三月

この日には
泣いたまま続けなきゃ
手を繋がって目を見合わせたら
諦めちゃった、かな

人生誰よりも知らん
信じることか涙か驚かせることか
自分で決めなきゃ
もし続けたら色々
感動させるか泣かせるか
心配だった、かな

君のそばには良いことじゃないか
俺のそばには悪いことじゃないか

まずい思い出でも
泣ける日々でも
笑える瞬間でも
ダメな機会でも
一緒にいてくれて
良かった、かな

もう終わりって言わないで
もういやだってそのままで黙って
いつかまた会える日々を
新しいチャンスするかも
会えるって会える、かな

黙ったまま良い
笑ったまま良い
泣いたまま良い
動いたまま良い
かな

濃いコーヒーには恋を入れた
まずいが美味しく入れちゃった
幸せさあ心も胸も速く走れ
こんな心配さなかった、かな

ドアのベールならすな
壁で話し合って顔を隠して
目を見なく風邪で触らないで
いつか痛み感じない時には
きっと来るよ
電話番号教えても
怖い気持ちなかなかちゃうかな

デウィ

Keniscayaan

Buih-buih mulut itu kembali terdengar
Di antara lelahnya malam dan dinginnya tembok
Sayup angin sepoi menguasai
Hanya saja,
Suara parau itu semakin jelas

Bukan nenek lampir
Maupun gendruwo ijo
Wanita cantik dengan rambut terurai
Yang kata orang itu disebut kawaii

Busa-busa itu mulai terkumpul
Entah berapa kali pintu itu terbuka
Mungkin,
Bisa diibaratkan seperti layar kapal
Yang membiarkan angin menggerakkannya

Bukan, bukan angin
Ada nahkoda yang membuatnya laju

Seperti keniscayaan yang sering kupercayai
Bahwa terkadang kita hanya butuh kesendirian
Menyadari kita datang sendiri
Dan pergi pun sendiri

Tak perlu risa-u apalagi gala-u
Menunggu kesempatan itu datang
Waktu yang akan memanggil
Angin yang akan mengabari
Detak ini yang akan menghitung
Berapa sisa kita

Mungkin,
Diam memanglah emas
Emas berkilau yang menyejukkan
Menyadari batas-batas kita dalam percaya
Kemampuan sendiri dalam menata
Hati
Pikiran
Perbuatan

Tidak ada kuasa atas
Nista dusta kita

Kembalikanlah kepada sejuk-sejuk itu
Atas apa yang memerihkan jiwa
Mungkin,
Kita bukan jodoh
Untuk saling menambatkan rasa yang terperi
Rasa yang teriris
Yang entah kesekian kalinya membuat hati terluka

Angin tetaplah angin
Tanpa sejuk meski kita tiup
Bukan pula kuasa angin membuatnya sejuk
Lalu,
Apa kau tetap tak memilih?
Antara dingin dan panas?
Atau tak ada keinginan itu?

Biarkan kujalani sendiri
Tanpa perihnya kaki
Merahnya telinga
Sakitnya luka

Hanya karena,
Busa-busa dari ujung pintu itu
Yang karenanya,
Tak ada obat yang menyembuhkannya

Hati-hati dengan busa itu
Bisa mencuci apa saja
Harapan dan keyakinan

Langkah ke depan
Semoga lebih ringan tanpa buih-buih putih itu
Oh tidak gampang tentu saja

Izin itu tetap yang kumau
Tanpa harus luka
Duka
Maupun lara nestapa

Bergerak mundur
Dari harapan bersama
Batasku tak bisa
Menjemput batasmu

Kasta itu menghalalkan kita
Tetaplah ada menumpahkan lara
Sadar akan ada air mata
Di setiap hembusan nafas
Aroma peluh yang membatasi kita

Iya, tahu

Bantul, 2017.3.12 20:40
Dewi

(Selesai)

Serba-Serbi Penulis (Part II)

Mau tanya dong, hal apa yang paling menyenangkan dari menjadi penulis?
Selain ‘dapet duit’ yang bisa buat beli macem-macem sih, dapat juga pengalaman lahir batiniah sewaktu buku kita dibeli.

Maksudnya? 
Ya gitu deh. Ada juga testimoni/email pembaca, dan itu seru juga bacanya, meskipun kadang respon balas gue lamaaa.

Duit?
Iya, pas awal-awal gue nulis tuh ngetiknya pake komputer jadul yang dulu memang difungsikan untuk menulis skripsi. Alhamdulillah banget waktu itu Ibuk beliin komputer. Sekarang, komputernya dipakai kakak, atau di-tukar-tambah ya, karena saking jadulnya. Dan dulu sewaktu hamil Kenta, bisa betah ngetik di depan komputer demi dikejar deadline. Selang beberapa bulan setelah Kenta lahir, gue beli laptop Fujitsu hasil royalti gue. Perjuangan banget dah waktu itu. Oh iya, printer juga, mpe jebol-jebol setelah dipakai buat nyekripsi. Bener kata orang-orang, ngerjain skripsi itu adaaaa aja yang ngadat. Komputer lah, flashdisk lah, printer lah. Kalau udah begitu, tinggal berdoa deh.

Ada pengalaman lucu gak selama jadi penulis?
Ada banyak pengalaman sih sebenarnya, tapi gak lucu. Hahahha. Gue pernah liat dengan mata kepala sendiri, orang yang bawa fotokopian buku gue. Lha gile aje. Waktu itu gue cuma ketawa, nyengir, dan berdoa ‘Semoga ilmunya bermanfaat.’ dan kebetulan dia tidak tahu kalau penulis buku fotokopian yang dia pegang itu adalah gue. Tapi waktu itu mikirnya juga masa bodo deh dengan royalti dll, karena bisa jadi orang itu gak bisa membeli versi aselinya. Yak iyalah ya makanya fotokopi. Bisa jadi karena stok yang gak ada di manapun (baik toko buku offline maupun online), bisa jadi juga karena ‘belum’ ada duit. Nyesek sih ya waktu tahu buku itu difotokopi. Hehehe.

Rugi gak?
Waduh soal rugi, kurang tahu ya. Ya itu tadi, kalau semua orang bisa fotokopi, ngapain ada ‘buku’ dan ‘penerbit’? Ye kan? Menghargai kreativitas orang lah, karena sebagian dari uang penjualan buku itu royalti yang kan jadi hak penulis. Hehehe.

Oh gtu. Lainnya?
Pernah ada yang minta tanda tangan dan gue bilang ‘Udah kamu aja yang tandatangan, saya saksinya.’ Trus dia cuma bengong trus nyengenges. Hahahaha. Gue tanya, ‘Bukunya bermanfaat gak?’ “Lumayan, saya belajar otodidak pakai buku ini.”

Royalti itu begimane sih?
Royalti itu ‘bayaran’ buku kita. Hehe. Ribet sih kalau dijelasin tapi intinya di setiap harga buku yang tertulis ada ‘bagian’nya penulis. Hehehe. Jadi, kalau kita beli suatu buku itu sebenarnya kita membantu penulis tersebut mendapatkan ‘uang’. Soal berapa besarnya, masing-masing penerbit punya kebijakan dan ketentuan royalti masing-masing. Coba dicek di web-web penerbit deh, pasti ada. 
Ada juga ‘beli putus’, itu semacam ‘beli naskah’ gitu, jadinya gak dapat royalti setiap kali buku kita terjual. Enaknya yaa sekali nerima gedhe jumlahnya, gak enaknya buku kita terjual berapa juta eksemplar pun duit yang kita terima juga segitu. Kalau royalti, biasanya diterima per bulan, eh ini juga mungkin beda penerbit beda kebijakan. Itupun jumlahnya gak menentu karena tergantung buku kita yang terjual. Jangan lupa juga, bayar pajak! Kebetulan gue punya npwp juga, jadinya pajak dibayarin ke situ. Lumayan lah jadi warga negara yang baik. Semoga pajaknya tidak dikorupsi dan bermanfaat buat ‘kemajuan’ bangsa. 15% lho pajaknya, lumayan kan. Saya bangga bayar pajak! Tapi sayang juga kalau dikorupsi, hiks.

Bagaimana proses sampai nerbitin buku?
Beda-beda sih penerbit satu ma lainnya. Biasanya kita ngajuin tema/judul buku yang mau kita tulis trus nunggu di-acc gak. Nunggu ya nunggu. Bisa berbulan-bulan. Ada penerbit yang bilang akan memberi jawaban atas naskah yang kita kirim setelah 90 hari alias 3 bulan. Maklum, yang nulis naskah itu kan ya gak cuma ‘kita’. Ada banyak, mungkin ribuan (?). Dan butuh banyak waktu untuk membaca dan menyaring mana yang bagus/layak diterbitkan. Kalau di-acc ya lanjut nulisnya. 
Ada juga yang penerbitnya sendiri punya rencana mau nulis tentang suatu tema/judul, nah itu biasanya bisa juga langsung ditawarin ke penulisnya.
Oh iya, kalau masukin/ngirim naskah, jangan lupa lihat penerbit yang dituju itu fokus tema besar bukunya apa, semacam ‘jurusan’ bukunya apa aja. Jangan sampai masukin naskah bahasa Jepang ke penerbit yang dia memang fokusnya di buku masakan, dst.

Tertarik gak untuk nulis buku tentang Jepang, selain bahasa Jepang?
Tadinya tertarik, tapi kemarin sewaktu maen ke toko buku lihat beberapa buku yang isinya tentang ‘itu’. Jadinya, udahlah, belum rezeki. (*siap grak, mundur teratur)

Kan nulis di blog bisa?
Bisa sih, tapi takut ke-copypaste. Hahaha sok banget ya.

Suka novel gak?
Gak terlalu. Gue baperan orangnya mah. Gue punya perpus kecil kok, kalau 100 judul buku dan novel kayanya ada deh, tapi belum gue baca. Heeh.

Pernah bertemu penulis lain?
Pernah, Dr Purwadi, lulusan doctoral S3 Filsafat UGM yang secara gak sengaja ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon di bonbin minggu lalu. Gue punya ‘mantan’ murid juga yang jadi penulis fiksi best seller di Grasindo (?). Gue pengen nyebutin nama penanya tapi takutnya dikira sok kenal sok dekat hehehe. (Emang gue siapa, hiks)

Pernah nulis artikel di surat kabar/ majalah?
Dulu, surat kabar pernah tauk. Hehehe. Malu. Masih kesimpen kayanya artikel potongannya itu. Dan itu pendek kok, cuma semacam pendapat. Selain itu, gak ada. Hahaha.

Pernah punya pengalaman memalukan gak selama jadi penulis?
Apa ya…malu-nya itu karena menyadari kemampuan bahasa Jepang gue gak maju-maju padahal uda belajar sejak tahun 2004 sampai sekarang, uda nulis buku aja mpe 10 judul, dan diizinkan Gusti Alloh studi di Jepang hampir 1,5 tahun ini tapi NOL besar kemajuannya. Malu banget itu! Serius!

Emang seberapa besar sih target kamu bisa berbahasa Jepang?
Ya minimal N1, sisanya bisa nulis artikel dan jurnal berbahasa Jepang yang bagus.

N1?
Iya, level tertinggi kemampuan berbahasa Jepang. Konon katanya kalau kerja di perusahaan Jepang, gajinya bisa gedhe banget.

Ada hikmah gak dari jadi penulis ini?
Hikmah selain materi maksudnya? Uhmm… ya ada sih. Karena niat awalnya berbagi ‘ilmu’ dalam bentuk tulisan yang siapa tahu bisa membantu orang yang sedang belajar bahasa Jepang dan akhirnya terwujud itu rasanya ‘sesuatu’ banget. Tahu tiga perkara yang tidak akan putus meskipun kita mati kan: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak kepada orang tua? Nah itu, motivasi utama gue untuk menulis: BERBAGI (ilmu ?).

Perjalanan menuju ‘jadi penulis buku’?
Gue dulu suka bikin cerpen dan almarhumah adik gue suka. Semenjak dia tidak ada, gue males bikin begituan. Tetep sih lanjut nulis diary dan diary pas zaman SMA masih ada mpe sekarang. Gak pengen baca ulang sih karena takut baper dan kebawa kenangan lama yang ‘sebaiknya’ dilupain aja hahaha. Masa lalu biarlah masa lalu, bukak sithik joss…

Ee kok malah dangdutan?!
Hahaha. Itulah kenapa gue baperan ma cerita fiksi. Sukak kok tapi ya. Nyatanya tontonan gue drakor yang super duper imajinasinya mpe bikin baper berminggu-minggu. Hahaha. Kalau nulis non-fiksi kan gak bakal baper tuh. Bapernya tuh kalau tahu itu buku gue ada bagian yang ‘salah’ dan ternyata udah ‘terbit’. Jadi, kurang teliti pas editing akhir. Rasanya sedih banget dan baper, hiks. Eh tapi itu proses juga sih ya. Gue dulu pernah bikin tulisan pertama gue dan dikritik habis-habisan, abis itu gue nyadar kalau tulisan gue emang acakadut dan gak bermutu. Sedari itu gue belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD. Ya itu kan jadi aset kita ya sebagai warga negara Indonesia. Bahasa Indonesia itu keren, gue suka. Gampang sekaligus ribet. Hehehe. Malu bener kalau ejaan gue salah. Jadi kangen belajar bahasa Indonesia zaman SMP, gurunya galak tapi kegalakan itu yang buat gue nyadar kalau ‘bahasa itu penting’.
Bahasa juga mencerminkan kepribadian seseorang. Kalau hal kecil aja, macam awalan di- itu disambung atau dipisah aja ‘ngeuh’ dan paham berarti orang itu teliti dan menghargai sesuatu. Intinya gitu sih kalau menurut gue. Sebelum menulis, perbaiki dulu EYDnya. Kalau perkara menulis ‘tulisan dengan gaya gaul’ sih sebenarnya EYD gak saklek harus banget sih ya, tapi tetep kaidah-kaidah teknis itu harus diperhatikan. Nunjukin banget ceroboh dan gue gak suka baca tulisan yang belepotan salah teknisnya.
Macam gini nih: Kemarin saya pergi kepasar dengan orangtua. Disana saya di suruh membeli rambutan.
Ih gemesss lihat tulisan begitu. Sumpah. Serius.
Kalau bahasa sendiri paham dan ‘nurut’ alias manut sesuai kaidah ketata bahasaannya, bahasa lain Insyaallah juga akan menyusul. (Ngomong ma tembok)

Woi, ngomong ma aku?!
Hahahaha, makasih udah dengerin celotehan gue yang gak mutu dan sok tahu.

Ada benernya sih. Anak muda zaman sekarang kan luar biasa.
Gak usah ngomongin anak zaman sekarang deh. Lu sendiri ngerti gak yang bener zaman apa jaman? Gak ada jaman, menurut KBBI. Sama halnya rezeki. Gue aja kadang salah nulisnya rejeki. Malu tauk tapi gue harus belajar dari kesalahan. Jangan cuma ‘belagu dan gengsi’ yang digedhein. Hahaha. Catatan pribadi. Donlot itu aplikasi KBBI di playstore. Ee malah promosi.

Hahahahaha.
Gue juga nyadar gue masih sering bikin kesalahan dan tidak sempurna tapi mau kok belajar. Emak-emak yang masih suka dan mau banget belajar, apapun itu. Makanya, gue berterimakasih banget buat yang mau mengkritik gue. Itu tandanya dia sayang gue dan mau gue maju. Love you, my admirer. Lah?! Hahaha tapi jangan galak-galak yang kritiknya…apalagi pedesss..cabe mahal sekarang mah…

Menulis itu menyenangkan kah?
Menulis itu menyampaikan pendapat kita. Jadi, sebenarnya kita ‘berpolitik’ juga. Kalau ada yang bilang ‘gak suka politik’ itu sebenarnya yaa….gimana ya..gue sendiri sebenarnya gak suka politik macam di TV-TV itu…tapi ya gue nulis begini aje gue sebenarnya berpolitik kok…hahaha…memasukkan ide kita agar orang lain terpengaruh hehehe…

Rencana pengen nulis buku sampai berapa judul?
Pengennya sih setahun minimal satu judul. Tahun 2016 sudah nulis satu judul sih, dan target tahun 2017 ini pengen nulis satu judul aja juga. Ide sih ada tapi ‘belum mood’ untuk menuangkannya ke dalam kertas cinta kita dengan tinta rindu yang sangat menyayat ini. Aiiish dung-dung preeeet. Teot teblung. Tralalala trililili…

image

To be continued.
つづく

Serba-Serbi Penulis (Part I)

Denger-denger jadi penulis?
Iya, katanya penulis.

Emang penulis buku apa?
Buku penunjang pelajaran, khusus bahasa Jepang. Kamus.

Udah nulis berapa buku?
Ada 10. Yang di foto baru 9 sih, yang 1-nya ada di foto bawah.

image

image

Enak gak jadi penulis?
Enak.

Kenapa jadi penulis?
Sebenarnya sejak awal bukan cita-cita gue jadi penulis, setelah menerbitkan buku pertama jadi ketagihan untuk ‘berbagi ilmu’. Yaa meskipun hampir setiap kali nulis buku datang perasaan ‘gak percaya diri’ karena di luar sana banyak banget yang lebih jago bahasa Jepangnya. Cumaa, namanya ‘berbagi’ ya niatnya seberapapun milik kita dibagi dengan harapan semoga bisa bermanfaat buat orang lain. Khususnya, pembelajar bahasa Jepang yang jadi pembeli buku gue.

Saat ini sedang nulis buku gak?
Gak sih, sedang selo. Hehehe.

Berarti udah gak ada niatan bikin buku baru lagi?
Ada lah, ada aja ide yang berlalu-lalang, alhamdulillah masih diberi ide untuk nulis buku. Tapiiii ya itu, belum rezeki untuk berbagi, lagi. Lagipula setelah ditinggal studi di Jepang, hampir 1,5 tahun ini, gue gak ngerti soal dunia penerbitan & buku di Indonesia lagi. Mungkin lesu karena dunia digital yang semakin maju dan berkembang. Gue sih nyante aja, karena itu masalah rezeki aja. Rezeki berbagi, maksudnya.

Rezeki? Berarti soal duit?
Gak juga sih, karena rezeki itu bukan melulu soal duit. Hehehe.

Emang ada yang didapat selain duit?
Ada ya.

Apa aja misal?
Semisal ‘kepuasan dan kebahagiaan’ yang sebenarnya tidak bisa terukur dengan duit. Testimoni pembaca dan buku gue jadi salah satu sumber pustaka saat orang lain menulis karya ilmiah mereka. Uwaaa bahagia sangat itu. Apalagi mereka minta tandatangan saat ketemu penulis buku yang sedang mereka baca itu. Agak malu sih, kadang respon gue, “Ih kenapa kamu beli buku ini?” Hehehe. Penulis yang aneh ya.

Hahaha oh gitu.
Iya.

Merasa tersaingi gak ma penulis lain?
Alhamdulillah gak sama sekali. Sedih sih kadang, kalau sesama buku bahasa Jepang, hehe, tapi rezeki mah sudah ada Yang Mengatur. Yang namanya berbagi, orang lain kan juga boleh-boleh dan sah-sah aja berbagi ‘ilmu’. Jadinya, alhamdulillah gue santai dan enjoy-enjoy aja. Mungkin orang lain berbaginya lebih ‘afdol’, nah itu malah jadi penyemangat gue untuk lebih baik dalam berbagi.

Ada tips gak buat orang yang pengen jadi penulis?
Ada. Menulislah, untuk berbagi dan menunjukkan eksistensimu.

Kapan nih nulis lagi?
Lha ini nulis blog. Sedang males monolog, jadinya dialog mulu. Maklum gue kan AB, setengah diri jadi A setengah diri jadi B. Klop kan?

Hahaha. Bukunya kan non-fiksi, ada keinginan buat nulis buku fiksi gak?
Gue ini baperan kalau baca buku fiksi, novel, dll. Jadinya, kalau gue nulis fiksi takutnya malah baper sendiri. Gue udah punya JOKO-NAOMI, hanya saja belum sempet diupload2, malu benerrr karena saking alaynya. Ntar deh kapan2 gue upload di wattpad. Betewe, gue sekarang kalau baca cerita di wattpad, aplikasi ngehits yang kita bisa tahu pembaca karya kita ada berapa orang. Hehehe. Newbie sih jadinya yaaa…belum tahu juga…

Emang wattpad apaan?
Gugling aja sendiri. Yang jelas, lumayan dapat bacaan gratis.

Fiksi doang?
Kok kayanya iya ya. Kalau tumblr ma wordpress kan bebas ya mau nulis apaan, kalau wattpad lebih ke ‘cerita’ kali ya, sori, miskin info, maklum newbie. Hehehe.

Wuih, emak gaul nih?
Hahahaha sayang gue belum punya aja web pribadi masaridewichan.com hahaha. Emang mau buat apa? Toh masih kuper ilmu ‘begituan’.

Kapan balik Jepun?
Minggu depan. Hayai nee. Omiyage mou katta kara, anshindakedo. Chousa? Maa ne, buji ni ikeruyou. Iro-iro hanashi o kikasete kurete, yokatta. Omoshirokatta.

Udah maen ke mana aja?
Ada deh. Kepo ih.

Udah ke Gram*dia?
Udah dong, hari pertama malah. Buku gue ada di Sudirman. Di mall Malioboro gak ada satupun. Mungkin stock habis atau begimane gak ngerti.

Royalti masih dapat kah?
Alhamdulillah masih kok.

Pengen nulis lagi?
Insyaallah masih pengen. Moga 2017 bisa ngeluarin buku lagi. Siapa tahu bisa jadi masterpiece karya sendiri, hehehe.

Emang belum punya masterpiece?
Ada sih, dua buku ini kesayangan gue.

image

Yang lain gak disayang?
Bukan gitu, karena dua buku ini titik tolak gue menuju gue yang sekarang ini.

Ceileh. Bersejarah ye?
Lumayan.

Boleh cerita?
Uhmm…dikit aja ya tapi…itu buku putih itu pertama kali nulis buku. Sebelumnya kan bikin kamus. Bener-bener baru dengan ide dan gagasan baru. Trus sampingnya itu versi reborn dan lengkapnya. Hehehehe. Jadi, itu buku ungu itu yang versi lengkap. Lengkap dengan bunpou, kanji kana, kaiwa, dan soal latihan. Asyeek.

Kalau mau nulis buku lagi, mau nulis tentang apa?
Eits ra-ha-si-a ye. Tapiii kasih bocoran sikit ye, mungkin masih berhubungan ma bahasa Jepang.

Yaaa semua orang juga tahu.
Ya kali aja ada yang ngira gue mau nulis tentang Babad Tanah Jepang gitoh. Sejarah gitu. Atau nyastro? Gak deh.

Penerbitnya?
Sepuluh buku gue terbitan satu Penerbit sih, IndonesiaTera.

Di Jepang, buku banyak ye?
Iya lah.

Pernah ke toko bukunya?
Pernah.

Bedanya apa ma toko buku di Indonesia?
Toko buku yang mana dulu nih? Ada dua jenis toko buku di Jepang, toko buku baru ma toko buku bekas. Yang baru bukunya baru-baru, yang bekas bukunya bekas-bekas. Yak iyalah ya. Yang baru harganya sesuai yang tertera di cover bukunya. Kalau yang seken biasanya dijual di BookOff atau toko lain yang bekas, harganya biasanya gak sesuai covernya, lebih murah maksudnya.

Any comment?
Di Jepang gue masih ngeliat ada aja yang baca buku/novel di kereta sisanya sih maenan hape/gadget. Kalau Indonesia, jarang gue liat yang baca buku. Bukan berarti minat baca Orang Indonesia turun lho ya. Bisa jadi mereka baca di gadget mereka. Ya wallohu’alam.

To be continued…
つづく

(Dedew 2017.3.7)

Apa Kabar, Beb? (Part II)

Katanya lagi mudik?
Iya, kan udah gue bilang kemarin.

Sampai kapan?
Kapan-kapan. Kepo ih.

Ye kan nanya.
Mpe 14 Maret.

Oo, masih lama ya?
Gak juga, tinggal 240 jam lagi…

Udah beres urusannya?
Dari awal udah beres. Gue cari data udah dapat sebelum balik kok. Hehehe.

Maksudnya?
Ada lah.

Uda ketemu siapa aja?
Banyak.

Siapa?
Saudara. Temen. Kenalan.

Siapa lagi?
Kenangan lama yang sebaiknya dilupakan saja meskipun bikin baper. Hahaha.

Maksudnya?
Biasa, sambel SS. Pedesnya bikin teler kemarin. Tau sendiri kan Jepang gak ada cabe. Ee pesen sambel tempe di SS  pedesnya bikin perut langsung beradaptasi.

Oh gtu. Udah ke mana aja?
Ke hati lu.

Serius.
Mana ya? Ada deh.

Sombong.
Eh biasa aja keleus. Kalau gak mau jawab kan ya udah to?

Sibuk ngapain?
Maenan hape.

Data. Data.
Iya, gi ditulis.

Data apa sih?
Data penelitian.

Katanya Sensei datang dan lu nyambut gak?
Ada deh. Mau kepo aja lu.

Temenin gih, kasihan.
Udah ada penerjemahnya kok. Sante aja. Lagian Sensei mandiri, gak manja kayak gue.

Hari ini acaranya ngapain?
Biasa. Maen.

Hah, maen?
Iya, maenin perasaan dan otak gue buat mikir.

Gi mikirin apa nih?
Gue baper. Pengen reunian ma temen2 gue tapi kebanyakan sibuk. Kalau ketemu malam bisa-bisa aja sih tapi kasian capek.

Terus?
Ya, nanti lah, dihubungi lagi.

Katanya udah punya path?
Iya nih tapi jarang update. Sebenarnya gue itu cuma butuh tempat ‘nyampah’, sekarang udah ada wattpad, tumblr, hehehe maenan baru. Ngeblog juga bisa buat buat nyampah sih. Ayo lah masa gak tahu tulisan gue cuma sampah?!

Jangan bilang gitu.
Eh gue serius. Mana ada orang lain yang bikin percakapan gak jelas trus di-pos di blog. Eh tapi blog gue emang bukan buat serius-serius sih.

Kemarin kayanya bikin cerita di wattpad.
Iya nih, tapi alay. Jadinya daripada dituduh gue alay, gue alay-in aja sekalian. Posting trus diumpetin. Hahaha.

Ah kacau lu.
Iya nih, baru tahu.

Kemarin ke mana?
Jalan-jalan.

Cerita dong!
Jangan dong, ntar gue baper tauk. Hahaha (blushing).

Ngapain malu?
Gak, biasa aja. Cuman jalan ma anak-anak muda bikin jadi berasa muda euy. Anaknya juga baik-baik.

Oh gitu.
Iya. Jadi semacam pengen jelong-jelong mengeksplor tempat bagus. Kalau kata temen, ‘touring’. Kayak apa ya rasanya. Hehehe.

Pengen ke mana lagi?
Mangrove. Kali Biru. Candi-candian hahah emang permen. Cuman sayang kamera gue jelek. Sony Experia Z1 kameranya gak sebening iphone 7.

Yak ealah, iphone gituh.
Iya ya yang 6 aja udah bagus beudh. Hahaha.

Eh ada masalah gak selama mudik?
Gak sih, biasa aja. Biasanya ada masalah, maksudnya. Eh tapi masa hidup gak ada masalah sih? Monoton banget.

Eh lu belajar gak selama mudik?
Belajar dong, belajar mengerti keadaan. Belajar mengerti arti rindu bertepiskan cinta.

Ceileh.
Hahaha gue rindu suami.

Kenapa?
Gapapa, gi pengen gandengan ma cowok. Tapi masa ma Bapak Kakak gue, mereka udah ada yang punya. Pengen gue summon suami pake lilin biar segera dateng.

Emang goblin?
Hahaha iya nih. Kangen bener gue ma suami.

Balik ke Jepang kapan?
Kan tadi uda gue bilang, 15 pagi gue sampai sana.

Trus mau ngapain?
Ngapain ea. Paling ke perpus, mengolah data. Maen ma anak suami kebetulan anak udah mulai liburan sekolahnya mpe pertengahan April. Dokter gigi anak. Nyari baito lagi. Ma mengabadikan Sakura sembari telusur jejak ke apato lama.

Sakura ya?
Iya, sayang kamera gue jelek.

Gapapa.
Iya, gapapa, kata lu kan, bukan gue. Papa lah.

Pengen nyari kamera?
Iya nih. Tapi belum ada dana. Dana keistimewaan membeli kamera baru. Eh udahan ya. Gue mau mandi.

Mandi?
Iya, mandi. Bye.

Yaudah sana.
Eh tapi masih antri.

Emang kos-an?
Iya emang gue cuma ngekos di rumah orang tua.

Oh gtu.
Iya nih.

Katanya pengen nyari baito?
Buat suami, bukan gue. Gue mah udah cukup.

Kan dapat beasiswa ya?
Iya, Alhamdulillah. Cukup aja Alhamdulillah.

Beasiswa gitu dapat tunjangan keluarga gak?
Beasiswa gue kebetulan gak. Jadi dapatnya segitu, mau single mau bawa keluarga.

Oh gtu, enak dong yang single.
Mungkin ya, gue gak ngerti. Tapi orang bayanginnya kan enak ya. Hahaha.

Beasiswa. Single. Baito. Tetep digaji di Indonesia.
Iya ya, sempurna. Bisa lebih banyak bersedekah. Mengeksplorasi diri dan cari banyak pengalaman, mumpung single. Heeh.

Baper?
Gak lah. Gue udah hepiiiiiii banget ada anak suami. Asal ada mereka, udah cukup. Makan secukupnya. Eh makan di Jogja, enakan makan di lesehan ya daripada di resto2 mewah menu western.

Oh gtu.
Iya. Eh udah. Cabs dulu ye.

Apa kabar, Beb? (Part I)

Apa kabar, Beb?

Alhamdulillah baik kak.

Lagi apa?

Gi di warnet nih, di Indonesia bagian Sleman.

Ma siapa?

Sendiri.

Gi mikirin apa nih?

Biasa.

Biasa apa?

Biasanya gak mikir apa-apa.

Paling pengen apa?

Pengen tugas guweh di Jogja segera kelar.

Emang tugas apa?

Biasa, tugasnya nyari tugas.

Denger2 lagi mudik nih?

Iya nih, mudik cinta.

Ma keluarga?

Iya, keluarga mah selalu ada di hati, hati guweh dibawa ke mana-mana donks.

Alay banget ih.

Iya nih, baru tahu?

Enak gak mudik?

Enak-enak aja, tanah kelahiran guweh ngapain gak enak?!

Enakan Jepang apa Indonesia?

Enak-enak aja.

Maksudnya?

Ya enak.

Apa yang paling bikin jetlag?

Nih kalau mau nyetatus, bikin blog begene enakan ke warnet.

Oh, jadi masalah internet?

Iya seh, tapi ngapain dibikin masalah. Di-enakin aja lah.

Terpaksa nih di-enakin?

Gak juga, internet Jepang kan mahal. Coba sini mahal, paling sini enaknya juga sama. Coba Endonesa gak dijajah, paling internetnya lancar.

Gi galau gak?

Gak sih biasa aja.

Kok gak galau sih, biasanya kan galau?

Iya nih, tumben ya gak galau. Tapi alaynya tetep kok.

Mau curhat?

Uhmm…apa ya…lagi gak mood curhat seh, cuman mudik dan ketemu anak tetangga yang udah jadi abegeh2 cantik itu bikin gue berasa tua. Rasa2nya baru kemarin guweh alay bikin tulisan ARDATH hahahha. Ah anak guweh aja udah satu dan 5 tahun kenapa masih menyangkap umur guweh masih belasan. Ah tauk ah bahasa guweh juga gak enak buat didengerin ye?

Gak juga sih. Apa kabar kuliah?

Baik-baik aja. Kerasa banget bahasa JEpang guweh gak maju-maju padahal sudah 1,5 tahun di sana.

Gapapa, yang penting udah usaha.

Usaha apa ya? SOk bijak banget sih lu ngasih tahu guweh. Guweh belum berusaha maksimal, catet tu! Kebanyakan maenan hape!

Kan bisa belajar dari internet!

Ngomong mah gampang lu! SOk bijak banget! Gak suka!

Eh ngapain marah?

GUweh gak MARAH ya. BIASA aja keles.

Ya udah belajar!

Oke, guweh bakalan belajar.

Belajar apa?

Ya belajar mencari makna belajar.

Udah gak MARAH?

Eh guweh dari tadi gak marah ya, cuman kesel ma diri sendiri.

Ah keseringan baper sih!

Iya, udah seminggu balik, belum dapat sesuai target. Bertemu dan berbagi cerita ma orang-orang keren itu sesuatu ya. Apalah guweh ini? BUtiran debu yang terhempas angin badai.

Gak usah merasa gak berarti.

Eh guweh biasa aja lho ya. Dari tadi sok bijak banget sih.

Et dah biasa aja kok!

Guwehnya yang gak biasa.

Cari hiburan sana!

Eh kurang apa guweh. Punya facebook, fanspage, twitter, instagram, path (bikin baru nih), wattpad, tumblr, skype, line, whatsapp, bbm, kuran ngeksis apa guweh coba?

Penting?

Gak seh hahahahahha. Udah ya, capek neh.

Udah mau pulang?

Belum, ujan deres di luar. Nanti kalau udah reda baru pulang.

Gimana nih rencana 2 minggu ke depan sebeloum pulang?

Baca buku ma nyari data. Bersih-bersih kamar. REunian lagi.

Reuni ma siapa?

Biasa, ma yang mau diajak reuni. Kalau gak mau, ya udah. Katanya silaturahim memperpanjang usia.

Udah ke kampus?

Udah tadi, bonbinnya doang sih.

Gimana Jogja?

Berubah banyak! Pusing kalau dibahas. Ah Jogja….

Kenapa?

Gak papa, semoga aja masih ber-rezeki hidup di Jogja sampai akhir hayat.

Aamiin. Kok galau kedengerannya?

Gapapa kok.

Habis lulus nanti ngapain? Pergi dari Jogja?

Ya ngapa-ngapain lah.

Maksudnya? Lanjut s3?

Saat ini sih belum pengen dan belum berencana lanjut s3.

Kenapa, masalah beasiswa?

Uhmm…bukan sih…masalah hati.

Eciiieee hati…

Iya nih, hahahhaha.

Jepang lhoh…

Iya, Jepang, emang kenapa?

Kata orang-orang duitnya banyak.

Hahahhaha iya nih, dikiranya guweh kerja di Jepang, pulang duitnya banyak. Banyak sih banyak, sebanyak cintaku padamu. Hahahha. Duit apa coba ya? Alhamdulillah hidup di Jepang gak kekurangan aja udah seneng banget, bersyukur banget. Apalagi kalau keinget tagihan telepon yang hampir 2 juta itu, apa gak kayah guweh. Kayah goblok. Hahaha pekok. Nyari masalah, gedhein gengsi. Eh gak juga sih, waktu itu guweh pikir itu solusi terbaik. Ternyata ibu rantau lebih kejam.

Masih bermasalah tho?

Masih lah. Nanti lah gampang, guweh urus sendiri. Berbuat sendiri tanggungjawab sendiri. Lagian emang mau ngharep bantuan siapa? Bantuan Yang Maha Esa sih iya.

Kan ada temen?

Iya ada.

Balik kapan ke Jepang?

Minggu depannya lagi.

Masih lama.

Ah gak juga.

Pertanyaan terakhir, galau gak?

Gak, serius! Cuman bingung ma koneksi internet guweh. Guweh bawa hapeh Jepang yg gak bisa dimasukin simcard sini, jadi selama di sini guweh pinjem (baca: ngrecokin) hape emak guwe, trus tethering. Ribet banget kan. Belum lagi hape cepet habis batrenya. Alhasil, komunikasi guweh selama di sini kurang lancar. Boro2 streamingan, bisa buka video kiriman suami harus sambil komat-kamit baca mantra. Hehehe. Gapapa. Guweh tetep cinta ma Indonesia Raya. Gak pulang setahun rasanya masih bisa ketrima di sini. Masih diakui ma tetangga. Masih dikenali sebagai seorang Dewi, sebaagai anak, menantu, teman. Segitu aja udah cukup. Entah nanti setelah lulus mau ngapain, (gosipnya guweh dosen tauk), mulai dari nol dah. Semoga nol-nya nanti nol yang baik. Bismillah aja. Semangat belajar lagi! Harus lulus N1 satu! Harus lancar bahasa Jepangnya! Harus maksimal lagi berbuat baik! Harus maksimal menjalani hari-hari selama 78 minggu lagi sebelum kelulusan tahun depan. Cepet euy, jangan di-sia-siain…