BeRiSLaM di J.E.P.A.N.G

Sekali lagi, tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Cuma berbagi.

Bukan hal mudah memang untuk berhijab di Jepang. Merantau dengan identitas sebagai muslimah dan menjalankan syariat agama untuk menutup aurat. Boro-boro dah pake pakaian ala hijaber yang sedang ngetren di kampung, bisa memakai kerudung saja sudah alhamdulillah.

Ini kisah saya (selanjutnya pakai saya aja), hidup di tengah pemukiman penduduk asli Jepang, maksud saya bukan di asrama kampus yang notabene berisi mahasiswa asing dan sudah menjunjung serta menghormati perbedaan.
Kami bertegur sapa biasa dengan warga sekitar (kalau ketemu aja sih). Sebenarnya mereka biasa saja kok. Alhamdulillah sekali mereka biasa saja. Alhamdulillah ini Jepang.
Mereka mau menerima saya dengan pakaian saya yang beda dengan mereka.
Mereka tidak melempari saya dengan batu atau kotoran (di sini adanya kotoran anjing aja, dipungut ma yang punya anjing, paling juga kotoran kijang).
Mereka tidak menatap saya dengan sinis.
Mereka tidak jijik sama saya.
Ya, mereka biasa saja…
Ya meskipun terkadang mereka ‘sedikit’ memperhatikan saya… (ceileh GR banget guwah)

Saya tidak menuntut banyak dari masyarakat Jepang.
Saya tidak menuntut mereka untuk menyiapkan mushola masjid langgar atau ruangan untuk beribadah lainnya full adzan, atau menyediakan makanan halal dengan label halal-nya.
Tidak, sama sekali tidak.
Kami pendatang. Eh, saya pendatang. Pendatang yang mencoba untuk hidup di Jepang. Mau tak mau, saya yang harus menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Kebetulan saya hidup di Jepang sebagai mahasiswa. Kehidupan akademis yang lebih menghormati perbedaan. Alhamdulillah di kampus, saya tidak begitu mengalami ‘kendala’. Saya pernah izin sholat di tempat ‘khusus untuk menyusui’ dan diperbolehkan.
Pernah sekali mendapat pertanyaan ‘Apakah semua orang Indonesia memakai itu?’ “Saya jawab tidak, tidak semuanya. Bla bla bla….” Maka obrolan pun berlanjut menjadi obrolan tentang agama. Dia antusias dan tidak merasa takut. Alhamdulillah.
Sisanya, tak ada yang bertanya, mungkin karena tak peduli juga hahaha. Alhamdulillah mereka menganggap ‘biasa’ kami. Beberapa saat yang lalu juga sempat dipajang buku baru tentang Islam di perpustakaan, hari berikutnya sudah tidak ada (bisa jadi dipinjem atau ditarik dari peredaran hahahaha hush). Ya, Islam mulai dikenal di sini…

Berhijab di negeri Jepang memang tidak mudah.
Dan kali ini soal part time. Saya pernah melamar part time dalam keadaan berjilbab dan memang ada beberapa dari mereka yang belum bisa menerimanya. Sempat saya diterima di Namba sebagai SPG berjilbab karena memang toko tersebut menjual souvenir halal.
Teman saya yang berjilbab pun dengan santainya bisa diterima kerja di restoran Makanan ala Jepang. Udah rejeki sih ya, alhamdulillah…
Teman lain juga ada yang bisa part time mengajar dan bebas berjilbab. Kalau yang ini yang butuh mereka yang belajar sih ya, jadi lebih fleksibel. Rejeki alhamdulillah…
Kisah dari teman lain yang menceritakan manajernya pernah bilang “karena ‘jilbab’ itu barang dari luar yang dipakai secara terus-menerus seharian akan bisa mengotori makanan yang ada di restoran” pun pernah menyurutkan saya untuk melamar part time di restoran. Tenang saja, sampai postingan ini diupload saya belum dapat part time. Hehehe.
Rejeki sudah ada yang mengatur kok, tenang saja….😭

Belum lagi kisah lain dari pekerja muslim yang bekerja di Jepang. Sebut saja jisshuusei.
Saya paling sedih kalau mendengar kisah mereka. ‘Paketan rejeki’ yang dulu saya bilang ketika pernah menjadi guru jisshuusei adalah bisa menjalankan syariat agama dan beribadah di tempat bekerja, termasuk izin sholat puasa dan menutup aurat.
Ada perusahaan yang menghormati itu dan mengizinkan mereka.
Ada perusahaan yang melarang atas alasan keselamatan dan alasan ini bisa diterima. Yang tahu soal keselamatan dalam bekerja di perusahaan itu ya mereka yang bekerja di sana.
Sebagai contoh: memakai jilbab saat menjalankan mesin. Bisa jadi kemungkinan jilbab tertarik ke dalam mesin dan menyeret orang tersebut.
Ada juga masyarakat Sekitar perusahaan yang baru pertama kali berinteraksi dengan Islam. Maka dakwah itu dimulai pelan-pelan. Mereka pelan-pelan menjelaskan kenapa tidak boleh makan babi, minum sake, harus sholat. Pelan-pelan. Mereka bahkan harus lepas-pasang jilbab karena masyarakat dan orang perusahaan belum menerima. Mereka diam-diam membawa jilbab dan memakainya baru ketika sampai stasiun (luar asrama). Ini ‘jalan dakwah’ mereka. Orang bisa aja men-judge kok bisa sih lepas-pasang jilbab, emang mainan?? Tidak. Mereka sedang berjuang untuk itu (semoga). Doakan saja.
Lantas bagaimana yang punya kesempatan dan kemudahan tapi tak memanfaatkannya? Wah itu mah udah pilihan hidup masing-masing yak. Hehehe.

Begitu juga, dengan alasan berpuasa. Mereka menyebutnya karena alasan kesehatan.
Bayangkan gini, bulan ramadhan tahun ini berpuasa dari jam 2:30 ~ 19.10 (kurang lebih 16,5 jam-an dan pas musim panas). Di Korea 18 jam bok, summer juga.
Salah satu kasus: sahur jam 2 pagi (subuh 2:30), jam 7 mereka harus nyepeda naik gunung selama setengah jam (perusahaan ada di atas gunung) ***percayalah ini bikin haus…*** dan bekerja dari jam 8:00 sampai jam 18:00 dengan mesin-mesin besar yang kalau hilang konsentrasi bisa jadi nyawa taruhannya. Karena itu, kadang mereka berpuasa saat libur.
Gak semua begitu sih, ada juga yang dengan izin perusahaan diperbolehkan berpuasa. Rejeki sih ya.
Itu hanya secuil cerita dari mereka.

Karena itulah, menurut saya orang yang bisa menjalankan ibadah dengan ‘tanpa resiko’ adalah rejeki yang sangat harus disyukuri. Kalau cuma digosipin orang di belakang mah bukan resiko itu. (Kalau ditusuk dari belakang, apalagi ma temen sendiri, itu baru resiko. Ngomong apa seh?!!) Mungkin amalan ibadah tanpa resiko yang bisa dilakukan di Jepang saat bulan puasa adalah … mengaji tadarus Alqur’an dan mendengarkan pengajian di yutub… wallohu alam…

Pokoknya,
nikmat menjalankan syariat dan beribadah di negeri perantauan dengan ‘mbaper’ itu memang benar-benar kereeen.
Saya yang selama 29 tahun belum pernah berpisah dari suasana ramadhan di kampung akan memulai petualangan berpuasa pertama di ramadhan tahun ini. Maka, segala iklan marjan beserta teman-teman sirupnya dan kue kong guan beserta jajarannya hanyalah khayalan indah semata. Bukber dan jajanan ngabuburit itu hanyalah mimpi di siang bolong yang berharap segera bedug.

Percayalah, semua ini rejeki. Alloh SWT tidak pernah salah mengatur rejeki kita. Semoga kita semua bisa istiqomah. Menetapi Islam sebagai jalan hidup kita. Aamiin.

Salam rindu untuk adzan masjid sebelah ❤❤❤ Semoga kita bisa berkumpul lagi dalam keadaan yang lebih baik. Aamiin.

image

Dewi
(Saya bukan anti-pacaran tapi bukan juga pro-pacaran. Segeralah menikah, secepatnya kalau sudah siap!!!) ****gak nyambung yoben

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s