CeRita HoRoR: TRaGedi TiSu ToiLeT di JepanG

Jangan bayangin saya bakalan cerita tentang Hanako si penunggu toilet perempuan yang mukanya gak kelihatan karena tertutupi rambutnya ya. Atau zombie yang menggulung dirinya dengan tisu toilet kaya mumi gitu…
Ini bahkan jauh lebih horor, karena berurusan dengan pertahanan hidup. Seriously? Ah, gak juga sih hahaha…

image

Buat kalian yang tinggal di Jepang, apakah kalian pernah sekali membayangkan Jepang tanpa tisu toilet? Menurut kalian, mereka bisa ‘bertahan hidup’ kah?

Sebenarnya langkanya tisu toilet di Jepang, pernah terjadi pada tahun 1973 saat krisis Minyak terjadi. Di supermarket manapun di Jepang tak ada tisu toilet kala itu. Trus gimana? Wah saya gak tahu cerita selanjutnya secara detail, tahu-tahu aja sudah teratasi. Hehehe.

LAngsung lanjut aja ke masa sekarang ya.
Berangkat dari pahitnya masa lalu di mana mereka pernah merasakan langkanya tisu toilet, mereka melakukan terobosan teknologi yang sangat super duper canggih untuk mengantisipasi kejadian serupa terjadi lagi. Mulai dari daur ulang, dan lain sebagainya. Anggep saja mereka punya sumber terus menerus yang akan menyediakan bahan kertas untuk membuat tisu toilet itu, entah dari impor atau produksi sendiri (nanam pohon instan, bikin hutan buatan misal).
Postingan ini cuma mau ngajak berandai-andai aja..

Seandainya tidak ada tisu toilet apakah mereka bisa ‘bertahan’?
Secara yaaaa, mereka tidak akan pernah membiarkan toilet itu tanpa punya cadangan tisu. Yak iyalah masa iya begitu “selesai” dan ternyata tisunya habis? Hahaha, gak lucu.
Di kampus saya malah cadangannya ada lebih dari lima kayanya. Ada sepuluh juga kayanya. Kalau mahasiswa iseng, ada yang bawa pulang kali ya.
***Ups pemikiran ini kayanya cuma saya yang punya, hahahaha***
Saya jarang pakai tisu toilet sih ya, jadi saya sama sekali gak akan pernah melakukannya hahahaha. Bayangkan, satu gulung tisu toilet gratis (awal masuk asrama kampus dikasih satu sambil dipeseni yang selanjutnya beli sendiri ya) sampai saya keluar dari asrama itu belum juga habis. Enam bulan saya tinggal di sana.
Pertama, saya jarang pakai. Kedua, ngirit. Ketiga, sayang bumi. Keempat, ribet. Kelima, saya punya handuk kecil. Keenam, saya ndeso. Ketujuh, selesai.

Kembali ke topik.
Saya belum pernah tanya serius soal toilet-menoilet dan tisu-menisu toilet ini ke orang Jepang, what should they do kalau misal tak ada tisu toilet. Alasannya: pertama, jorok karena ngomongin toilet dan pasti membahas soal membersihkan dll. Kedua, belum ada waktu. Ketiga, belum sempet. Keempat, belum saja.

Tapi, saya pernah ber’diskusi hangat’ soal toilet dengan teman-teman Jepang, secara mereka akan pergi ke negara di mana toiletnya lebih jelek dari toilet jongkok kita, tanpa tisu toilet tentu saja, air mah ada pa kagak saya gak tahu.
Saya yang mulai pembicaraan waktu itu, “Kalian gapapa gak ada tisu toilet di sana?”
Satu yang bilang, “Gapapa… mungkin… sih….”
Karena ada ‘mungkin’ saya kejarlah.
“Yakin gapapa?” ***minta dihajar nanya ini****
Dia mulai berpikir…. trus senyam-senyum sambil menjawab, “Gapapa pasti…kan ya….”
(Yakin gapapa? Ini masalahnya orang Jepang yang sejak kecil udah dikenalin tisu toilet sebagai “satu-satunya” alat untuk membersihkan “diri”… kan??? Tapi zaman sekarang kebanyakan toilet bidet sih toilet yang lengkap tombol-tombolnya, pasti ada air yang bisa disemprotkan. Jadi, gak satu-satunya juga sih cuma pake ’tisu toilet’ saja, bisa juga ‘air + tisu toilet’).
Akhirnya, saya bilang “Gapapa lah, pasti gapapa, paling cuma butuh adaptasi aja.”
Saya ceritain lah, di Indonesia juga jarang banget ada dan pakai tisu toilet (kecuali yang ada).
Kami lebih sering pakai air untuk membersihkannya. (Saya gak mendebatkan soal tisu toilet vs air ya, no offense apalagi sampai nyangkutin ke agama, ini ngomongin orang kebanyakan).
Saat awal di Jepang memang kaget karena gak ada ‘air’ (kecuali toilet bidet ya). Tahun 2008 jarang ada toilet bidet, sekarang mah hampir banyak.
Pembicaraan itu berhenti sampai di situ karena sesinya sudah berakhir.

Kita mah orang Indonesia, eh saya ding (saya yakin banyak orang Indonesia moderen gak seperti saya yang ndeso hehehehe), sekali lagi saya, adaptasi di Jepangnya bukan trus pakai tisu toilet ya, tetep gak bisa, zettai muri, kanaaa. Tisu basah pun gak mempan.
Satu yang sering saya lakukan kalau nemu toilet ya gak ada bidetnya adalah membawa botol minuman aqua kosong ***cieh sebut merek, sini gak ada aqua adanya aquarius hahaha***.
Bayangkan (buat yang belum tahu toilet Jepang kaya apa, ada banyak jenis sebenarnya), di dalam toilet cuma ada kloset + tisu toilet + tombol/ sensor tangan buat mengguyur. Gak ada semprotan air, tentu saja. Krik kriik krikimage

lah rasanya.

Secara umum, ada dua jenis toilet di Jepang, yakni toilet ala Jepang (mirip ma kloset Jongkok kita, tanpa ember berisi air tapi ya) dan toilet ala Barat (mirip kloset duduk kita). Nah toilet ala Barat ini ada dua jenis: pertama kloset duduk biasa (kloset + tuas buat guyur) dan kloset duduk spesial dengan bidet yang air+dudukannya bisa hangat saat musim dingin (kloset dengan tombol lengkap dengan air buat guyur pantat/bagian depan perempuan + tuas/ tombol buat guyur). Semua toilet itu pasti punya tisu toilet, tenang saja. Tapi gak janji kalau soal air ya….

image

Bawalah saya aqua yang ukuran mini, biasanya. Kalau ke toilet tersebut ya diisi di wastafel dulu baru dah dipakai. Paling gak di situ merasa nyaman aja.
Nah, tisu toilet biasanya mah saya pakai untuk mengeringkan toiletnya aja secara toilet sini toilet kering yang menjunjung tinggi kekeringan. Hahaha apa sih. Sumpah tips gak mutu.
Cewek mah ‘wajib’ juga bawa handuk kecil.

Balik lagi ke tisu toilet.
Saya baru sekali beli tisu toilet di Jepang, itupun karena ada tamu yang mau datang. Malu lah punya tempat tisu di toilet tapi gak ada tisunya.
Akhirnya saya cari di supermarket dekat stasiun. Busyet dah jualnya satu plastik isi 8 ***baru tahu saya, kaget karena gak pernah kepikiran bakal beli soalnya***.
Saya sampai tanya, dijual satuan gak? Dia bilang maaf gak ada.
Akhirnya saya pindah ke konbini (toko 24 jam), ada di sana juga tapi isinya 4, harganya 300-an yen, mihil ternyata. Klo dirupiahin sama aja kayanya ya…

Jadi, intinya…..apa?
Uhmm apa ya?
Pakailah toilet sesuai kebutuhan dan kenyamananmu. Mau pakai air kek tisu toilet satu gulung kek, terserah aja. Hahaha.
Kalau ‘terpaksa’, endingnya gak enak soalnya kan kita sendiri juga yang merasakan, bukan orang lain. Jiaaah ngomongin apa to ini???
Jangan pernah tanya ini ke orang Jepang beneran ya… karena mungkin mereka memang gak akan pernah kekurangan tisu toilet lagi…kayanya…anggep aja gitu…ya…?
Jadi, mereka bisa ‘bertahan hidup’ kah tanpa tisu toilet? Bisa-bisa aja kayanya…kan…

image

DEWI
Toilet-menoilet itu urusan pribadi, jadi bertoiletlah dengan bijak dan santun, serta berperilaku sopan. Jangan sampai merokok atau telpon di toilet apalagi malam-malam yang sepi ***horor tauk***
Pikirkan orang lain setelah pakai toilet. Kalau kamu nyaman, bikinlah orang lain nyaman juga. Oke? Salam toilet….
(Oh iya toilet2 dlm cerita ini adalah toilet perempuan, saya belum pernah ke toilet cowok lho yaa. Mungkin sama aja sih. Hahaha)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s