PATH vs INSTAGRAM

Seandainya hidup ini seselo mantengin layar hape, ngetouch sana-sini trus dapet duit dan tugas kelar. 

Atau sebenarnya akunya aja yang lebay yang gampang terpengaruh dengan magnet smartphone dan berbagai aplikasinya sehingga sering banget mantengin benda itu kemudian merasa ‘tak berguna’??

Ya, mungkin aku yang lebay. Anggep saja begitu.

Path.
Aku pernah punya path. Dan dengan arogansiku, dulu paling gak sehari minimal 3x nyetatus (dll). Itu baru minimal coba, bisa lebih.
Belum lagi, nyari bahan untuk diupload. Paling gampang sih ya foto. Dikit-dikit cekrek. Dipoles dikit, upload.
Check-in. Terkadang bagian ini yang kubikin buat nunjukin ke orang-orang kalau aku sedang di sini, melakukan ini. Padahal orang juga mana peduli. Hahaha.
Dan lama-lama aku bosen maenan path. Karena aku merasa semakin ‘lebay’ menjalankan path, kuhapuslah akun pathku.
Ada bedanya, tentu saja. Aku gak bisa ngepo-in temen ma sodaraku. Hahaha.
Bukan, bukan itu. Aku lebih banyak bisa melakukan hal lain. Sebegitunya kah? Gak juga sih sebenarnya, gak sedrastis itu bedanya. Tapi paling gak, aku gak terlalu terobsesi dan berlebihan ma path. Hahaha.
😘😘😘😘😘😘😘😘

Instagram
image

Aku punya instagram juga loh. Kebetulan instagram ini cuma bisa upload foto ma video, memang gak sekomplit path (atau bisa yang lain juga ya, gak ngerti juga).
Dari instagram juga, orang bisa jualan. Aku pernah nyoba jualan jilbab, cuma mungkin belum terlalu telaten jadinya belum kelihatan hasilnya.
Aku lebih nyaman pakai instagram, meskipun sebenarnya gak asyik2 amat sih. Cuma, dari instagram aku bisa ngepoin artis2 hahaha. Atau temen dan sodara tanpa ketahuan (eh ketahuan gak ya). Tapi kalau akunnya diprivasi ya harus ngirim ‘izin kepo’ dulu. Karena aku gak mau dikepoin, akunku kubikin privat.
Ya, bukan buat jualan juga sih. Kebetulan dulu apa2 yang jadi aktivitasku kuupload, lama-lama merasa lebay, ‘gagal dan tak berguna’, akhirnya kuhapuslah foto2 itu dan sekarang seringnya upload foto yang lebih umum. Ya, umum di sini biasanya buat upload buku-buku karyaku.
Oh iya aku lupa, aku penulis loh. Hahaha. Jadi, salah satu alasan kenapa aku masih bertahan pakai instagram ya karena pengen eksis aja. Wkwkwkwk eksis apaan coba.
Satu lagi akun instagramku, untuk foto-foto yang lebih privasi karena memang ditujukan untuk keluarga saja. Seperti sodara dan teman dekat yang pengen tahu kegiatan Kenta selama di perantauan. Ya, kira-kira begitu.

Sejauh ini,
instagram masih kurasakan manfaatnya (meskipun tidak seberapa). Kalau nanti sudah terasa lebih banyak mudharatnya, siap2 kuhapus juga. (Emang bisa dihapus???) Ya paling tidak diuninstall aplikasinya. 
Untuk path, sedari awal kubikin (dulu), tujuannya sudah tidak baik (yakni: kepo dan pamer), jadinya yang kurasakan cuma yang tidak baik terus. 
So, i will Say no to path (ini ngomongnya sekarang, bisa jadi besok pagi nginstall aplikasinya lagi, hadeeeh. Lebay mah aku ini.) Tapi sepertinya memang gak akan ngepath lagi.

Sekian.
2016.4.29

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s