sony experia terbaru dengan uang keringat sendiri???
Saya aja gak kuat beli 😭😭😭😭

7. Bisa mbaper, mellow, geje
Kapan lagi coba bisa tetiba nangis gara2 kangen sambal tempe dan sayur asem bikinan simbok, mewek2 pas telpon denger suara bapak, atau tetiba nyetatus geje (saya sih sering nyetatus geje), tetiba nanyain anaknya Pak Tono gimana kabar ya mak padahal udah punya fb (***kode2 minta dijodohin hahaha), dll.
Pokoknya, Bisa merasakan nikmatnya ‘merantau’ yang benar-benar merantau di perantauan bersama perantau yang merantau… 😅😭

Rumangsamu penak hidup di Jepang sebagai ryuugakusei maupun jisshuusei?
Hush gak boleh ngomong gitu ah. Kesannya susah merasa paling menderita di dunia dan gak bersyukur. Padahal orang yang bersyukur akan ditambah nikmatnya lho. Nikmat apa? Nikmat tenang batin jiwa raga nurani… Lantas, kalau kita gak di posisi kita sekarang, ke mana kita memang sekarang? Ada banyak orang yang pengen menjadi kita di posisi kita...? Tenang saja, kalau kita tidak bisa melakukan peran kita, nanti akan digantikan sama yang lain. Alloh SWT sudah mengatur semuanya. Bersyukurlah bersyukurlah…

Rumangsamu penak? Enak gak enak itu relatif. Punya duit 1 juta kalau lagi ngambekan ma pacarnya juga gak enak. Punya duit seribu kalau lagi kasmaran ya enak rasanya. Enak itu bisa jadi pas kita sakit tangannya tapi karena doski perhatian jadinya terasa enak. Jatuh cinta itu bikin tahi kucing rasa cokelat, apalagi cuma tangan yang sakit. Habis dimarahin bos kalau habis curhat ma eneng, hati abang jadi damai. Isshh isshh ishh… Enak gak enak itu kita yang ‘bikin’ lah…

Rumangsamu penak? Setiap nyetalkingin gebetan, tapi gak direspon. Tetiba pacar ngambek. Niat banget belajar, udah buka buku, buka kamus, tapi line bunyi trus dibales dulu lah, trus buka instagram ee malah stalking lagi, buka newsfeed facebook nyecrol sana sini ngeklik tahu2 sudah jam 11 malam, ngantuk lah besok kuliah besok kerja, bobo aja. Buku udah dimasukin ditata rapi buat belajar besok malam. Eh udah berdoa udah nyetatus ada bunyi bbm, dibales dulu lah, eee malah ngobrol, tahu2 udah jam 1 malam. Ya Alloh, itu saya banget. hiks. Coba diinget2 dulu bisa jago bahasa Jepang dasar, gimana caranya?  Dipaksa sensei, hahaha, dihukum dimarah2in kalau gak ngerjain tugas diomelin kalau nakal dicakar digrawus, emang kucing. Gak usah muluk2 nanya gimana biar jago bahasa Jepangnya, saya yakin udah tahu lho caranya, cuman gak dilakuin. Rumangsamu penak, di Jepang tapi bahasa Jepangnya gak majuーmaju?

Rumangsamu penak? Sudah sampai Jepang, punya banyak duit tapi sedekah ma tetangga gak bisa. Pulang nanti belum tahu ngapain belum punya planning apapun. Lha emang kalau di Indonesia biasanya ngapain? Uang mah bisa habis tanpa kita habisin. notedformyself

Rumangsamu penak?
Elo pikir???!!!
Kenapa lagi sih??? Galau???
Gak, biasa aja, sok tau…!!!
Lah daripada sok galau???

Rumangsamu penak?
Alhamdulillah…dijalani aja…semoga menjadi berkah di sana-sini, bukan menjadi kesia-siaan, sudah jauh2 sampai Jepang tapi gak dapat apa-apa..

Dewi
Yang bisanya merumangsa penak dengan cara mbaper dan nangis

BerHijAb di JepAnG

Maafkan saya, Indonesia… Ada beberapa hal yang mengganggu ke-cuek-an, ke-taukdeh-an, dan ke-entahlah-an saya selama ini…

“Ada yang bertanya kenapa saya tidak mendesain dan membuat Busana Muslim dan Jilbab? Sebuah komoditi bisnis yang sangat menjanjikan di Indonesia!. Jauh saya berbicara pada nurani saya, apakah saya mau mengeruk harta dan uang dari hasil berjualan atribut Agama yang dimana dikaitkan dengan pentas dunia fashion yang dikaitkan dengan ayat suci , dan saya mengeruk uang dan bisnis di dalam nya?,” tulis Oscar, Selasa 17 Mei 2016.

Oscar Lawalata merasa sedih melihat munculnya desainer baru yang merancang koleksi busana muslimah hanya untuk meraup keuntungan.

“Saya punya hati nurani dalam berkarya saya ‘tidak’ akan mencampuri bagian duniawi dalam perputaran uang dan bisnis dalam Sucinya Agama. Sedih ku melihat kesucian Agama yang dicampur adukan dalam pentas duniawi fashion dan busana, berlomba lomba menjadi desainer mutakhir dalam pentas busana Muslim,” ujarnya.

Imej hijab di Indonesia sekarang sudah menjadi imej fashion dan bisnis, lebih ngerinya lagi, menurut saya lho ini, sekarang imej kalau hijab menjadi simbol kelas sosial masyarakat. Bisa jadi, semakin mahal dan cantik dilihat hijabnya maka kelasnya lebih tinggi, lebih kaya, atau pendidikannya lebih tinggi? Bahkan, dari hijab pun (biasanya dari lebar atau nggaknya) orang katanya bisa menilai tingkatan taqwanya seseorang, bisa jadi (saya gak tahu sih) semakin lebar hijab seseorang semakin taqwalah dia? Semakin syari lah dia? Na`uzubillahimindzalik, saya gak tahu soal ini. Mbok berhijablah dengan biasa aja? Lah standar biasa kita beda, neng… Kamu pikir mewah dan luar biasa, lha buat kami biasa aja. Kalau flashback ke masa lalu, betapa dulu susahnya berhijab bagi muslimah di negeri Indonesia Raya tercinta kitah. Sekarang sudah di mana-mana memang, makanya ada selentingan orang yang bilang arabisasi bla bla bla. Betapa susahnya ya berhijab di Indonesia. Karena harus memperhatikan penampilan, saya mengoleksi hijab banyak-banyak. Mungkin cuma saya aja sih yang lebay. Kita bisa dengan mudahnya menjudge orang yang belum memakai hijab atau yang lepas pakai hijab.. Ternyata begitu sempitnya pandangan beragama kita? Saya, maksudnya.  Entahlah… (entahlah saya sudah “keluar, berarti pembicaraan saya selesai mengenai tema ini)

WeLcomE to JaPan: Maafkan Saya, Jepang…

Siang tadi saat matahari teriknya, saya, anak, dan suami jalan-jalan ke sebuah tempat perbelanjaan terkemuka di kota kami. Kalau menjadi perhatian oleh orang sini mah sudah menjadi makanan sajian harian kami, sudah terbiasa. Tapi, alhamdulillah mereka ‘tidak takut’ dan menjauhi saya yang pake penutup kepala ini atau suami yang sekarang memelihara jenggot (lagi), bukan apa-apa sih tapi berjenggot di sini berimej buruk dan kotor, yakni sukebe (mesum)… Hahaha maka saya pun selalu mengingatkan untuk mencukurnya, demi menghormati budaya sini karena kami tinggal di sini. Saya mah suka-suka aja suami jenggotan…

Dan,
Saat mengantri di kasir tadi, ada dua anak perempuan di depan saya, salah satunya bilang ke ibunya sambil menunjuk saya, “Nee…samui kana…” (Eh, mungkin kedinginan ya…)
Saya pura-pura gak ngerti bahasa Jepang sambil senyum-senyum tengok kanan kiri.

Kasihan ibunya ya, kasihan mereka. Gimana si Ibu harus menjelaskan ke anaknya ya kalau anaknya masih bertanya soal ‘pakaian saya’? Apa dia akan gugling di Smartphone-nya atau menjawab sekenanya? Hahaha saya jadi kepikiran soal ini. Seneng sih, karena ada anak kecil yang ‘memperhatikan’ jilbab (hijab?) saya. Mungkin dari situ dia belajar tentang perbedaan? Ah saya juga gak ngerti. Mungkin besok dia akan bercerita sama temannya atau bertanya sama gurunya atau melupakannya seakan tak pernah terjadi pertemuan ini, hahaha. Mungkin, bisa jadi, sang Ibu bisa menjawabnya dengan “Gaikokujin da.” (Orang asing.) Kalau kata pamungkas ini sudah keluar, itu berarti memang adanya mereka yang memaklumi kita sebagai orang asing dan segala tingkahnya…budaya JEpang sangat menjunjung tinggi ini, hubungan antara luar dan dalam“… Apapun itulah…

Sebentar lagi musim panas woiii, ‘pasti’ mereka akan lebih terheran-heran lagi melihat kami yang berjilbab (berhijab?) ini. Apa gak kepanasan? Ya panaaaslah…saya juga bukan manusia super yang bisa dingin saat kepanasan atau panas saat kedinginan. Saat mereka mulai ‘kepanasan’ dan sedikit demi sedikit membuka bajunya, di situlah kadang kami merasa mbaper sebaper-bapernya ‘ini pilihan kami’. Tidak ada yang memaksa. Musim panas pun akan membuat para perempuan beradaptasi dengan berpakaian mini.  Jadi, saya juga akan berusaha biasa aja juga dengan penampilan mereka juga. Meskipun Jepang termasuk negara Timur yang katanya menjunjung tinggi kesopanan (sopan itu beragam definisi tergantung di mana kita tinggal juga ya), negara ini merupakan negara moderen yang berpandangan Barat, jadi kalau ngomongin penampilan ke kampus berpakaian celana mini itu biasa, catet ya b.i.a.s.a, apalagi ini kampus khusus perempuan dengan sedikit laki-laki jadi semakin bebas berekspresi. Kalau melihatnya di kampus umum, yang ada mahasiswa dan mahasiswi, mungkin lain cerita. Mahasiswi di sana pun pasti akan melindungi diri mereka sendiri dan punya cara sendiri beradaptasi juga…

Saya masih ingat betul kata dosen saya, “Bisa jadi hijab muslimah di negeri asing menjadi jalan dakwah mereka.” Kita tak pernah tahu, jalan hidayah seseorang, kan?

Tapi gak perlu maksain juga sih ya takutnya jadi alay alias berlebihan…sebisanya aja lah… Semoga tidak mengganggu mereka, itu sudah cukup, sebenarnya… Bisa jadi pun penjelasan kami tentang hijab di Indonesia pun sebenarnya bukan hal yang menarik untuk dibahas bagi mereka. Mungkin-mungkin aja sih ada beberapa orang tertarik dan habis mendengarkan kami, dia gugling juga, lah?? Kalau mereka bertanya, barulah kita jawab, iya kan? Terkadang kalau kita merasa maksain ‘harus memberitahu kalau kita ini muslim lho’ wajib ini wajib itu, kesannya kok ya maksa yaa, semacam ‘memaksa’ mereka buat ngertiin kita. “Masuk” gak maksud saya? Lah elo siapa? Mau pakai apa kek terserah, emang gue pikirin, asal gak ganggu saya? Tapi, mereka juga kan nanya, “Memang kenapa elo gak makan babi? Enak lhooo… Sake juga bisa menghangatkan tubuh saat musik dingin… bla bla bla…”
Ya begitulah….kira-kira begitu…anggap saja begitu…ya?

Dakwah sih dakwah… Tetapi, TETAP SAJA hidayah itu hak mutlak Alloh SWT..

Puasa juga… Dulu ada teman JEpang yang nyeletuk ke saya Apa gak mati seharian gak makan? Saya jawab aja nggaklah, buktinya saya masih hidup. Setelah itu kami tertawa bersama. Saya juga bercerita kenapa kami harus berpuasa selama satu bulan, bla bla bla. Saya juga gak bilang, Mbok dicoba kamu kayak saya? Gak akan pernah bilang seperti itu. Kalau dia bilang sendiri dia mau mencoba, barulah saya kasih dukungan.

Jadi, intinya?

Berhijab di Jepang memang pengalaman baru bagi saya. Seru-seru sedih bercampur  jadi satu. Saat melihat muslimah lain yang berhijab, rasanya senang sekali. Rasanya terharu, untuk hanya mengucap Assalamu`alaikum dan mereka menjawabnya saat bertemu di tengah kerumunan.
Terimakasih, Jepang, sudah mengizinkan kami berhijab di negaramu, berinteraksi dengan wargamu tanpa mereka ‘melukai’ kami. Apapun yang ada dalam benak dan pikiran mereka, selama ini mereka masih menghormati kami, sebagai sesama manusia, mungkin. Mereka lebih memanusiakan kami, tanpa menjudge apapun tentang kami, tanpa memikirkan lebar hijab, rok atau celana (no offense ye), atau apapun itulah. Bisa jadi imej Islam dan hijab di internet dan media massa pun mereka tidak peduli-kan demi menghormati kami atau mereka sebenarnya juga tak peduli, entahlah. (entahlah saya sudah “keluar”, berarti pembicaraan saya selesai mengenai tema ini)

Alloh SWT yang memelihara kita, semoga menempatkan kita dalam orang-orang yang beriman..

Terimakasih, sekali lagi, Jepang…

Salam perdamaian…
Salam panas-dingin musim Semi…

無題

Dewi..

Sekali lagi, esensi itu lebih penting dibanding cover. Mari kita sama-sama belajar untuk tidak mudah menjudge baik buruknya seseorang dari penampilan–karena judge-menjudge itu urusan Alloh SWT — Semoga kita bisa menjadi manusia yang memanusiakan manusia lainnya. Maksudnya? Silakan cari sendiri hahahaha