Me vS EnGLisH

Wess judulnya aja udah pakai bahasa Inggris tapi jangan baper pakai kecewa ya kalau ternyata isinya curhatan pakai bahasa Indonesia, ahhahaha…

Jadi, tadi tetiba disamperin orang Jepang mahasiswa S3, sudah ibu-ibu sih. Beliau menyapa saya pakai bahasa Inggris karena saat itu saya sedang (berusaha sekali ) membaca The Japan Times di perpustakaan. Ya Alloh, saya asal jawab aja, gak tahu grammarnya bener pa salah, pokoknya jawabnya belepotan. Malu-maluin lah… Tapi kami jadi berkenalan…sih…semoga bisa berjumpa lagi… I truly believe that everything that we do and everyone that we meet is put in our path for a purpose. There are no accidents; we’re all teachers – if we’re willing to pay attention to the lessons we learn, trust our positive instincts and not be afraid to take risks or wait for some miracle to come knocking at our door. (Marla Gibbs)

Saya kenal bahasa Inggris, kelas satu SMP. Jangan kaget ya? SD saya belum kenal bahasa Inggris. SD saya 1992 – 1998. Tadinya pas awal belajar saya suka sekali bahasa Inggris, namun lama-kelamaan karena beberapa hal (yang gak perlu diceritain), kesukaan itu berubah jadi ilfil, hingga puncaknya saya benci bahasa Inggris saat SMA. Rasanya terpaksa banget belajar bahasa Inggris. Saat teman-teman lain melanjutkan les bahasa Inggrisnya yang sudah sejak SMP diikutinya di ELTI, saya memilih untuk belajar mandiri. Ceritanya belajar sendiri wkwkwk.
Pertama, keluarga kami gak punya uang untuk alokasi les. Kedua, lokasi rumah yang jauuuuh banget dan nyangkut soal transport dsb. Bukan apa-apa sih, tapi kalau sudah berurusan dengan duit, pikir-pikir dulu deh. Oh iya, saya bukan dari keluarga kaya, Bapak saya memang Dukuh tapi gajinya juga tak seberapa meskipun mendapat tanah bengkok. Saya, kakak laki-laki, dan adik perempuan satu. Saat SMP, kakak saya sekolah di STM dan adik saya pun menyusul saya bersekolah di SMP yang sama. Saya kelas tiga, adik saya kelas satu. Intinya, bisa bersekolah saja sudah bersyukur alhamdulillah sekali saat itu. Kami, anak-anaknya, juga gak mau membebani lebih pada orang tua. Lagipula waktu itu saya juga belum berpikiran kalau bahasa Inggris ternyata bakal menjadi hal yang diperlukan di kelak kemudian hari, jadi belajarnya setengah-setengah deh. Hiks.

Mungkin saat saya bilang bahasa Inggris itu susah, orang lain pun tak bisa langsung menyetujuinya. Anak-anak yang lebih muda dari saya (umur 25-an lah ya) mereka biasanya sudah mengenal bahasa Inggris saat SD dan dilanjut les, entah di lembaga maupun privat. Yang jelas, mereka belajar lebih, selain dari pendidikan formal di sekolah. Saya sama sekali belum pernah menyentuh les-lesan, hiks, termasuk saat kelas 3 SMA saat teman-teman lain ikut les tambahan menjelang ujian masuk universitas di GO, PRIMAGAMA, SSC, atau lembaga lainnya. Alasannya cuma satu, duit.

Tetapi, nikmat Tuhan mana lagi yang saya dustakan? Meskipun saya gak les dan gagal masuk UGM lewat ujian masuk UM-UGM, setelah itu saya mencoba ujiannya lewat jalur SPMB, serta mengambil jurusan IPC, alhamdulillah ketrima di Sastra Jepang UGM. Dengan orang tua berhutang sana-sini, alhamdulillah saya bisa menjadi mahasiswa di UGM. Memanfaatkan IPK untuk berburu beasiswa di setiap semester. Karena itulah, kehidupan mahasiswa saya pun tak jauh-jauh dari yang namanya ngirit dan beasiswa. Berburu beasiswa ke luar negeripun gak bisa dan gak pede karena skor TOEFL saya yang rendah. Udah minder duluan lah ceritanya…

Dulu, tak ada internet yang kita bisa mengakses internet untuk belajar mandiri gratis (internetpun pakai duit kan ya?). Sekarang mah ada BBC dan banyak channel bagus lainnya yang bisa membantu kita belajar bahasa Inggris. Saya sedang melakukannya sekarang. Itupun karena ada akses internet Jepang yang mendukung hal ini. Saya sudah hampir kepala tiga dan berusaha sekali untuk melakukannya meskipun ya Alloh susahnyaaa…

Jadi, apa ya…

1. Jer basuki mawa beya. Setiap kebahagiaan itu diperlukan pengorbanan. Tapi buat saya, tiap usaha pasti butuh biaya, hahahaha. Banyak orang mungkin yang senasib dengan saya, atau mungkin lebih parah, tapi dia belajar tekun dengan meminjam buku dari perpus dan gak pakai trauma benci ma sesuatu. Terus menerus berusaha belajar meskipun gak suka sesuatu. Jauh lebih lebih berusaha dibanding saya. Pengorbanan gak harus selalu dikaitkan dengan duit kan ya? Tapi… susah juga sekarang kalau tak ada duit. Entahlah… yang penting usaha aja!

2. Jangan kau benci sesuatu….. Karena mungkin itu baik bagimu. Nah, contohnya ya bahasa Inggris ini. Saya benci bahasa Inggris, padahal saat studi di luar negeri begini bahasa Inggris penting hiks, untuk komunikasi, untuk studi. Ahh…

3. Usahalah semaksimal-mu mungkin… Kadang saya merasa apa saya kurang maksimal belajar ya, kurang maksimal memanfaatkan setiap kesempatan-kesempatan yang Alloh SWT berikan ke saya, kurang maksimal mencari kesempatan? Karena itu lah, sebelum menyesal di kemudian hari, berusahalah maksimal menggapai sesutu. Paling tidak, saat gagal dan tak berhasil kita bisa menenangkan diri kita dengan bilang kalau dulu kita sudah berusaha maksimal… Manfaatkan semua fasilitas gratis yang ada di depan mata kita, jiaah bahasane. Maksimalkan otak kita untuk mau belajar dan berusaha. Otak kita harus mau diajak susah. Kita diberi otak yang luar biasa. Ini sekaligus motivasi bagi saya, meskipun ini tahun kepala dua terakhir saya, saya tetap harus berusaha belajar, apapun itu. Pastu bisa! InsyaAllah. Jangan mau kalah sama kakek-kakek tua yang tetap pergi ke perpustakaan membaca buku (gilak! Btw, perpustakaan Jepang buka Sabtu-Minggu lho sampai jam 8 malam biasanya dan orang luar bisa masuk tanpa harus jadi member terlebih dahulu kecuali saat pinjam buku), atau ibu-ibu yang sudah punya cucu tiga dan menjadi mahasiswa S3 di sini. Subhanalloh…

You are never too old to set another goal or to dream a new dream. (C. S. Lewis)

4. Cari Potensi… Mari kita mencari tahu potensi diri kita dan mengembangkannya. Saya merasa bisa berpotensi meraih skor TOEIC di atas 800, sekarang baru 700 pas, karena itu saya akan berusaha. Hihihi maksa banget ya kedengerannya? Gapapa. Believe in yourself! Have faith in your abilities! Without a humble but reasonable confidence in your own powers you cannot be successful or happy. (Norman Vincent Peale)

Bahasa Inggris itu penting, menurut saya. Tapi memang masih jauh lebih penting bahasa Arab untuk membaca Al-Qur`anul kariim. Saat suara kita ingin didengar internasional, mau tak mau harus menulisnya pakai bahasa Inggris secara bahasa Inggris itu menjadi bahasa internasional. Sepintar apapun itu. Iya gak sih? Ini dosen saya yang bilang. Banyak ilmuwan Jepang yang pintar tapi ketika harus menjelaskannya dalam bahasa Inggris mereka sedikit kewalahan.

Mbaperrrr…. Saya gak terus menargetkan Kenta harus belajar banyak bahasa: bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Arab, bahasa Jepang (sekarang), dan bahasa Inggris. Gilak aja!  Saya ngajarin Kenta bahasa Jepang sekarang tapi hanya untuk bersenang-senang biar dia bisa bercanda dengan teman-teman dan guru TKnya nanti. Kenta-kun, youchien no seikatsu, tanoshimiiii…

 

image

Dewi yang sedang berusaha

Work hard for what you want because it won’t come to you without a fight. You have to be strong and courageous and know that you can do anything you put your mind to. If somebody puts you down or criticizes you, just keep on believing in yourself and turn it into something positive. (Leah LaBelle)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s