Me vs Animate (Lashinbang)

Jadi, beberapa dekade lalu, saya berkesempatan pergi ke Namba dan mencoba peruntungan berburu anime goods di sekitaran sana. Secara animate-nya Nara itu kecil dan barangnya gak lengkap, saya penasaran ma yang lebih besar dan lengkap.

Dari Nara ke Namba, sekitar 40 menit dengan kereta kintetsu, 560 yen. Lalu, dari stasiun Osaka Namba, ke Animate Nipponbashi juga lumayan memakan waktu. 15-20 menitan lah jalan kaki, pakai nyasar soalnya, hahaha, tapi karena ada teman ya jadinya gak terasa juga, sih. Pokoknya setelah Namba Walk, bakal terlihat daerah yang banyak toko anime, di sekitar itulah sang Animate itu berada.

image

((((Ini nih salah satu toko anime yang besar dan terletak di pinggir jalan besar. Warnanya yang mencolok membuat orang ingin memasukinya. Goodsnya juga happening alias terupdate, mulai dari strap, kaos, figur action, kostum, sampai guling dan bantal. Karakternya juga terbaru dan terupdate. Joss gandoss pokmen. Harganya jangan tanya. Rubber strap aja sebiji 1280 yen. Seratus ribu rupiah cuma buat gantungan hape. Hiks nangis bombay.))))

Toko Anime di Jepang

image

image

image

image

image

image

image

Yep yep, toko-toko di atas adalah toko yang menjual anime, game, dll. Ada banyak sebenarnya anime yang sedang ngetrend, semacam 文豪 strays dog, 刀剣乱舞, 黒子のバスケット, うたプリンス, Fate, Free, dll lah pokoknya begituan. Maaf kalau salah penulisan. Banyak dan bermacam-macam. Mulai dari yang genre (bukan genre kali ya istilahnya) BL sampai yang biasa. Ada semua pokoknya. Saya kurang paham sih ya, hahaha. Saya dulu pernah diberitahu kohai yang pertukaran pelajar selama setahun di kampus saya tentang dunia anime, hanya saja saya masih tetap saja belum paham dan dia sudah kembali ke tanah air.

ANIMATE dan LASHINBANG
Lalu…

image

Sampailah saya di Animate termegah di Osaka. Dari tinggi bangunannya aja udah bikin males masuk. Hahaha tapi saya excited banget, penasaran tingkat dewa. Berharap ada barang ‘miring’ yang bisa dibawa pulang.

Ternyata….
Harganya sama aja seperti yang di Nara. Yak iyalah ya, kan satu toko, Buk. Bedanya cuma di stoknya yang lengkaaaaap banget. Hahaha.
Karena saya gak begitu paham, ya sudah cuma lihat-lihat doang, mencoba menikmati (meskipun hati gak bisa berbohong gak bisa menikmati juga) hingga akhirnya saya masuk ke lashinbang di dalam Gedung Animate. Apa itu?

image

Nah ini dia らしんばん alias Lashinbang…
Di dalam gedung animate juga ada lashinbang-nya sih, cuma ini berbeda. Bedanya cuma di bagian jenis barangnya yang dijual. Lebih banyak figur actionnya macam Miku, Dragon ball, dll.

Jadi, lashinbang alias らしんばん adalah sebuah ‘toko’ yang menjual goods anime yang secondhand. Jenisnya ada banyaaaaak banget, pokoknya yang dijual di animate ada semua. Contohnya? Komik, CD, goods, figure action, klo novel/drama punya fan-fiction –> anime/manga juga punya “fan-art”-nya dan itu mahal hiks, kartu apalah itu (gak ngerti cara mainnya), dll. Nah selain ‘beli’, kita bisa jual barang kita. Entah dihargai berapa, saya kurang tahu. Jadi, Lashinbang adalah toko sekenannya anime goods, kalau bookoff kan toko sekennya buku, kalau hardoff/secondstreet/jumblestore kan toko sekennya barang kebutuhan sehari-hari (kecuali buku), dll.

Oh iya, tolong garis bawahi ya, secondhand-nya Jepang itu berbeda karena kualitasnya masih terjaga. Ada yang masih baru tapi stok dan model lama, ada yang memang bekas punya orang. Tenang aja, kalau bekas punya orang biasanya ditulis 中古 (chuuko) kok. Berarti selain itu yaaa hitungannya masih baru. Ya nggak?

Wah kalau secondhand berarti MURAH dong????!!!!
Situ polos banget mikirnya, sama kayak guwa, hingga akhirnya terkaget dan bengong begitu masuk ke らしんばん ini. Yaa karena ternyata….

SAMA AJA mahalnya, hahahaha. Garis bawahi lagi ya, tidak ada goods anime itu murah, kecuali jelek.
Jelek di sini maksudnya jelek tokoh karakternya, semacam tokoh karakter figuran gitu. Hahaha, biasanya dijual murah. Kalau tokoh utamanya yaa pasti mahal lah meskipun udah barang bekas sekalipun.

Coba tebak harganya ini berapa?

image

Kalau yang ini???

image

Jawabannya….
Begituan sebiji 800 yen. Hahahahahahahaha. Gak lucu.
Menurut saya, itu mahal sangat.
Sekali lagi, barang segitu hitungannya masih murah dibanding barunya. Itu secondhand lho ya, tapi masih baru lho ya. 未使用, kalau kata orang Jepang. Belum (pernah) dipakai.

Ini nih lashinbang.
(Maaf harusnya ada videonya, tapi udah dicompress dan agak jelek aja masih tetep sulit diupload. Hiks)
-----------------
Jadi, sebenarnya, らしんばん itu mahaaal. Hiks.

Pokoknya, tidak ada kata MURAH untuk anime goods. Plis deh. Industri anime itu sendiri sebenarnya adalah industri kreativitas yang dibalut dengan marketing yang bagus. Komersil jadinya. Kalian tahu soal komiket hahaha, comic market maksudnya. Itu apalagi, sama gilanya dan kerennya. Berapa juta orang yang masuk ke event tahunan itu? Berapa duit transaksinya? Mangafest UGM aja banyak peminatnya, kan? Saya kurang tahu sih karena belum pernah ke sana soalnya. Hehehe. Tapi denger-denger event bagus ya? Hehehe

PASSION dan “OTAKU”
Apa ya, dalam perjalanan itu, saya menyadari bahwa saya tidak tahu banyak tentang dunia anime. Saya hanya sadar, anime dan otaku itu bisa menggerakkan dunia bisnis dan menjanjikan. Syaratnya ya ada orang yang butuh dan mau beli. Hahahaha.

Kata salah seorang teman perempuan saya yang umurnya 11 tahun lebih muda dari saya, “fangirling itu tidak mengenal usia”, ketika saya bilang ‘saya udah emak-emak tidak tahu begituan’. Sebenarnya ketika bilang emak-emak itu saya ingin menekankan bagian ‘daripada buat fangirling-an, duitnya bisa buat anaknya’. Ee ternyata anaknya suka anime dan otaku juga, lha dalah. Sami mawon.
Hanya saja, mungkin memang ada kali ya anime fangirl yg udah menikah dan punya anak. Apa ya rela kalau figur actionnya dipegang2 anaknya, dirusak, dijatuhin? Ah gak segitunya juga kali ya, anak kan bisa dikasih tahu itu apa?

Atau BL anime/manga fangirl? Kalau yang ini saya agak gak habis pikir. Tapi saya pernah lihat di bookoff kok Tante-tante yang membaca komik BL. Uhmmm….
Ah tapi kan komik/manga itu soal ‘art’ ya? Gak cuma yang BL, yang oppai-nya di mana-mana juga banyak di Animate. Tetap saja ya, bagian ‘art’ yang mana yang disebut ‘art’? Entalah. No offense ya, dear. Hanya saja saya selalu berpikir: sama halnya dengan miras dan narkoba, melihat gambar2/video yg ada unsur ero atau apanya itulah, termasuk ‘candu’. Ada sih, kata teman, gak semua BL itu ada ‘adegan’ begituannya, kalaupun ada cuma sedikit dan ‘soft’. Tetap saja…….

Me?????
Saya mungkin cuma iri sama orang yang bisa menyukai sesuatu sampai ‘suka sangat dan sebegitunya’. Saya belum pernah begitu, kayanya. Suka sih suka, tapi gak sebegitunya. Aneh gak sih saya?
Saya suka gundam (gak nonton animenya tapi), kamen rider (tapi gak hafal siapa aja juga), pernah suka SLAMDUNK (tapi sekarang juga udah lupa), suka dunia notes dan teman-temannya (tapi gak sebegitunya juga beli2nya, hobonichi gak kebeli, stiker dan selotipnya nyari di daiso, hahaha), dst. Suami sih suka bola (nonton sepak bola dan jerseynya), bisa sih dia. Nghabisin duit padahal. Ahaaa apa karena saya pelit ya? Hahaha.

Yup, tepat sekali, saya pelit karena tidak ada budget buat begituan, hahaha. Saya selalu bilang ke anak muda agar selalu mengejar passion mereka, tapi kayanya gak deh kalau untuk ‘ng-otaku’, terlebih ng-otaku anime. Eh tapi kan bisa dijual lagi?! Bisa jadi semacam investasi gtu, kan? Lagian, kalau saya adalah ‘horang kayah’, saya mungkin jadi fangirl atau malah otaku terhadap sesuatu, semacam oppa-oppa fangirl, pengoleksi aksesoris (tas/perhiasan) branded, atau yang lainnya. Hahaha.

Ah saya juga suka ding beli buku dan novel, meskipun gak dan belum dibaca. Hahaha. Mungkin ‘hobi’ saya ke buku ya. Entahlah….

Kesimpulannya…
Fangirling itu keren, menurut saya. Saya salut ma mereka yang ngefans berat terhadap sesuatu. Doakan saya agar saya menemukan ‘passion’ saya yang sebenarnya. Hahaha. Suka itu boleh, tapi jangan kebangetan ya. Kalau duit sendiri, terserah juga sih.

Buat animate, lashinbang, atau comic market, dan teman-temannya, kalian LUAR BIASAAAAA (gaya Ariel Peterpan).
Udah gitu aja.

Sekian.
Nara, 2018.1.10
Dewi

Advertisements

Ngetrip ke Korea Selatan Part II (pengennya)

Baru juga ‘pengen’, brader, jangan dibully. Hehehe.

Ada yang masih pengen ngetrip ke Korea Selatan tahun ini? Atau Jepang? Untuk melihat bunga Sakura di musim semi tahun 2018?

Kalau saya, musim apapun, pokoknya pengen aja deh ke Korea Selatan. Kalau ada musim ‘oppa-oppa berterbangan di jalanan Korea’, saya mau banget ke sana pas musim itu. Mau nangkap satu atau dua, dibawa pulang, dijual. Kali aja laku. Hahaha sadar umur, Dew. Justru saya sadar diri dan pengen tahu banget kalau ‘oppa juga manusia’ yang suka makan bakwan –> chijimi. Aish ngomong apa seh. Intinya gitu, masih pengen ke Korea Selatan.

Jadi, lanjutan dari postingan sebelumnya yang tentang rencana dan keinginan ngetrip ke Korea Selatan dari Jepang, kali ini mau sedikit bagi info kalau ngetrip dari Indonesia.

Masih berselancar di dunia maya dan nemu paket tour gitu di Instagram trus saya skrinsyut, lalu saya share di sini ya buat gambaran.

Nih, beberapa paketnya. Dimulai dari mana ya enaknya? Yang include tiket pesawat kali ya?

image

Ini udah lengkap ya, kecuali lunch dan dinner. 6 hari 5 malam itu lumayan lama ya. Karena udah ada tour leader, jadi tahunya bersih. Udah gitu GARUDA, bagasi 46 kg siap borong-borong oppa deh pokoknya. Itinerary-nya tidak dicantumkan di gambar.

image

Kalau ini karena paket ski, jadinya 12 juta belum termasuk sewa peralatan ski. Itinerarynya belum tercantum. Silakan lihat sendiri ya keterangan lengkapnya dan tanya si empunya akun IG.

image

Wah kalau yang ini menawarkan paket Gangnam hehehe. Sudah lengkap kalau ini, visa tiket hotel transportasi, dll. Keterangan lebih lanjut silakan tanya ke empunya akun instagram.

Kalau yang ini belum termasuk tiket pesawatnya ya. Saya kurang tahu kalau plus tiket pesawat jadinya berapa. Silakan kontak si empunya IG ya. Itinerary-nya bikin ngiler ya. Hehehe.

image

Nami Island.

image

DDP apaan ya?
Exclude-nya lumayan banyak ya. Kira-kira excludenya habis berapa ya? Kalau kalian ikut penasaran, silakan tanya si empunya akun IG ya. Ntar kalau udah tanya, saya dibisikin.

image

Yang ini masih lama sih. Plan musim gugurnya keren banget tapi. Kalau ada yg mau ke sana mungkin enak juga pas musim gugur. Ada festival Lentera lho hehehe.

image

Ini itinerary-nya keren juga tapi belum termasuk tiket pesawat, dll. Hiks.

Dan lain-lain ya, kalau mau nyari yang lebih murah mungkin ada kali ya. Silakan berselancar sendiri ke dunia maya. Di Instagram bisa pakai hastag jalanjalankekorea, dll pasti langsung nemu infonya. Gutlak, brader.

Alternatif Lain?
Yaaa mungkin ngetrip bareng teman-teman nunggu tiket promo. Pernah dengar dari teman yang hobi traveling, ke Jepang PP cuma sekitar 2,5 juta. Geelaaaaak, murah binggo. Mungkin yang ke Korea Selatan juga ada yang segitu. Cuma ya harus sabaaaar. Kan mau murah. Sama kok, di Jepang juga bisa dapat tiket promo PP cuma sejuta rupiah-an ke Korea Selatan, cuma ya nunggunya gak tahu sampai kapan. Harus sabar, sampai jenggotan. Hiks. Lebay ya.

Masih pengen ke Korea Selatan?
Saya sih yess, tapi sabar dulu ya. Kalau belum punya itinerary yang oke punya, jangan pergi dulu. Duit juga, ini mah yang utama. Kalau punya kartu kredit dan berani makai sih aman ya, tinggal ngutang ke ‘kartu kredit’ bayar belakangan. Hehehe. Saya punya tapi gak berani makai. Eh belum berani aja sih.

Apalagi ya?
Oh iya, saya bagi info ini cuma karena beberapa hari ini teringat ‘rencana’ pengen ke Korea Selatan aja kok. Bukan spoiler, bukan mengen2in juga. Cuma pengen berbagi info aja. Karena gak bisa bagi duit, ya udah bagi info saja. Lagian dari kemarin cuma pengen-pengen mulu, gak jelas deh.

Nanti deh kalau udah dapat penghasilan dari baito dan nabung, suami ikhlas ngizinin, cuzzzz berangkat. Bismillah.

Oh iya lagi, 1 yen itu sekitar 10 won. Dan 1 won sekitar 10 rupiah. Hehehe. Ya siapa tahu ada yang butuh info itu.

Selamat bermimpi indah, teman-teman.
Oyasuminasai.
2018.1.9

Hemat Boleh, Pelit Jangan: Manajemen Duit Ala Gue

Saya pernah mosting status di FB berkenaan dengan tema ini.

image

‘Hemat boleh pelit jangan’ bakal menjadi prinsip hidup kami selama perantauan di Jepang dan sekembalinya nanti ke Indonesia.

Perlu diketahui, Jepang itu mahal tapi ‘nyari duitnya’ gampang. Maksudnya, gajinya besar. Cuma baito aja gajinya bisa lumayan. Iya, kalau dibandingin dengan gaji Indonesia. Namun, gaji besar pun pengeluaran juga besar. Uhmm, seberapapun gajinya, yang penting bisa nabung kan?

Filosofi Menabung
Lantas, saya mau tanya, kalau bisa nabung, uang tabungannya mau buat apa? Dipakai lagi juga, kan? Hehehe. Buat piknik dan jalan-jalan, misal. Habis. Nyari lagi, kan?

Oh iya, saya pernah baito dan dapat upah sampai 100.000 yen (upah beberapa bulan lho ya, bukan per bulannya segitu). Uang itu sekarang sudah tidak ada karena saya pakai untuk kebutuhan kuliah dan penelitian saya. Saya butuh mencari data tesis dengan pergi ke prefektur lain dan transportasinya mahal sangat. Meskipun cari tiket paketan murah miring sekalipun, tetap saja transportasi itu mahal di Jepang. Kalau soal tempat tidur, Alhamdulillah selalu bisa menumpang tempat teman-teman yang baik. Hiks. Nah, uang baito itu dulu saya tabung, fungsi dan tujuannya yaa untuk begituan, hahaha. Habis, cari lagi. Cuma kebetulan, saya sedang tidak baito dan pengen lagi sih baito. Semoga dapat ya dan bisa nabung lagi. Minimal bisa buat jalan-jalan ke Korea Selatan, hehehe.

Nah, setuju gak sih kalau tabungan itu ditarget? Misal nih, saya pulang harus bawa 80 atau 100 man yen (1.000.000 yen), gitu? Saya setuju sih, buat yang single, terutama. Hahaha. Karena single, pengeluarannya jelas. Hanya saja, jangan terlalu muluk dan maksa karena bisa pelit jadinya. Hahaha.

Anggap saja pemasukan per bulanmu 150.000 yen.
1. Buat kebutuhan hidup (apato, gas, listrik, air, hape, asuransi) 50.000 – 70.000 yen –> tergantung tinggal di mana sih ya –> bisa lebih murah
2. Makan 25.000 yen
3. Kebutuhan selain makan 10.000 yen (macam sabun dll)
4. Sisanya? Ditabung?
5. Kalau saya, dari sisa 45.000 yen itu saya ambil 10.000 – 15.000 yen untuk kebutuhan rohani ‘me’. Uang itu saya khususkan untuk memajukan diri saya sendiri. Kalau misal pengen beli kamera DSLR 70.000 yen, ya berarti 7 bulan kemudian baru beli. Beli buku dan kebutuhan lainnya. Hahaha.
6. Nah, sisa 30.000 yen-nya buat apa? Buat masa depan? Semacam buat beli tiket pesawat pulang, biaya nikah, bikin usaha atau investasi.

Uang tabungan kalau dipakai dan habis, ya sudah. Jangan nangis!
Bisa cari lagi.
Hanya saja, sebisa mungkin uang tabungan itu digunakan sebaik mungkin dan dicarikan berkahnya, jangan buat foya-foya yang ujung uangnya tidak tahu ke mana. Hehe.

Itu untuk single dan mahasiswa sih ya. Kalau double atau triple macam saya mah beda lagi. Bisa nabung aja syukur Alhamdulillah. Berapapun jumlahnya. Tidak menentu juga. Hehehe. Penasaran manajemen duit ala gue?

Manajemen Duit Ala Gue
Saya paling tidak bisa hemat di makan, apalagi punya anak BALITA yang harus diperhatikan gizi dan kesehatannya. Tubuh kita adalah aset. Kita kerja untuk dapat duit dan kita cuma bisa dapat duit kalau kita sehat dan bisa kerja. Ya nggak?

Masa iya sih kalau makan aja pelit?
Bukankah makanan itu masuk ke dalam tubuh kita dan sehat tidaknya tubuh kita, selain rohani tentu saja, membutuhkan asupan gizi yang seimbang. Makanan mahal pun belum tentu bergizi, kan? Makanan enak juga belum tentu bergizi, kan? Katanya.
Nah, sekedar cerita, minggu ini saya belanja ke Gyomu Suupaa 2x dan habis 9000 yen. Buat beli beras 10 kg sih. Hahaha. Daging ayam 4 kg. Nugget ayam. Ikan. Sosis ayam. Yaa pokoknya persediaan kulkas hehehe. Cemilan kentangnya juga banyaaaaak. Mochi. Donat. Roti.

Oh iya, manajemen uang ala gue?
Hahaha, sebagai triple dan cuma mengandalkan uang beasiswa per bulannya, saya akan bagi dikit ya.

1. Habiskan di pos utama (asrama, gas, listrik, air, hape, internet, asuransi bertiga, SPP TK Kenta, uang iuran PTA). Ini juga musim dingin, semuanya serba membengkak. Listrik bengkak, air bengkak, gas juga bengkak. Badan juga ikutan bengkak, ahaha ini mah dari dulu udah melar bengkak.
2. Makan 40.000 – 50.000 yen. Kadang kurang, kadang lebih. Musim dingin begini, borossss dah, melar melaar.
3. Kebutuhan selain makan 5.000 – 10.000 yen, semacam beli kotak bento, peralatan bersih-bersih, sabun cuci, dll. Sabun cuci piring saya borosss banget. Hahaha.
4. Kebutuhan rohani (love myself): gak menentu. Saya sekarang jarang banget beli baju, kalaupun iya beli chuuko karena jelas gak bakal mau saya bawa semuanya pulang ke Indonesia. Baju luar sih ya, kalau pakaian dalam mah wajib baru. Macam coat musim dingin, mungkin kalau dipakai di Indonesia bisa diketawain ayam tetangga. Sekarang boros ke buku, ke persiapan ‘barang-barang yang gak bakal ada di Indonesia’, ke persiapan pulang.
5. Kebutuhan anak-suami. Ini nih apalagi si Kenta udah mau SD dan kebutuhan masuk SD itu mahal. Meskipun nanti bakal gratis SPP dll, biaya awal masuknya lumayan banyak. Beli tas dan tetek bengek lainnya. Hiks.
6. Nabung.
Sedapatnya. Seikhlasnya. Sejujurnya. Saya tidak ada kewajiban kirim uang ke keluarga di Indonesia, sih. Cuma pernah kirim uang juga, pakai KYODAI. Uang buat nyicil hutang karena waktu awal di Jepang saya pinjam duit orang tua. Hiks.

Sedekah vs Pacaran Hemat
Oh iya, jangan lupa sedekah ya. Sedekah itu bisa diakumulasikan kok dan bentuknya bisa bermacam-macam. Kalau bisa sih ke keluarga dekat atau saudara yang membutuhkan.

Nah, kalau membelikan pacar sesuatu dan mbayarin pacar itu dianggap sedekah, setuju? Kalau saya sih kurang setuju.
Pertama, itu penuh motif terselubung, ada maunya. Usaha PDKT.
Kedua, pacar kita bukan ‘fakir miskin’, jadi kurang perlu disedekahin.
Ketiga, tanyalah dia kamu gapapa saya bayarin? Ada perempuan yang tidak suka dibayarin juga lho.
Keempat, itu bukan kewajiban, ya!!! Buat cewek, jangan ‘pelit-pelit’ amat (baca matre!). Pacar bukan tempat kamu bermanja-manja, dia masih punya kebutuhan juga, sama kaya kamu. Lha dia mau kok bayarin, situ ngiri ya.
Kelima, ingat ya pacaran itu bukan ‘jual jasa’. Cewek nemenin jalan, cowok senang maka dibayarin lah si doski.
Keenam, ingatlah kalau nanti putus. Jangan ada ‘hutang’ di antara kita.
Ketujuh, ya terserah aja deh.
Kedelapan, lama-lama emang gue pikirin hahaha.
Kesembilan, sesekali gapapa lah ya mbayarin – dibayarin.
Kesepuluh, cewek matre ke laut aje. Cowok ‘kere’ ke laut juga aje. Apa sih.
Untung, saya udah nikah. Alhamdulillah.
Tahu gak sih, kalau di Jepang, ada beberapa pasangan yang pacaran itu ‘selalu’ bayar sendiri-sendiri. Gak romantis? Aneh, kok gitu sih? Menurut saya, itu justru pacaran yang dewasa. Sama-sama mendukung satu sama lainnya. Makan siapa yang makan dan masuk ke perut siapa? Diri sendiri kan? Sudah sewajarnya bayar makanan sendiri kan? Ah tapi gak semua, kok, ada juga tukar hadiah, dll, jadi gak melulu sendiri-sendiri.

Kesimpulan
Intinya, seberapapun uang dan tabunganmu, mari sehatkan jiwa raga kita demi hidup yang lebih baik. Hidup-hidup elo sih terserah juga sebenarnya, duit-duit elo juga. Tetapi, sehat tidaknya badan kita cuma kita yang bisa merasakannya, bahkan ‘suami’ sekalipun tidak tahu rasanya, apalagi pacar bodo amat. Hahahaha.
1. Sehat, waras, dan bahagia itu WAJIB
2. Jangan suka mengharap dibayarin orang, kalau gak mampu gak usah jajan/main.
3. Menabunglah semampumu.
4. Prioritaskan kesehatan!
5. Jangan pelit ke diri sendiri ya. Nikmati selagi bisa.
6. Jangan boros!!!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Nara, 2018.1.8
Dewi

Ngetrip ke Korea Selatan (pengennya)

Halo lama tak jumpa ya. Hehehe. Semedi menempa ilmu dulu di gua yang dihuni oleh para dewa. Jadi, berhubung sedari dulu pengeeeen banget nyolo-traveling ke Korea Selatan, bulan ini saya habiskan kuota (yelah sini mah unlimited data internetnya keles) untuk browsing kisah perjalanan, itinerary, dll ke Korea Selatan.

Yang wajib banget perlu disiapkan sebelum ngetrip ya jelas visa, tiket pesawat, dan duit. Juga itinerary perjalanan. Hahaha. Ke Korea gak tahu mau ke mana dan ngapain? Ke laut aje.

1. Visa.
Kalau kata teman yang sudah ke sana, biaya visa sekitar 5000 yen dan bisa diapply di semacam konsulat jenderal Korea Selatan di Oosaka (kebetulan dekat Namba).

2. Tiket pesawat dan hotel.
Udah sedari dulu nyari tiket pesawat, belum dapat juga yang murah. Memang murahnya seberapa? Kata teman, kalau beruntung banget bisa dapat 10.000 yen PP (nunggunya lama, jarang ada, kalaupun ada bisa pesan beberapa bulan sebelumnya dan gak bisa dicancel hari H). Kalau dadakan, bisa dapat 30.000 yen. Soal bagasi, saya kurang tahu. Kalau peach, bayarnya gak perlu kartu kredit bisa, katanya. Kalau maskapai lain, mungkin kartu kredit ya. Kurang tahu juga.
Oh iya, itu PP dari Kansai ya hehehe. Kalau dari Indonesia, dengar2 klo pinter nyari tiket, bisa cuma 2,5 – 5 juta rupiah lho. Gelaaaaaaak. Keren ya. Kalau Garuda, standar 7 juta rupiah, katanya.
Untuk hotel dan penginapan, bisa cari lewat airbnb atau bookingdotcom sih, katanya. Tergantung juga tipe kamar yang dimaui kaya apa, hehehe. Kamar sendiri, bersama, hotel kapsul, dll. Kebanyakan bookingnya juga butuh kartu kredit. Ribet ya? Lumayan.

3. Duit.
Lagi-lagi karena lihat di blog2 yg berbagi kisah perjalanan ke Korea, ada yang cuma habis 3 juta rupiah selama 4 hari di Korea dan itu udah cukup bepergian ke tempat-tempat hits di Korea (termasuk Nami Island). Itu sudah termasuk makan, transportasi, penginapan, dan tiket masuk. Keren ya. Ngiler gilak.

Satu hal yang paling penting dari rencana ini adalah VISA. Hahaha. Bukan masalah harganya, kalau ada agen saya juga mau mah hahaha. Jepang mah sebisa mungkin ngurus sendiri. Persyaratan membuat visanya juga gak sulit sih tapi cukup makan waktu. Syaratnya juga uhmmm. Kalau pelajar (terutama dari negara Asia Tenggara) wajib menyertakan ‘surat keterangan sedang studi di sekolah/universitas tersebut’. Kalau pekerja? Saya kurang tahu. Sebisa mungkin bawa rekening koran juga, buat jaga-jaga.

Berikut, perkiraan uangnya. Kalau 4-5 hari di sana.
1. Tiket pesawat PP 30.000 yen (peach)
2. Visa 7.240 yen (visa 5000 yen + transport ke Konjen Korea 560 yen x 4 = 2240 yen, apply sendiri ambil juga harus sendiri)
3. Penginapan 10.000 yen (5 x @2000 yen)
4. Makan, transportasi, oleh-oleh (memang mau ngoleh-olehin siapa, kan masih di Jepang), shopping (palingan shopping facemask doang) 20.000 – 30.000 yen
5. Nara – KIX PP 3900 yen
Total ya sekitar 71.140 – 81.140 yen. Lha kok mahal.
Iya ya?
Hahaha eman-eman duite yak. Kok lebih mahal dibanding Indonesia – Korea. Tenaaang, itu kan harga mahalnya. Kalau bejo gak sampai 50.000 yen kok ke sana. Kalau bejo lho ya. Katanya.

Sekarang balik lagi, ditanya.
Ke Korea mau ngapain?
Jalan-jalan, mumpung dekat. Nyari data. Data apaan? Database nama oppa-oppa bwahahahha.

Sendirian?
Iya, InsyaAllah. Pengennya.

Kenapa Korea?
Ya karena dekat dan pengen ke sana dari dulu. Suami ngizinin. Lagian pakai uang hasil keringat sendiri kok, bukan nafkah suami. Hehe. Tenaang, kalau tanpa izin suami juga saya gak bakal ke sana. Suami diajakin gak mau. Halah cuma mau ketemu Bo Gum. Ya elah ngimpi kali bisa ketemu artis di jalan. Hahaha.

Kapan?
Gimana kalau minggu depan (belasan Januari)? Hahaha. Gak mungkin. Dua minggu lagi presentasi perkembangan tesis, minta diganyang apa?! Februari? Waduh. Maret? Nooo. April? Mei? Lama-lama udah balik ke Indonesia belum kesampaian ngorea. Hahaha.

Pengen ke mana aja?
Myeongdong (pengennya nginep di sekitaran sini aja, katanya dekat surga kosmetik), Dongdaemun, Palace itulah, Nami Island dan sekitarnya, Insadong, pakai hanbok, ke desa itulah, pokoknya itu. Kalau kuliner mah makan di konbini aja juga gapapa, gak terlalu pengen makan masakan Korea juga di sana. Fotonya aja boleh lah. Hahaha.

Udah gitu aja.
Jadi, mari niatkan kalau memang mau ke sana. Kalau gak ya sudah, duitnya buat bikin rujak cingur dan jajan ramen. Kalau jadi, nanti mosting lagi lah. Kalau gak jadi, ya sudah.

2018.1.7 23:02
Salam annyong,
DEWI

Sakura

Sakura
Tiap kali melihatmu, hati ini sakit, sebenarnya. Teringat akan hal-hal lalu yang perih penuh rasa takut menghadapi apa yang akan terjadi di depan nanti. Lalu, Tuhan datang memeluk hati yang rapuh dan galau ini. Dia mengingatkanku bahwa perjalanan ini harus dilalui sampai akhir menutup mati. Lalu, aku teringat kata-kata Ibuku kalau kita hanya menunggu waktu. Waktu sampai batas limit berakhir.

Sakura
Kau mekar tahun ini agak berbeda dari tahun kemarin. Tahun ini kau lebih lambat mekar dibanding setahun yang lalu di hari yang sama. Dingin cuaca ini juga mengingatkanku akan kenangan lama. Percayalah, Tuhan-lah yang akhirnya akan menemanimu sampai akhir nanti. Dia yang memberi luka sekaligus penawar yang mengobati luka itu. Tuhan memberikan cobaan sekaligus kejutan indah yang akan selalu ada di hidup ini. Kalau benar hidup ini hanya mampir minum, kenapa setiap dukanya begitu menyakitkan? Kenapa setiap sukanya membuat kita bisa melayang-layang? Bukankah kita hanya disuruh ‘minum’?

Sakura oh Sakura

image

Tahun ini cerah cuaca dengan langit birunya tapi kau malu-malu mekarnya. Setahun lalu, hujan dengan Sakura yang mekar dengan cantiknya. Kaulah saksi saat anak-suamiku menginjakkan kaki pertama kalinya di negeri ini. Sesak dada kalau ingat saat-saat itu. Hanya ingin lebih bersyukur. Terimakasih untuk Oonogumi-squad yang mau menampung kami kala itu. Di hari ini pula, 4 April, kami pertama kalinya pindah kos dan mencoba hidup merantau, jauh dari orang tua dan keluarga. Maka, rasa syukur inilah yang menjadi saksi atas keterbatasan kata dan tingkah ini.

Sakura
Tetaplah menjadi saksiku.
Saksi akan perjalanan ini.
Entah apa yang menghadang di depan nanti, semoga aku bisa melaluinya dengan baik, sebaik aku berusaha semampuku.
Semoga Tuhan masih mau merengkuhku dan mengingatkanku.

Nara, 4 April 2017
Hari yang cerah untuk jiwa yang redup

三月

この日には
泣いたまま続けなきゃ
手を繋がって目を見合わせたら
諦めちゃった、かな

人生誰よりも知らん
信じることか涙か驚かせることか
自分で決めなきゃ
もし続けたら色々
感動させるか泣かせるか
心配だった、かな

君のそばには良いことじゃないか
俺のそばには悪いことじゃないか

まずい思い出でも
泣ける日々でも
笑える瞬間でも
ダメな機会でも
一緒にいてくれて
良かった、かな

もう終わりって言わないで
もういやだってそのままで黙って
いつかまた会える日々を
新しいチャンスするかも
会えるって会える、かな

黙ったまま良い
笑ったまま良い
泣いたまま良い
動いたまま良い
かな

濃いコーヒーには恋を入れた
まずいが美味しく入れちゃった
幸せさあ心も胸も速く走れ
こんな心配さなかった、かな

ドアのベールならすな
壁で話し合って顔を隠して
目を見なく風邪で触らないで
いつか痛み感じない時には
きっと来るよ
電話番号教えても
怖い気持ちなかなかちゃうかな

デウィ

Keniscayaan

Buih-buih mulut itu kembali terdengar
Di antara lelahnya malam dan dinginnya tembok
Sayup angin sepoi menguasai
Hanya saja,
Suara parau itu semakin jelas

Bukan nenek lampir
Maupun gendruwo ijo
Wanita cantik dengan rambut terurai
Yang kata orang itu disebut kawaii

Busa-busa itu mulai terkumpul
Entah berapa kali pintu itu terbuka
Mungkin,
Bisa diibaratkan seperti layar kapal
Yang membiarkan angin menggerakkannya

Bukan, bukan angin
Ada nahkoda yang membuatnya laju

Seperti keniscayaan yang sering kupercayai
Bahwa terkadang kita hanya butuh kesendirian
Menyadari kita datang sendiri
Dan pergi pun sendiri

Tak perlu risa-u apalagi gala-u
Menunggu kesempatan itu datang
Waktu yang akan memanggil
Angin yang akan mengabari
Detak ini yang akan menghitung
Berapa sisa kita

Mungkin,
Diam memanglah emas
Emas berkilau yang menyejukkan
Menyadari batas-batas kita dalam percaya
Kemampuan sendiri dalam menata
Hati
Pikiran
Perbuatan

Tidak ada kuasa atas
Nista dusta kita

Kembalikanlah kepada sejuk-sejuk itu
Atas apa yang memerihkan jiwa
Mungkin,
Kita bukan jodoh
Untuk saling menambatkan rasa yang terperi
Rasa yang teriris
Yang entah kesekian kalinya membuat hati terluka

Angin tetaplah angin
Tanpa sejuk meski kita tiup
Bukan pula kuasa angin membuatnya sejuk
Lalu,
Apa kau tetap tak memilih?
Antara dingin dan panas?
Atau tak ada keinginan itu?

Biarkan kujalani sendiri
Tanpa perihnya kaki
Merahnya telinga
Sakitnya luka

Hanya karena,
Busa-busa dari ujung pintu itu
Yang karenanya,
Tak ada obat yang menyembuhkannya

Hati-hati dengan busa itu
Bisa mencuci apa saja
Harapan dan keyakinan

Langkah ke depan
Semoga lebih ringan tanpa buih-buih putih itu
Oh tidak gampang tentu saja

Izin itu tetap yang kumau
Tanpa harus luka
Duka
Maupun lara nestapa

Bergerak mundur
Dari harapan bersama
Batasku tak bisa
Menjemput batasmu

Kasta itu menghalalkan kita
Tetaplah ada menumpahkan lara
Sadar akan ada air mata
Di setiap hembusan nafas
Aroma peluh yang membatasi kita

Iya, tahu

Bantul, 2017.3.12 20:40
Dewi

(Selesai)

Serba-Serbi Penulis (Part II)

Mau tanya dong, hal apa yang paling menyenangkan dari menjadi penulis?
Selain ‘dapet duit’ yang bisa buat beli macem-macem sih, dapat juga pengalaman lahir batiniah sewaktu buku kita dibeli.

Maksudnya? 
Ya gitu deh. Ada juga testimoni/email pembaca, dan itu seru juga bacanya, meskipun kadang respon balas gue lamaaa.

Duit?
Iya, pas awal-awal gue nulis tuh ngetiknya pake komputer jadul yang dulu memang difungsikan untuk menulis skripsi. Alhamdulillah banget waktu itu Ibuk beliin komputer. Sekarang, komputernya dipakai kakak, atau di-tukar-tambah ya, karena saking jadulnya. Dan dulu sewaktu hamil Kenta, bisa betah ngetik di depan komputer demi dikejar deadline. Selang beberapa bulan setelah Kenta lahir, gue beli laptop Fujitsu hasil royalti gue. Perjuangan banget dah waktu itu. Oh iya, printer juga, mpe jebol-jebol setelah dipakai buat nyekripsi. Bener kata orang-orang, ngerjain skripsi itu adaaaa aja yang ngadat. Komputer lah, flashdisk lah, printer lah. Kalau udah begitu, tinggal berdoa deh.

Ada pengalaman lucu gak selama jadi penulis?
Ada banyak pengalaman sih sebenarnya, tapi gak lucu. Hahahha. Gue pernah liat dengan mata kepala sendiri, orang yang bawa fotokopian buku gue. Lha gile aje. Waktu itu gue cuma ketawa, nyengir, dan berdoa ‘Semoga ilmunya bermanfaat.’ dan kebetulan dia tidak tahu kalau penulis buku fotokopian yang dia pegang itu adalah gue. Tapi waktu itu mikirnya juga masa bodo deh dengan royalti dll, karena bisa jadi orang itu gak bisa membeli versi aselinya. Yak iyalah ya makanya fotokopi. Bisa jadi karena stok yang gak ada di manapun (baik toko buku offline maupun online), bisa jadi juga karena ‘belum’ ada duit. Nyesek sih ya waktu tahu buku itu difotokopi. Hehehe.

Rugi gak?
Waduh soal rugi, kurang tahu ya. Ya itu tadi, kalau semua orang bisa fotokopi, ngapain ada ‘buku’ dan ‘penerbit’? Ye kan? Menghargai kreativitas orang lah, karena sebagian dari uang penjualan buku itu royalti yang kan jadi hak penulis. Hehehe.

Oh gtu. Lainnya?
Pernah ada yang minta tanda tangan dan gue bilang ‘Udah kamu aja yang tandatangan, saya saksinya.’ Trus dia cuma bengong trus nyengenges. Hahahaha. Gue tanya, ‘Bukunya bermanfaat gak?’ “Lumayan, saya belajar otodidak pakai buku ini.”

Royalti itu begimane sih?
Royalti itu ‘bayaran’ buku kita. Hehe. Ribet sih kalau dijelasin tapi intinya di setiap harga buku yang tertulis ada ‘bagian’nya penulis. Hehehe. Jadi, kalau kita beli suatu buku itu sebenarnya kita membantu penulis tersebut mendapatkan ‘uang’. Soal berapa besarnya, masing-masing penerbit punya kebijakan dan ketentuan royalti masing-masing. Coba dicek di web-web penerbit deh, pasti ada. 
Ada juga ‘beli putus’, itu semacam ‘beli naskah’ gitu, jadinya gak dapat royalti setiap kali buku kita terjual. Enaknya yaa sekali nerima gedhe jumlahnya, gak enaknya buku kita terjual berapa juta eksemplar pun duit yang kita terima juga segitu. Kalau royalti, biasanya diterima per bulan, eh ini juga mungkin beda penerbit beda kebijakan. Itupun jumlahnya gak menentu karena tergantung buku kita yang terjual. Jangan lupa juga, bayar pajak! Kebetulan gue punya npwp juga, jadinya pajak dibayarin ke situ. Lumayan lah jadi warga negara yang baik. Semoga pajaknya tidak dikorupsi dan bermanfaat buat ‘kemajuan’ bangsa. 15% lho pajaknya, lumayan kan. Saya bangga bayar pajak! Tapi sayang juga kalau dikorupsi, hiks.

Bagaimana proses sampai nerbitin buku?
Beda-beda sih penerbit satu ma lainnya. Biasanya kita ngajuin tema/judul buku yang mau kita tulis trus nunggu di-acc gak. Nunggu ya nunggu. Bisa berbulan-bulan. Ada penerbit yang bilang akan memberi jawaban atas naskah yang kita kirim setelah 90 hari alias 3 bulan. Maklum, yang nulis naskah itu kan ya gak cuma ‘kita’. Ada banyak, mungkin ribuan (?). Dan butuh banyak waktu untuk membaca dan menyaring mana yang bagus/layak diterbitkan. Kalau di-acc ya lanjut nulisnya. 
Ada juga yang penerbitnya sendiri punya rencana mau nulis tentang suatu tema/judul, nah itu biasanya bisa juga langsung ditawarin ke penulisnya.
Oh iya, kalau masukin/ngirim naskah, jangan lupa lihat penerbit yang dituju itu fokus tema besar bukunya apa, semacam ‘jurusan’ bukunya apa aja. Jangan sampai masukin naskah bahasa Jepang ke penerbit yang dia memang fokusnya di buku masakan, dst.

Tertarik gak untuk nulis buku tentang Jepang, selain bahasa Jepang?
Tadinya tertarik, tapi kemarin sewaktu maen ke toko buku lihat beberapa buku yang isinya tentang ‘itu’. Jadinya, udahlah, belum rezeki. (*siap grak, mundur teratur)

Kan nulis di blog bisa?
Bisa sih, tapi takut ke-copypaste. Hahaha sok banget ya.

Suka novel gak?
Gak terlalu. Gue baperan orangnya mah. Gue punya perpus kecil kok, kalau 100 judul buku dan novel kayanya ada deh, tapi belum gue baca. Heeh.

Pernah bertemu penulis lain?
Pernah, Dr Purwadi, lulusan doctoral S3 Filsafat UGM yang secara gak sengaja ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon di bonbin minggu lalu. Gue punya ‘mantan’ murid juga yang jadi penulis fiksi best seller di Grasindo (?). Gue pengen nyebutin nama penanya tapi takutnya dikira sok kenal sok dekat hehehe. (Emang gue siapa, hiks)

Pernah nulis artikel di surat kabar/ majalah?
Dulu, surat kabar pernah tauk. Hehehe. Malu. Masih kesimpen kayanya artikel potongannya itu. Dan itu pendek kok, cuma semacam pendapat. Selain itu, gak ada. Hahaha.

Pernah punya pengalaman memalukan gak selama jadi penulis?
Apa ya…malu-nya itu karena menyadari kemampuan bahasa Jepang gue gak maju-maju padahal uda belajar sejak tahun 2004 sampai sekarang, uda nulis buku aja mpe 10 judul, dan diizinkan Gusti Alloh studi di Jepang hampir 1,5 tahun ini tapi NOL besar kemajuannya. Malu banget itu! Serius!

Emang seberapa besar sih target kamu bisa berbahasa Jepang?
Ya minimal N1, sisanya bisa nulis artikel dan jurnal berbahasa Jepang yang bagus.

N1?
Iya, level tertinggi kemampuan berbahasa Jepang. Konon katanya kalau kerja di perusahaan Jepang, gajinya bisa gedhe banget.

Ada hikmah gak dari jadi penulis ini?
Hikmah selain materi maksudnya? Uhmm… ya ada sih. Karena niat awalnya berbagi ‘ilmu’ dalam bentuk tulisan yang siapa tahu bisa membantu orang yang sedang belajar bahasa Jepang dan akhirnya terwujud itu rasanya ‘sesuatu’ banget. Tahu tiga perkara yang tidak akan putus meskipun kita mati kan: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak kepada orang tua? Nah itu, motivasi utama gue untuk menulis: BERBAGI (ilmu ?).

Perjalanan menuju ‘jadi penulis buku’?
Gue dulu suka bikin cerpen dan almarhumah adik gue suka. Semenjak dia tidak ada, gue males bikin begituan. Tetep sih lanjut nulis diary dan diary pas zaman SMA masih ada mpe sekarang. Gak pengen baca ulang sih karena takut baper dan kebawa kenangan lama yang ‘sebaiknya’ dilupain aja hahaha. Masa lalu biarlah masa lalu, bukak sithik joss…

Ee kok malah dangdutan?!
Hahaha. Itulah kenapa gue baperan ma cerita fiksi. Sukak kok tapi ya. Nyatanya tontonan gue drakor yang super duper imajinasinya mpe bikin baper berminggu-minggu. Hahaha. Kalau nulis non-fiksi kan gak bakal baper tuh. Bapernya tuh kalau tahu itu buku gue ada bagian yang ‘salah’ dan ternyata udah ‘terbit’. Jadi, kurang teliti pas editing akhir. Rasanya sedih banget dan baper, hiks. Eh tapi itu proses juga sih ya. Gue dulu pernah bikin tulisan pertama gue dan dikritik habis-habisan, abis itu gue nyadar kalau tulisan gue emang acakadut dan gak bermutu. Sedari itu gue belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD. Ya itu kan jadi aset kita ya sebagai warga negara Indonesia. Bahasa Indonesia itu keren, gue suka. Gampang sekaligus ribet. Hehehe. Malu bener kalau ejaan gue salah. Jadi kangen belajar bahasa Indonesia zaman SMP, gurunya galak tapi kegalakan itu yang buat gue nyadar kalau ‘bahasa itu penting’.
Bahasa juga mencerminkan kepribadian seseorang. Kalau hal kecil aja, macam awalan di- itu disambung atau dipisah aja ‘ngeuh’ dan paham berarti orang itu teliti dan menghargai sesuatu. Intinya gitu sih kalau menurut gue. Sebelum menulis, perbaiki dulu EYDnya. Kalau perkara menulis ‘tulisan dengan gaya gaul’ sih sebenarnya EYD gak saklek harus banget sih ya, tapi tetep kaidah-kaidah teknis itu harus diperhatikan. Nunjukin banget ceroboh dan gue gak suka baca tulisan yang belepotan salah teknisnya.
Macam gini nih: Kemarin saya pergi kepasar dengan orangtua. Disana saya di suruh membeli rambutan.
Ih gemesss lihat tulisan begitu. Sumpah. Serius.
Kalau bahasa sendiri paham dan ‘nurut’ alias manut sesuai kaidah ketata bahasaannya, bahasa lain Insyaallah juga akan menyusul. (Ngomong ma tembok)

Woi, ngomong ma aku?!
Hahahaha, makasih udah dengerin celotehan gue yang gak mutu dan sok tahu.

Ada benernya sih. Anak muda zaman sekarang kan luar biasa.
Gak usah ngomongin anak zaman sekarang deh. Lu sendiri ngerti gak yang bener zaman apa jaman? Gak ada jaman, menurut KBBI. Sama halnya rezeki. Gue aja kadang salah nulisnya rejeki. Malu tauk tapi gue harus belajar dari kesalahan. Jangan cuma ‘belagu dan gengsi’ yang digedhein. Hahaha. Catatan pribadi. Donlot itu aplikasi KBBI di playstore. Ee malah promosi.

Hahahahaha.
Gue juga nyadar gue masih sering bikin kesalahan dan tidak sempurna tapi mau kok belajar. Emak-emak yang masih suka dan mau banget belajar, apapun itu. Makanya, gue berterimakasih banget buat yang mau mengkritik gue. Itu tandanya dia sayang gue dan mau gue maju. Love you, my admirer. Lah?! Hahaha tapi jangan galak-galak yang kritiknya…apalagi pedesss..cabe mahal sekarang mah…

Menulis itu menyenangkan kah?
Menulis itu menyampaikan pendapat kita. Jadi, sebenarnya kita ‘berpolitik’ juga. Kalau ada yang bilang ‘gak suka politik’ itu sebenarnya yaa….gimana ya..gue sendiri sebenarnya gak suka politik macam di TV-TV itu…tapi ya gue nulis begini aje gue sebenarnya berpolitik kok…hahaha…memasukkan ide kita agar orang lain terpengaruh hehehe…

Rencana pengen nulis buku sampai berapa judul?
Pengennya sih setahun minimal satu judul. Tahun 2016 sudah nulis satu judul sih, dan target tahun 2017 ini pengen nulis satu judul aja juga. Ide sih ada tapi ‘belum mood’ untuk menuangkannya ke dalam kertas cinta kita dengan tinta rindu yang sangat menyayat ini. Aiiish dung-dung preeeet. Teot teblung. Tralalala trililili…

image

To be continued.
つづく

Serba-Serbi Penulis (Part I)

Denger-denger jadi penulis?
Iya, katanya penulis.

Emang penulis buku apa?
Buku penunjang pelajaran, khusus bahasa Jepang. Kamus.

Udah nulis berapa buku?
Ada 10. Yang di foto baru 9 sih, yang 1-nya ada di foto bawah.

image

image

Enak gak jadi penulis?
Enak.

Kenapa jadi penulis?
Sebenarnya sejak awal bukan cita-cita gue jadi penulis, setelah menerbitkan buku pertama jadi ketagihan untuk ‘berbagi ilmu’. Yaa meskipun hampir setiap kali nulis buku datang perasaan ‘gak percaya diri’ karena di luar sana banyak banget yang lebih jago bahasa Jepangnya. Cumaa, namanya ‘berbagi’ ya niatnya seberapapun milik kita dibagi dengan harapan semoga bisa bermanfaat buat orang lain. Khususnya, pembelajar bahasa Jepang yang jadi pembeli buku gue.

Saat ini sedang nulis buku gak?
Gak sih, sedang selo. Hehehe.

Berarti udah gak ada niatan bikin buku baru lagi?
Ada lah, ada aja ide yang berlalu-lalang, alhamdulillah masih diberi ide untuk nulis buku. Tapiiii ya itu, belum rezeki untuk berbagi, lagi. Lagipula setelah ditinggal studi di Jepang, hampir 1,5 tahun ini, gue gak ngerti soal dunia penerbitan & buku di Indonesia lagi. Mungkin lesu karena dunia digital yang semakin maju dan berkembang. Gue sih nyante aja, karena itu masalah rezeki aja. Rezeki berbagi, maksudnya.

Rezeki? Berarti soal duit?
Gak juga sih, karena rezeki itu bukan melulu soal duit. Hehehe.

Emang ada yang didapat selain duit?
Ada ya.

Apa aja misal?
Semisal ‘kepuasan dan kebahagiaan’ yang sebenarnya tidak bisa terukur dengan duit. Testimoni pembaca dan buku gue jadi salah satu sumber pustaka saat orang lain menulis karya ilmiah mereka. Uwaaa bahagia sangat itu. Apalagi mereka minta tandatangan saat ketemu penulis buku yang sedang mereka baca itu. Agak malu sih, kadang respon gue, “Ih kenapa kamu beli buku ini?” Hehehe. Penulis yang aneh ya.

Hahaha oh gitu.
Iya.

Merasa tersaingi gak ma penulis lain?
Alhamdulillah gak sama sekali. Sedih sih kadang, kalau sesama buku bahasa Jepang, hehe, tapi rezeki mah sudah ada Yang Mengatur. Yang namanya berbagi, orang lain kan juga boleh-boleh dan sah-sah aja berbagi ‘ilmu’. Jadinya, alhamdulillah gue santai dan enjoy-enjoy aja. Mungkin orang lain berbaginya lebih ‘afdol’, nah itu malah jadi penyemangat gue untuk lebih baik dalam berbagi.

Ada tips gak buat orang yang pengen jadi penulis?
Ada. Menulislah, untuk berbagi dan menunjukkan eksistensimu.

Kapan nih nulis lagi?
Lha ini nulis blog. Sedang males monolog, jadinya dialog mulu. Maklum gue kan AB, setengah diri jadi A setengah diri jadi B. Klop kan?

Hahaha. Bukunya kan non-fiksi, ada keinginan buat nulis buku fiksi gak?
Gue ini baperan kalau baca buku fiksi, novel, dll. Jadinya, kalau gue nulis fiksi takutnya malah baper sendiri. Gue udah punya JOKO-NAOMI, hanya saja belum sempet diupload2, malu benerrr karena saking alaynya. Ntar deh kapan2 gue upload di wattpad. Betewe, gue sekarang kalau baca cerita di wattpad, aplikasi ngehits yang kita bisa tahu pembaca karya kita ada berapa orang. Hehehe. Newbie sih jadinya yaaa…belum tahu juga…

Emang wattpad apaan?
Gugling aja sendiri. Yang jelas, lumayan dapat bacaan gratis.

Fiksi doang?
Kok kayanya iya ya. Kalau tumblr ma wordpress kan bebas ya mau nulis apaan, kalau wattpad lebih ke ‘cerita’ kali ya, sori, miskin info, maklum newbie. Hehehe.

Wuih, emak gaul nih?
Hahahaha sayang gue belum punya aja web pribadi masaridewichan.com hahaha. Emang mau buat apa? Toh masih kuper ilmu ‘begituan’.

Kapan balik Jepun?
Minggu depan. Hayai nee. Omiyage mou katta kara, anshindakedo. Chousa? Maa ne, buji ni ikeruyou. Iro-iro hanashi o kikasete kurete, yokatta. Omoshirokatta.

Udah maen ke mana aja?
Ada deh. Kepo ih.

Udah ke Gram*dia?
Udah dong, hari pertama malah. Buku gue ada di Sudirman. Di mall Malioboro gak ada satupun. Mungkin stock habis atau begimane gak ngerti.

Royalti masih dapat kah?
Alhamdulillah masih kok.

Pengen nulis lagi?
Insyaallah masih pengen. Moga 2017 bisa ngeluarin buku lagi. Siapa tahu bisa jadi masterpiece karya sendiri, hehehe.

Emang belum punya masterpiece?
Ada sih, dua buku ini kesayangan gue.

image

Yang lain gak disayang?
Bukan gitu, karena dua buku ini titik tolak gue menuju gue yang sekarang ini.

Ceileh. Bersejarah ye?
Lumayan.

Boleh cerita?
Uhmm…dikit aja ya tapi…itu buku putih itu pertama kali nulis buku. Sebelumnya kan bikin kamus. Bener-bener baru dengan ide dan gagasan baru. Trus sampingnya itu versi reborn dan lengkapnya. Hehehehe. Jadi, itu buku ungu itu yang versi lengkap. Lengkap dengan bunpou, kanji kana, kaiwa, dan soal latihan. Asyeek.

Kalau mau nulis buku lagi, mau nulis tentang apa?
Eits ra-ha-si-a ye. Tapiii kasih bocoran sikit ye, mungkin masih berhubungan ma bahasa Jepang.

Yaaa semua orang juga tahu.
Ya kali aja ada yang ngira gue mau nulis tentang Babad Tanah Jepang gitoh. Sejarah gitu. Atau nyastro? Gak deh.

Penerbitnya?
Sepuluh buku gue terbitan satu Penerbit sih, IndonesiaTera.

Di Jepang, buku banyak ye?
Iya lah.

Pernah ke toko bukunya?
Pernah.

Bedanya apa ma toko buku di Indonesia?
Toko buku yang mana dulu nih? Ada dua jenis toko buku di Jepang, toko buku baru ma toko buku bekas. Yang baru bukunya baru-baru, yang bekas bukunya bekas-bekas. Yak iyalah ya. Yang baru harganya sesuai yang tertera di cover bukunya. Kalau yang seken biasanya dijual di BookOff atau toko lain yang bekas, harganya biasanya gak sesuai covernya, lebih murah maksudnya.

Any comment?
Di Jepang gue masih ngeliat ada aja yang baca buku/novel di kereta sisanya sih maenan hape/gadget. Kalau Indonesia, jarang gue liat yang baca buku. Bukan berarti minat baca Orang Indonesia turun lho ya. Bisa jadi mereka baca di gadget mereka. Ya wallohu’alam.

To be continued…
つづく

(Dedew 2017.3.7)

Apa Kabar, Beb? (Part II)

Katanya lagi mudik?
Iya, kan udah gue bilang kemarin.

Sampai kapan?
Kapan-kapan. Kepo ih.

Ye kan nanya.
Mpe 14 Maret.

Oo, masih lama ya?
Gak juga, tinggal 240 jam lagi…

Udah beres urusannya?
Dari awal udah beres. Gue cari data udah dapat sebelum balik kok. Hehehe.

Maksudnya?
Ada lah.

Uda ketemu siapa aja?
Banyak.

Siapa?
Saudara. Temen. Kenalan.

Siapa lagi?
Kenangan lama yang sebaiknya dilupakan saja meskipun bikin baper. Hahaha.

Maksudnya?
Biasa, sambel SS. Pedesnya bikin teler kemarin. Tau sendiri kan Jepang gak ada cabe. Ee pesen sambel tempe di SS  pedesnya bikin perut langsung beradaptasi.

Oh gtu. Udah ke mana aja?
Ke hati lu.

Serius.
Mana ya? Ada deh.

Sombong.
Eh biasa aja keleus. Kalau gak mau jawab kan ya udah to?

Sibuk ngapain?
Maenan hape.

Data. Data.
Iya, gi ditulis.

Data apa sih?
Data penelitian.

Katanya Sensei datang dan lu nyambut gak?
Ada deh. Mau kepo aja lu.

Temenin gih, kasihan.
Udah ada penerjemahnya kok. Sante aja. Lagian Sensei mandiri, gak manja kayak gue.

Hari ini acaranya ngapain?
Biasa. Maen.

Hah, maen?
Iya, maenin perasaan dan otak gue buat mikir.

Gi mikirin apa nih?
Gue baper. Pengen reunian ma temen2 gue tapi kebanyakan sibuk. Kalau ketemu malam bisa-bisa aja sih tapi kasian capek.

Terus?
Ya, nanti lah, dihubungi lagi.

Katanya udah punya path?
Iya nih tapi jarang update. Sebenarnya gue itu cuma butuh tempat ‘nyampah’, sekarang udah ada wattpad, tumblr, hehehe maenan baru. Ngeblog juga bisa buat buat nyampah sih. Ayo lah masa gak tahu tulisan gue cuma sampah?!

Jangan bilang gitu.
Eh gue serius. Mana ada orang lain yang bikin percakapan gak jelas trus di-pos di blog. Eh tapi blog gue emang bukan buat serius-serius sih.

Kemarin kayanya bikin cerita di wattpad.
Iya nih, tapi alay. Jadinya daripada dituduh gue alay, gue alay-in aja sekalian. Posting trus diumpetin. Hahaha.

Ah kacau lu.
Iya nih, baru tahu.

Kemarin ke mana?
Jalan-jalan.

Cerita dong!
Jangan dong, ntar gue baper tauk. Hahaha (blushing).

Ngapain malu?
Gak, biasa aja. Cuman jalan ma anak-anak muda bikin jadi berasa muda euy. Anaknya juga baik-baik.

Oh gitu.
Iya. Jadi semacam pengen jelong-jelong mengeksplor tempat bagus. Kalau kata temen, ‘touring’. Kayak apa ya rasanya. Hehehe.

Pengen ke mana lagi?
Mangrove. Kali Biru. Candi-candian hahah emang permen. Cuman sayang kamera gue jelek. Sony Experia Z1 kameranya gak sebening iphone 7.

Yak ealah, iphone gituh.
Iya ya yang 6 aja udah bagus beudh. Hahaha.

Eh ada masalah gak selama mudik?
Gak sih, biasa aja. Biasanya ada masalah, maksudnya. Eh tapi masa hidup gak ada masalah sih? Monoton banget.

Eh lu belajar gak selama mudik?
Belajar dong, belajar mengerti keadaan. Belajar mengerti arti rindu bertepiskan cinta.

Ceileh.
Hahaha gue rindu suami.

Kenapa?
Gapapa, gi pengen gandengan ma cowok. Tapi masa ma Bapak Kakak gue, mereka udah ada yang punya. Pengen gue summon suami pake lilin biar segera dateng.

Emang goblin?
Hahaha iya nih. Kangen bener gue ma suami.

Balik ke Jepang kapan?
Kan tadi uda gue bilang, 15 pagi gue sampai sana.

Trus mau ngapain?
Ngapain ea. Paling ke perpus, mengolah data. Maen ma anak suami kebetulan anak udah mulai liburan sekolahnya mpe pertengahan April. Dokter gigi anak. Nyari baito lagi. Ma mengabadikan Sakura sembari telusur jejak ke apato lama.

Sakura ya?
Iya, sayang kamera gue jelek.

Gapapa.
Iya, gapapa, kata lu kan, bukan gue. Papa lah.

Pengen nyari kamera?
Iya nih. Tapi belum ada dana. Dana keistimewaan membeli kamera baru. Eh udahan ya. Gue mau mandi.

Mandi?
Iya, mandi. Bye.

Yaudah sana.
Eh tapi masih antri.

Emang kos-an?
Iya emang gue cuma ngekos di rumah orang tua.

Oh gtu.
Iya nih.

Katanya pengen nyari baito?
Buat suami, bukan gue. Gue mah udah cukup.

Kan dapat beasiswa ya?
Iya, Alhamdulillah. Cukup aja Alhamdulillah.

Beasiswa gitu dapat tunjangan keluarga gak?
Beasiswa gue kebetulan gak. Jadi dapatnya segitu, mau single mau bawa keluarga.

Oh gtu, enak dong yang single.
Mungkin ya, gue gak ngerti. Tapi orang bayanginnya kan enak ya. Hahaha.

Beasiswa. Single. Baito. Tetep digaji di Indonesia.
Iya ya, sempurna. Bisa lebih banyak bersedekah. Mengeksplorasi diri dan cari banyak pengalaman, mumpung single. Heeh.

Baper?
Gak lah. Gue udah hepiiiiiii banget ada anak suami. Asal ada mereka, udah cukup. Makan secukupnya. Eh makan di Jogja, enakan makan di lesehan ya daripada di resto2 mewah menu western.

Oh gtu.
Iya. Eh udah. Cabs dulu ye.